Kuwait Mendekat ke Iran, Apa Sekutu-sekutu Strategis Saudi Mulai Kecewa ?
https://parstoday.ir/id/news/iran-i18241-kuwait_mendekat_ke_iran_apa_sekutu_sekutu_strategis_saudi_mulai_kecewa
Ketua Parlemen Kuwait baru-baru ini mendesak perluasan hubungan bilateral negaranya dengan Republik Islam Iran.
(last modified 2026-04-28T13:34:36+00:00 )
Aug 20, 2016 11:41 Asia/Jakarta
  • Marzouq Ali Al Ghanim, Ketua Parlemen Kuwait
    Marzouq Ali Al Ghanim, Ketua Parlemen Kuwait

Ketua Parlemen Kuwait baru-baru ini mendesak perluasan hubungan bilateral negaranya dengan Republik Islam Iran.

Berita ini terdengar janggal di tengah upaya menciptakan atmosfir palsu dan penyebaran isu Iranphobia yang sedang gencar-gencarnya dilakukan Arab Saudi. Meski sebelumnya statemen-statemen semacam ini disampaikan juga oleh beberapa petinggi negara Arab tetangga Iran.

Marzouq Ali Al Ghanim, Ketua Majelis Ummat  (Parlemen) Kuwait, Kamis (18/8) dalam wawancara dengan surat kabar Al Sharq Al Awsat, Qatar menjelaskan bahwa Iran adalah mitra negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia, PGCC. Ia juga menekankan peluang yang diperlukan untuk memperkuat hubungan Kuwait dan negara-negara PGCC lain, dengan Iran.

Marzouq Ali Al Ghanim menyinggung peran penting Iran dalam transformasi kawasan dan menuturkan, Kuwait dan negara-negara anggota PGCC lainnya selalu menyambut upaya penguatan stabilitas dan ketenangan kawasan serta hubungan bersahabat dengan Tehran.

Ketua Parlemen Kuwait juga berbicara soal pentingnya dukungan atas rakyat Palestina dan bantuan untuk mereka. "Masalah Palestina harus menjadi sebuah tema sentral yang sangat penting di dalam batin negara-negara Arab," ujarnya.

Terkait penyelesaian politik dan damai, krisis Suriah, Al Ghanim menuturkan, Kuwait mendesak dihentikannya pertempuran di Suriah dan penyelesaian krisis di negara itu lewat dialog.

Bahram Qassemi, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran terkait sikap positif Ketua Parlemen Kuwait mengatakan, tidak diragukan prioritas kebijakan luar negeri Iran juga menjalin hubungan yang baik dengan negara-negara tetangga dan kawasan.

Qassemi menerangkan, Iran berdasarkan kebijakannya yang kokoh, tidak berubah dan asasi, selalu mengharapkan stabilitas, keamanan dan kemajuan negara-negara tetangga dan menyambut segala bentuk upaya serta langkah nyata dan tindakan-tindakan dengan niat baik.

Jubir Kemenlu Iran berharap, kebijakan-kebijakan provokatif dan tidak konstruktif sebagian pihak ketiga tidak mempengaruhi negara-negara anggota PGCC lain dalam menjalin hubungan bersahabat, dan dalam menciptakan kepentingan-kepentingan lebih besar di antara bangsa-bangsa kawasan.

Tidak diragukan juga bahwa semua negara Teluk Persia punya masa depan dan kepentingan bersama, akan tetapi tidak cukup hanya dengan percaya pada pandangan ini, tapi yang penting adalah langkah-langkah nyata yang terhindar dari kebijakan-kebijakan perpecahan dan pemikiran-pemikiran sektarian yang semakin gencar disebarluaskan oleh Saudi dalam beberapa hari ini.

Saat ini esensi kebijakan Saudi sudah tidak tertutup lagi bagi sebagian besar negara kawasan. Di saat yang sama, Saudi berusaha mencari sekutu-sekutu baru yang mendukung kebijakan-kebijakan haus perang termasuk agresi militer ke Yaman dan teman yang membantu kejahatannya di Yaman.

Akan tetapi hasil yang sampai sekarang diperoleh negara-negara seperti Kuwait setelah terus mengikuti kebijakan Saudi, tidak lain seperti pengalaman buruk dukungan Kuwait dan Saudi atas rezim Saddam Hussein di Irak yang berujung dengan pendudukan Kuwait oleh pasukan Saddam. Saat ini, Saudi juga sedang menggunakan kebijakan gila yang pernah diterapkan Saddam Hussein di kawasan, dan rezim Zionis Israel berada di belakangnya.

Kerugian-kerugian finansial besar yang diakibatkan oleh kebersamaan dengan Saudi dalam kebijakan-kebijakan sabotase sektor minyak di OPEC, sehingga menurunkan harga minyak dunia dan biaya perang yang tidak sedikit, telah merugikan negara-negara Arab kawasan. Hal ini dipicu oleh pembentukan koalisi yang mereka sebut anti-terorisme pimpinan Saudi.

Sekarang negara-negara tetangga Iran di Teluk Persia mungkin tidak mau mengungkap alasan-alasan konflik mereka dengan Saudi, namun kekhawatiran mereka atas tindakan-tindakan tidak rasional Riyadh tampak begitu jelas.

Statemen Ketua Parlemen Kuwait dan keinginan negara-negara Arab Teluk Persia untuk menciptakan atmosfir yang stabil dan tenang serta hubungan baik dan kerja sama dengan Iran harus di telaah dalam kerangka ini. Sekalipun statemen-statemen semacam ini dari sudut pandang Saudi berarti pelanggaran atas garis merah Riyadh yang dilakukan oleh sekutu-sekutu strategisnya sendiri di kawasan. (HS)