Jenewa Buka "Lembar Baru" Negosiasi Nuklir Iran-AS
-
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Sayid Abbas Araghchi
ParsToday – Putaran kedua negosiasi nuklir di Jenewa setelah 48 jam konsultasi diplomatik intensif berakhir dengan kesepakatan umum kedua pihak mengenai "sejumlah prinsip panduan". Proses mendekatkan posisi untuk menggarap teks-teks kesepakatan potensial memasuki babak baru.
Melaporkan dari koresponden IRNA di Jenewa, Rabu, 18 Februari 2026, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Sayid Abbas Araghchi, di akhir putaran kedua negosiasi nuklir mengatakan bahwa dalam pertemuan ini, "berbagai ide dikemukakan dan dibahas secara serius". Pada akhirnya, "kami mencapai kesepakatan umum mengenai sejumlah prinsip panduan."
Ia menambahkan bahwa jalur dialog selanjutnya akan dilanjutkan berdasarkan prinsip-prinsip ini. Kedua pihak "akan memasuki teks kesepakatan potensial".
Perkembangan ini tampaknya berarti negosiasi telah melampaui tahap generalia dan memasuki tahap penyusunan kerangka untuk menulis teks. Namun, proses ini dengan sendirinya tidak berarti tercapainya kesepakatan final secara cepat. Berbagai isu masih perlu dibahas dan diputuskan dalam agenda. Pada saat yang sama, penetapan "prinsip panduan" dapat menjadi indikasi semakin jelasnya jalur dialog dan tergambarnya kerangka gerak dalam putaran-putaran berikutnya.
Menteri Luar Negeri Iran dalam pidatonya di Konferensi Internasional Pelucutan Senjata di Jenewa, merujuk pada proses negosiasi nuklir, mengatakan bahwa jendela kesempatan baru telah terbuka di jalur ini. "Kami berharap negosiasi ini mengarah pada solusi berkelanjutan yang didasarkan pada dialog dan memenuhi kepentingan pihak-pihak terkait serta seluruh kawasan."
Araghchi menegaskan, "Iran selalu siap berpartisipasi dalam negosiasi yang bermakna dan berorientasi hasil. Setiap kesepakatan berkelanjutan harus mengakui sepenuhnya hak-hak sah Iran, memberikan manfaat nyata, dan terlindung dari tindakan sepihak yang melemahkan kepercayaan dan kredibilitas."
Salah satu poros penting dalam putaran ini adalah kehadiran Rafael Grossi, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), di Jenewa dan konsultasi terkait peran teknis badan tersebut dalam proses potensial ke depan.
Araghchi pada hari pertama putaran kedua negosiasi nuklir bertemu dengan Direktur Jenderal IAEA dan menyampaikan pandangan serta sudut pandang Tehran tentang proses dialog. Menurut laporan, Grossi juga mengadakan pertemuan serupa dengan pihak Amerika di Jenewa.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam wawancara dengan koresponden IRNA menyatakan, "Kehadiran Direktur Jenderal IAEA dalam dialog ini dengan sendirinya penting dan dapat dinilai bermanfaat."
Merujuk pada peran IAEA dalam kesepakatan JCPOA, ia menegaskan, "Setiap kesepahaman yang tercapai, IAEA sebagai lembaga teknis internasional yang diakui di bidang non-proliferasi, akan memiliki tanggung jawab."
Baghaei lebih lanjut menegaskan, "Tolok ukur dan kriteria bagi Republik Islam Iran adalah kepentingan dan hak sah bangsa Iran. Kerangka kerja dan pedoman dalam hal ini sepenuhnya jelas."
Dengan menyatakan bahwa posisi Iran sejak awal jelas dan konsisten, ia menyatakan harapan delegasi Iran dapat "menjadi wakil terbaik rakyat Iran" dan mewujudkan kepentingan bangsa Iran.
Sementara itu, simpulan sejumlah pernyataan yang dirilis Kesultanan Oman sebagai mediator dialog, serta beberapa kutipan yang dipublikasikan dari pihak Amerika, mengindikasikan kemajuan proses dialog dibandingkan putaran sebelumnya.
Terkait hal ini, Wakil Presiden AS, J.D. Vance, menyatakan bahwa dialog dengan Iran berjalan baik dalam beberapa aspek.
Kementerian Luar Negeri Oman juga dalam pernyataannya, merujuk pada keberlanjutan peran mediasi Muskat, mengumumkan bahwa "kemajuan nyata" telah dicapai. Hal ini dapat membuka jalan bagi kelanjutan negosiasi dalam waktu dekat.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Swis setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, menggambarkan proses dialog sebagai baik dan konstruktif. Ia menyambut baik prospek keberlanjutan negosiasi sebagai langkah penting dalam mengurangi ketegangan.
Secara keseluruhan, apa yang tampak dari proses putaran negosiasi ini adalah pergerakan dialog menuju pembentukan kerangka dan memasuki tahap penggarapan teks. Namun, jalur menuju kesimpulan final masih membutuhkan keputusan politik dan penyelesaian isu-isu tersisa.
Republik Islam Iran hadir dalam proses ini dengan menekankan pendekatan bertanggung jawab dan bersandar pada hak sah bangsa Iran. Keberlanjutan jalur ini bergantung pada pihak lawan yang juga mengikuti jalur pencapaian hasil yang adil dan berkelanjutan dengan kemauan politik yang cukup dan menghindari tindakan sepihak.(sl)