Dari Tangan ke Tangan: Perjalanan Sebuah Cincin, Perjalanan Sebuah Kasih
https://parstoday.ir/id/news/iran-i192356-dari_tangan_ke_tangan_perjalanan_sebuah_cincin_perjalanan_sebuah_kasih
Pars Today - Ketika sebuah cincin bukan sekadar perhiasan, melainkan pembawa cerita cinta yang melintasi batas negara dan waktu.
(last modified 2026-07-01T08:50:12+00:00 )
Jul 01, 2026 15:43 Asia/Jakarta
  • Cincin Rahbar dari satu tangan ke tangan yang lain
    Cincin Rahbar dari satu tangan ke tangan yang lain

Pars Today - Ketika sebuah cincin bukan sekadar perhiasan, melainkan pembawa cerita cinta yang melintasi batas negara dan waktu.

Terkadang sebuah cincin, lebih dari sekadar kenang-kenangan, membawa cerita tentang kasih; cerita yang bermula dari Pemimpin Syahid Iran, melintasi banyak tangan, hingga sampai ke tangan seorang wanita keturunan Kuwait yang tinggal di Malaysia. "Khawlah Qasem" berkata bahwa nilai cincin ini bukan pada bendanya sendiri, melainkan pada roh cinta, zuhud, dan kemurahan hati yang berpindah dari tangan ke tangan.

Sebuah Cincin, Sejuta Makna

Khawlah Qasem, dalam wawancara dengan IRNA, 1 Juli 2026, menjelaskan pengalamannya menerima sebuah cincin yang dikaitkan dengan Pemimpin Syahid. Ia menyebut kisah ini sebagai contoh transfer cinta dan ikatan spiritual antar mukmin.

Dalam meriwayatkan kisah penerimaan cincin yang dikaitkan dengan Pemimpin Syahid, ia menekankan bahwa nilai kenang-kenangan ini bukan pada bendanya sendiri, melainkan pada roh cinta, zuhud, dan kemurahan hati yang tersembunyi di dalamnya, yang berpindah dari tangan ke tangan.

Tanda Seorang Mukmin

Wanita ini berkata, "Di antara tanda-tanda seorang mukmin adalah mengenakan cincin di tangan kanan, dan ayah syahid kami di berbagai majelis menghadiahkan cincin-cincin kepada mereka yang merindukannya."

Qasem, dengan menekankan aspek spiritual hadiah-hadiah ini, menambahkan, "Nilai cincin-cincin ini bukan pada bendanya sendiri, melainkan pada roh yang berpindah saat ia berpindah dari tangan ke tangan; roh yang bercampur dengan cinta, zuhud, dan kemurahan hati."

Kisah Penerimaan Cincin

Nyonya Qasem, dalam menjelaskan bagaimana ia menerima cincin ini, menulis,

"Dalam sebuah kunjungan keluarga, saya berada di rumah adik perempuan saya, Nada. Saat berpisah, ia menghadiahkan cincin yang ada di tangannya kepada saya dan berkata bahwa cincin ini milik Imam Syahid, dan ia sendiri menerimanya sebagai hadiah dari orang lain."

Berkah Berbagi

Ia di akhir menekankan, "Dalam kisah ini kita bisa melihat berkah berbagi, bagaimana ia berpindah dari tangan ke tangan bersama roh cinta antar mukmin. Hari ini lebih dari kapan pun kita membutuhkan semangat seperti ini di antara semua kalangan Muslim."

Surat untuk "Ayah Syahid Kami"

Wanita keturunan Kuwait yang tinggal di Malaysia ini, juga dalam sebuah surat kepada Pemimpin Syahid Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, dengan menguraikan keyakinan agama dan pengalaman spiritualnya, berbicara tentang kedudukan Ahlul Bait as, budaya intizhar (menanti), dan pengaruh pribadi Pemimpin Syahid terhadap para pecinta mazhab ini, serta menekankan bahwa kenangan beliau tetap hidup di hati para mukmin.

Dalam surat berjudul "Surat untuk Ayah Syahid Kami" yang dikirimkan kepada IRNA, Qasem memperkenalkan dirinya sebagai salah seorang pengikut Ahlul Bait Suci as dan menulis, "Kebanggaanku yang terbesar adalah menjadi bagian dari para pecinta Ahlul Bait as dan dibesarkan dalam keluarga yang mencintai Ahlul Bait as."

Masa Kegaiban dan Kerinduan

Wanita keturunan Kuwait ini selanjutnya, dengan merujuk pada masa kegaiban dan kerinduan mukmin akan Imam Zaman af, berbicara tentang pembaruan janji harian dengan Imam Zaman af dan peran doa-doa serta ziarah dalam menjaga ikatan spiritual ini.

Ia juga menyebut syuhada perlawanan sebagai tanda-tanda ilahi di masa kegaiban, dan menekankan bahwa kerendahan hati, zuhud, rahmat, dan keteguhan mereka telah membuat mereka memiliki tempat istimewa di hati manusia.

Feature ini adalah contoh indah dari jurnalisme humanis-spiritual. Bukan tentang politik atau geopolitik, tetapi tentang manusia dan koneksi spiritual mereka. Cincin yang berpindah dari tangan ke tangan adalah metafora yang sangat kuat: ia bukan sekadar benda, melainkan pembawa doa, cinta, dan harapan. Yang menarik adalah bagaimana Khawlah menekankan bahwa nilai cincin bukan pada bendanya, tapi pada "roh yang berpindah", ini adalah konsep yang sangat Sufistik, di mana benda fisik bisa menjadi medium transfer spiritualitas. Dan ketika ia menyebut "Ayah Syahid Kami" untuk Khamenei, ini menunjukkan kedekatan emosional yang melampaui batas geografis dan nasionalitas. Seorang wanita Kuwait di Malaysia merasa terhubung secara spiritual dengan pemimpin Iran yang bahkan mungkin tidak pernah ia temui. Ini adalah kekuatan dari simbol dan narasi spiritual.(Sail)