Rouhani Tolak Zona Larangan Terbang di Suriah
https://parstoday.ir/id/news/iran-i21265-rouhani_tolak_zona_larangan_terbang_di_suriah
Presiden Iran, Hassan Rouhani menolak pembentukan zona larangan terbang di Suriah, dan menekankan bahwa tindakan itu hanya akan memperumit krisis yang sedang berlangsung di negara Arab itu serta memperkuat posisi teroris Takfiri dukungan asing.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Sep 23, 2016 02:46 Asia/Jakarta
  • Hassan Rouhani
    Hassan Rouhani

Presiden Iran, Hassan Rouhani menolak pembentukan zona larangan terbang di Suriah, dan menekankan bahwa tindakan itu hanya akan memperumit krisis yang sedang berlangsung di negara Arab itu serta memperkuat posisi teroris Takfiri dukungan asing.

"Sebuah zona larangan terbang (di Suriah) akan menguntungkan teroris, yang memiliki segalanya kecuali pesawat tempur," kata Rouhani di hadapan wartawan usai pidatonya di sidang Majelis Umum PBB ke-71 di New York pada Kamis (22/9).

 

"Mereka memiliki senjata mortir, tank, rudal dan kendaraan lapis baja. Mereka memiliki meriam dan baterai artileri namun tidak memiliki pesawat tempur. Penciptaan zona larangan terbang bukan langkah yang tepat. Ini adalah ide keliru," tambah Presiden Iran.

 

Pada Rabu (21/9), Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, menuntut Rusia dan pemerintah Suriah menghentikan penerbangan anti-teror di zona pertempuran Suriah untuk "mengembalikan kredibilitas" agar sejalan dengan upaya yang bertujuan menyelesaikan krisis di negara Arab itu.

 

Presiden Iran mencatat bahwa bencana kemanusiaan yang berlangsung di Suriah terjadi karena sebagian wilayah negara itu dikuasai kelompok teroris seperti Daesh dan Jabhat Fateh al-Sham, afiliasi Al-Qaeda Suriah yang sebelumnya bernama Front Al-Nusra.

 

"Mereka membunuh orang. Mereka membakar korban hidup-hidup. Kita menyaksikan kejahatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah," kata presiden Iran.

 

Presiden Iran lebih lanjut menyinggung nasib jutaan warga Suriah, yang telah terlantar dan belum menerima bahan makanan yang diperlukan dan obat-obatan selama berbulan-bulan karena aksi militansi yang didukung asing di negara mereka.(MZ)