Penuturan Doktor Fahimeh Mostafavi Tentang Ayahnya, Imam Khomeini ra (7)
-
Imam Khomeini ra
Mohon Jelaskan sedikit kenangan anda tentang perjuangan Imam Khomeini ra!
Sore hari ketika kami datang menemui Imam Khomeini, beliau berkata:
“Tahukah engkau apa yang telah terjadi hari ini?”
Saya berkata, “Apa?” Beliau berkata:
“Aku telah berbuat salah. Yakni bukan satu kesalahan. Beberapa kesalahan!”
Saya berkata, “Bagaimana?”
Beliau menceritakan kejadian yang ada dalam bingkai sebuah kisah. Tujuannya adalah supaya saya belajar tentang pentingnya salat di awal waktu dari sela-sela kisah tersebut. Imam Khomeini berkata:
Aku tidur sebelum waktu Zuhur. Tiba-tiba aku terbangun dan bergumam, “Aduh”! Salatku telah lewat dan aku tertidur! Mengapa demikian? Dengan segera aku bangkit dan saat itu juga aku berkata, “Turbaku tidak ada di sini.”
Perlu diketahui, Imam Khomeini selalu meletakkan turbanya di atas chauffage [pemanas ruangan] supaya hilang kelembabannya karena keringat dahi. Imam Khomeini melanjutkan:
“Aku melihat tidak cukup waktunya bila aku ke kamar lain untuk mengambil turba. Itulah mengapa aku bergumam, tidak masalah, aku salat pakai kertas saja, supaya waktu salat tidak lebih terlambat dari yang ada ini. Kemudian tiba-tiba aku teringat bahwa dari sisi lain bila aku terlambat untuk makan siang, maka ada yang mengkhawatirkan. Dengan tergesa-gesa aku keluar dari kamar untuk memberitahukan mereka. Engkau tidak tahu betapa sedihnya aku! Salatku terlambat dan tidak sempat memberitahukan. Begitu aku keluar dari kamar, aku ketemu istrinya Ahmad Agha. Kepadanya aku berkata, “Hari ini aku ketiduran.” Dia berkata, “Tidak. Memangnya sekarang pukul berapa?” Aku berkata, “Pukul dua belas, tiga puluh Zuhur.” Dia berkata, “Tidak. Tidak demikian.” Aku kembali menengok jam ternyata pukul sebelas, tiga puluh dan aku salah sangka bahwa pukul dua belas, setengah. Aku beranggapan bahwa karena berdasarkan waktunya, sekarang aku harus makan siang dan mereka menunggu. Apa yang harus aku lakukan dengan salatku?”
Suatu hari ketika Imam Khomeini sibuk berwudhu, saya melihat dengan detil cara wudhu beliau. Saya melihat, pertama beliau menetapkan telapak tangannya di bawah kran air dan tangan yang satunya pelan-pelan membuka kran air sedikit. Ketika telapak tangan penuh dengan air, beliau menutup kran yang ada. Kemudian membasuh wajahnya dengan air itu. Kemudian mengulangi lagi hal ini. Setelah itu, beliau menetapkan telapak tangannya lagi di bawah kran dua kali untuk membasuh tangan [kanan dan] kirinya dan mengucurkan air satu kali, sekaligus membaca zikir. Setiap tahapan amalan wudhu, beliau lakukan menghadap kiblat dan kembali lagi mengerjakan tahapan berikutnya.
Ketika salat, setelah mengucapkan salam dan takbir tiga kali, beliau membaca zikir setelah salat. Pertama membaca tasbih zahra 34 kali “Allahu Akbar” dan 33 kali “Alhamdulillah” dan 33 kali “Subhanallah” dan biasanya menghitung dengan jari-jarinya. Kemudian membaca surat Fatihah dan memulainya dengan “Audzu Billahi Minassyaithanirrajim”. (Tampak dengan jelas beliau membaca istia’adzah sebelum membaca surat Fatihah, baik dalam salat wajib muapun salat sunnah) setelah membaca surat fatihah, beliau membaca ayat kursi, kemudian beliau membaca beberapa ayat lainnya, demikian urutannya; (QS. Baqarah: 255, Ali Imran: 18, Ali Imaran: 26):
اللَّـهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
شَهِدَ اللَّـهُ أَنَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
قُلِ اللَّـهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
استغفر الله الذي لا اله الا هو ذو الجلال و الاکرام و اتوب الیه
Ini adalah bacaan yang sama setiap shalat dan setelah salat Maghrib dan Isya beliau membaca bacaan berikut ini sebanyak tujuh kali:
بسم الله الرحمن الرحیم لا حول و لا قوة الا بالله العلي العظیم
Saya masih ingat, ketika beliau dibebaskan dari penjara Qeitariyeh dan kembali ke Qom, karena rumah kami di depan rumah beliau, dan rumah beliau banyak tamu laki-laki, beliau tinggal di rumah kami selama satu sampai dua bulan. Di salah satu kamar rumah [kami] ada sebuah patung hitam di atas rak dinding, dan di kamar lainnya ada sebuah foto. Begitu beliau melihat, di kamar yang ada fotonya, salat [di sana] hukumnya makruh. Kepada saya beliau berkata:
“Tidak satupun dari kamarmu bisa dipakai tempat salat.”
Dan beliau berkata tidak lebih dari itu. Saya pun masuk ke dalam kamar dan menyiapkan satu kamar untuk tempat salat beliau. Di kamar tempat duduk Imam Khomeini, di sana ada sebuah foto dan beliau sangat menyukainya. Foto yang dinisbatkan kepada Rasulullah. Hanya Allah yang tahu apakah itu benar ataukah tidak. Tapi beliau sangat menyukainya. Sejak beliau melihat foto itu, beliau meletakkannya di atas pemanas di hadapan beliau. Sangat sulit seseorang untuk percaya bahwa ini adalah fotonya Rasulullah. Karena wajahnya sangat muda sekitar tujuh belas sampai delapan belas tahunan dengan bagian atas badannya telanjang. Meskipun begitu Imam Khomeini mengatakan:
“Karena aku menerima foto ini sebagai foto Rasulullah, aku sangat menyukainya.”
Suatu hari saya bertanya tentang Mi’rajnya Rasulullah Saw. Beliau menjelaskan kepada saya, bagaimana Rasulullah Saw pergi ke Mi’raj. Secara reflek saya bertanya, “Apakah benar-benar dirinya Rasulullah?”
Begitu Imam Khomeini merasa bahwa saya ingin mengatakan, “Apakah ruhnya Rasulullah Saw yang pergi ke Mi’raj ataukah dirinya Rasulullah?”
Imam Khomeini langsung mengatakan:
“Engkau tidak mempercayai bahwa Allah bisa? Yakinilah bahwa Allah bisa. Hal-hal seperti ini bagi Allah bukan apa-apa.” (Emi Nur Hayati)
Dikutip dari penuturan Fahimeh [Zahra] Mostafavi, anak Imam Khomeini ra.
Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh.