Selat Hormuz Tetap Terkunci: Mimpi "Operasi Kebebasan" AS Kandas
https://parstoday.ir/id/news/iran-i189436-selat_hormuz_tetap_terkunci_mimpi_operasi_kebebasan_as_kandas
Pars Today - Di tengah upaya bertubi-tubi Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mematahkan dominasi maritim Iran di jalur air strategis itu, Pemerintahan Trump meluncurkan rencana alternatif bertajuk "Project Freedom" (Proyek Kebebasan), yang sejatinya sudah gagal bahkan sebelum dimulai.
(last modified 2026-05-05T05:34:13+00:00 )
May 05, 2026 12:30 Asia/Jakarta
  • Selat Hormuz
    Selat Hormuz

Pars Today - Di tengah upaya bertubi-tubi Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mematahkan dominasi maritim Iran di jalur air strategis itu, Pemerintahan Trump meluncurkan rencana alternatif bertajuk "Project Freedom" (Proyek Kebebasan), yang sejatinya sudah gagal bahkan sebelum dimulai.

Dilansir IRNA dini hari Selasa, 5 Mei 2026, situs berita Arab Journal melaporkan hal tersebut seraya menambahkan, menurut berbagai laporan dan sebagaimana dikonfirmasi pejabat Komando Sentral AS (CENTCOM), rencana ini mencakup penyebaran satuan-satuan Armada Kelima AS dengan dukungan angkatan udara yang terdiri dari 100 jet tempur dan 15.000 personel.

Tujuan yang diumumkan adalah mengamankan jalur pelayaran bagi kapal-kapal tanker. Namun, target sebenarnya ialah meraih keuntungan taktis kecil dalam mengendalikan Selat Hormuz, sekaligus menciptakan pencapaian terbatas untuk menutupi kegagalan strategis Angkatan Laut AS dalam upaya-upaya sebelumnya mematahkan sanksi terhadap Iran.

Arab Journal menambahkan, oleh karena itu, CENTCOM pada hari Senin (4/5) memulai patroli terselubung dengan dua kapal perusak. Setelah mematikan pemancar dan menutup saluran komunikasi, kedua kapal itu diarahkan menuju Selat Hormuz untuk mendekati titik terdekat dengan selat dalam keheningan. Taktik ini secara implisit mengakui bahwa fase pertama rencana ini ialah memancing, menguji respons Tehran, dan mengukur kesiapan kekuatan Iran dalam melakukan deterensi. Dan persis itulah yang terjadi.

Sebab, respons Iran datang cepat dan tegas. Satuan-satuan laut Angkatan Darat dan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) segera melakukan intersepsi terhadap kapal-kapal perusak tersebut, seraya melancarkan serangan peringatan menggunakan berbagai jenis rudal jelajah antikapal. Bersamaan dengan itu, empat kapal tanker disita pascaserangan taktis mendadak dan dipaksa kembali.

Laporan tersebut menambahkan, respons cepat yang beralih dari fase pemantauan ke intersepsi dan keterlibatan ini, terlepas dari skenario apa pun, menunjukkan kesiapan Iran serta ketegasan sikap operasionalnya dalam menggagalkan segala upaya yang menargetkan sanksi.

Arab Journal melanjutkan,  dengan demikian, evaluasi hasil bentrokan ini membuktikan bahwa "Project Freedom", yang masih berada di tahap awal, sejatinya sudah gagal. Hal ini secara praktis menunjukkan bahwa kendali Iran atas Selat Hormuz bukanlah sesuatu yang rapuh atau sekadar posisi taktis, melainkan kontrol strategis yang kokoh, berbasis pada sistem terintegrasi dari kapabilitas dan peralatan ofensif yang tak dapat diakali atau dinetralisasi oleh rencana AS mana pun.

Laporan tersebut menegaskan, serangan peringatan yang dilancarkan Angkatan Laut IRGC dan Artesh Iran terhadap kapal-kapal perusak yang berupaya melanggar selat merupakan pesan jelas. Setiap aksi militer serupa di tahap berikutnya akan berujung pada penyerangan dan penenggelaman, baik terhadap kapal perusak maupun kapal laut apa pun yang menolak mematuhi sanksi yang berlaku.

Eskalasi Sikap dan Kembali ke Jalur Konflik

Situs berita Arab Journal menambahkan, Pemerintahan Trump yang kontroversial mungkin tak akan menerima kegagalan awal rencana pembukaan Selat Hormuz ini. Mereka bisa saja mengirim lebih banyak kapal perang untuk melanggar sanksi sebagai provokasi baru, demi mendorong eskalasi militer. Namun, besar kemungkinan Iran akan menempuh strategi penggunaan kekuatan untuk mencegah segala pelanggaran, yang berpotensi memicu konfrontasi laut skala penuh.

Situs berita itu melanjutkan, perlu dicatat, sejak hari pertama kesepakatan gencatan senjata, Amerika Serikat tidak pernah mencari perdamaian melalui negosiasi. Sebaliknya, mereka memusatkan upaya pada persiapan untuk gelombang baru agresi terhadap Iran. Data dan operasi intensif yang dilakukan militer AS serta rezim Zionis untuk memperkuat persenjataan dan mengirim lebih banyak pasukan ke kawasan menjadi bukti atas hal ini.

Oleh karena itu, tak tertutup kemungkinan bahwa "Operation Freedom" yang diumumkan Pemerintahan Trump, serta provokasi-provokasi terkini untuk membuka Selat Hormuz, merupakan awal dari langkah eskalasi menuju agresi kembali dan operasi militer skala penuh.

Arab Journal menulis, bagi Iran, negara ini telah menempatkan posisi militer dan strategisnya dalam status siaga penuh. Iran mengklasifikasikan provokasi yang dilakukan Angkatan Laut AS sebagai tindakan perang, dan akan membalasnya dengan cara yang sama: menggunakan kekuatan militer.

Situs berita tersebut menambahkan, jika diperlukan, dan apabila sikap Amerika Serikat memang mengarah pada konfrontasi laut, kapal-kapal perang AS di Laut Arab akan hancur secara signifikan. Dengan demikian, Iran mengelola posisinya dengan stabilitas, kesiapan berkelanjutan, dan doktrin militer yang kokoh, yang tak menerima ancaman atau gerakan ofensif apa pun, sekalipun bersifat taktis.

Arab Journal menutup laporannya, jika situasi berkembang sedemikian rupa sehingga AS dan rezim Zionis kembali ke jalur perang, ini merupakan skenario yang Iran tempatkan di puncak prioritas strategis dan militernya. Iran mengerahkan seluruh upaya untuk mempersiapkan diri menghadapi konflik dalam berbagai skenario defensif dan ofensif. Tujuannya: memastikan bahwa ronde pertempuran berikutnya berpusat pada penghancuran sisa-sisa kepentingan AS di kawasan, serta melancarkan pukulan menghancurkan terhadap rezim Zionis, berdasarkan skenario operasional strategis multifront yang lebih besar dan lebih luas dibandingkan perang 40 hari sebelumnya.(Sail)