6 Tahun Setelah Teror, Bayangan Haj Qassem Masih Hantui Trump
https://parstoday.ir/id/news/iran-i189354-6_tahun_setelah_teror_bayangan_haj_qassem_masih_hantui_trump
Pars Today - Enam tahun telah berlalu sejak syahidnya "Jenderal Hati" Qassem Soleimani. Namun, bayangan nama besarnya serta kecerdasan taktisnya semakin hari semakin membebani hegemoni global, memaksa musuh yang terpojok di belakang kekuatan putra-putri Iran yang gagah berani itu untuk mengakui kejahatan di Bandara Baghdad.
(last modified 2026-05-04T04:38:52+00:00 )
May 04, 2026 14:03 Asia/Jakarta
  • Syahid Qassem Soleimani
    Syahid Qassem Soleimani

Pars Today - Enam tahun telah berlalu sejak syahidnya "Jenderal Hati" Qassem Soleimani. Namun, bayangan nama besarnya serta kecerdasan taktisnya semakin hari semakin membebani hegemoni global, memaksa musuh yang terpojok di belakang kekuatan putra-putri Iran yang gagah berani itu untuk mengakui kejahatan di Bandara Baghdad.

Putri sang jenderal, Zainab Soleimani, dalam sebuah catatan yang dirilis, menjawab pertanyaan mengapa hingga enam tahun kemudian "penjudi teroris" (Trump) masih terus membicarakan pria dari medan perang itu.

Menurut laporan Pars Today mengutip IRNA, 4 Mei 2026, Zainab Soleimani menulis, enam tahun telah berlalu sejak teror terhadap "pahlawan bangsa Iran dan umat Islam". Seorang pahlawan yang dengan ketajaman dan kebijaksanaannya, setia pada perintah komandan yang bijak, Imam Syahid kami, telah membangun benteng kokoh melawan rencana jahat musuh. Ia selalu bisa membaca rencana busuk musuh di mana pun. Keahliannya adalah "mengubah ancaman menjadi peluang". Kabar tentang keberaniannya serta pasukan di bawah komandonya menjadi mimpi buruk bagi musuh yang kriminal dan rakus.

Sejak kehadiran dan perannya di awal invasi AS ke Afghanistan, hingga menggagalkan rencana AS untuk menciptakan ketidakstabilan di Irak dan mimpi-mimpi mereka mengubah tatanan Asia Barat. Haj Qassem kembali mengubah mimpi mereka menjadi mimpi buruk yang tak berujung. Di mana pun ada jejak kezaliman dan keserakahan, nama Qassem Soleimani selalu menjadi penghalang rencana kolonial para penindas dunia: dari Suriah, Lebanon, Palestina, hingga Afrika Utara dan Venezuela. Kehadiran mujahid inilah, yang merupakan cita-cita awal dan fundamental Revolusi Islam, yang menjadi penghalang bagi rencana jahat kekuatan-kekuatan semu dunia. Itulah sebabnya rencana teror Bandara Baghdad dirancang.

Trump, si penjudi, adalah pilihan "terbaik" bagi AS untuk mengakhiri mimpi buruk abadi Barat ini. Ia membayangkan jika Qassem Soleimani tidak ada, maka mimpi-mimpi Zionis Amerika di Asia Barat akan segera terwujud. Karena itu, dengan kesombongan ala Firaun, ia menandatangani perintah aksi teroris di Bandara Baghdad. Ia tidak menduga bahwa dengan menghilangkan raga Haj Qassem, namanya justru akan semakin harum. Seperti kata Imam Syahid kita: ia akan menjadi sandi untuk operasi kelompok-kelompok perlawanan di seluruh dunia.

Meskipun Trump dalam pernyataan pasca-teror dengan tega menyebut tindakan itu demi perdamaian dunia, menulis bahwa ini bukan awal perang, melainkan akhir perang, tetapi hari ini, setelah enam tahun, dengan membaca lembaran-lembaran berdarah sejarah beberapa tahun terakhir, jelas bahwa Trump dan pemikiran Barat telah menargetkan pilar stabilitas dan perdamaian di kawasan, demi meraih keuntungan politik dan ekonomi melalui adu domba dan pertumpahan darah.

Mengapa Trump Masih Sebut Nama Soleimani Setelah Enam Tahun?

Satu pertanyaan penting muncul: mengapa setiap kali Trump ingin berbicara tentang pencapaian, ia selalu merujuk pada peristiwa teror Bandara Baghdad dan menyebut nama Soleimani?

Meskipun salah satu alasannya adalah besarnya kejahatan yang ia lakukan, yang membuatnya memiliki obsesi mental terhadap kejahatan ini dan tak mudah lepas, alasan penting lainnya terletak pada bayangan Soleimani yang terus ia lihat di berbagai sudut medan perjuangan.

Haj Qassem, dengan kebijaksanaan, ketajaman visi, dan kecerdasannya dalam mengelola medan, berdasarkan analisis realistis dan prediksi akurat tentang rencana musuh, memiliki seni merangkai elemen-elemen fundamental perlawanan. Alih-alih melakukan operasi cepat dan sementara, ia membangun Poros Perlawanan dan memperkuat setiap komponen poros ini di bidang pertahanan, sehingga mereka bisa mengambil inisiatif dalam perang asimetris kapan saja dan melumpuhkan musuh.

Pada masa ketika sebagian elit politik di Iran menyesuaikan kebijakan luar negeri berdasarkan naiknya partai Republik atau Demokrat di AS, Soleimani, yang belajar di sekolah Revolusi Islam dan kepemimpinan Ayatullah Khamenei dan mahir dalam "mengenali musuh", telah memprediksi invasi pasti AS dalam sebuah pertemuan. Dengan pemahaman akuratnya tentang hakikat musuh, ia tidak membedakan kedua partai dalam kebijakan permusuhan terhadap Iran. Fakta ini jelas terbaca antara baris-baris memoar John Kerry (Demokrat) dan Bolton (Republik).

Putra-putri Iran-Islami, ketika memprediksi bahaya bagi negara mereka, pasti akan mempertimbangkan strategi untuk menetralisir dan mengelola setiap ancaman. Salah satu strategi itu adalah ide pengelolaan Selat Hormuz. Jika saat itu ide itu dianggap sekadar prediksi militer, hari ini telah menjadi strategi nyata dan implementatif yang mempengaruhi sistem ekonomi global.

Saat Trump Terjebak, Bayangan Soleimani Muncul

Pada periode setelah perang dengan Iran, Trump membuat kesalahan perhitungan strategis. Ia gagal mencapai tujuan utamanya, yakni menjatuhkan dan memecah belah Iran, dan kini terperangkap di Selat Hormuz. Kini, Soleimani yang syahid, dengan suara tegas dan berwibawa, kembali mempermalukannya, membuktikan bahwa enam tahun lalu, peta jalan menuju hari ini telah digambar. Seolah-olah Iran telah menunggu kesalahan para penjudi dunia.

Dengan menelusuri pidato-pidato presiden AS pada periode itu dan masa jabatannya saat ini, jelas bahwa setiap kali ia ingin menyebut kebesaran dan pentingnya tindakannya, ia terpaksa menyebut nama Soleimani. Baik saat di parlemen Israel, ketika Netanyahu memuji Trump dan menyebut teror Soleimani sebagai "kembalinya AS ke puncak kejayaannya", dan Trump membenarkannya, maupun dalam pidato lain di mana ia berkata, "Jika Soleimani masih hidup, saya harus berbicara dengan cara berbeda."

Bahkan baru-baru ini, di tengah perang Iran-AS, untuk menghindari kritik, ia terpaksa kembali menyebut peran Soleimani untuk membenarkan tindakannya. Seolah-olah ia melihat bayangan Soleimani di setiap sudut dunia, dan masih menganggap Soleimani sebagai lawan pertamanya.

Seperti kata Syahid Avini, "Leher dapat dipenggal, tetapi suara-suara tidak akan pernah bisa dibungkam!" Gema suara Soleimani, yang sejak saat-saat "berdarah" di teror Bandara Baghdad hingga kini bergema lebih keras dalam syiar kebebasan dan perlawanan, telah mempermalukan dan meneror si penjudi, Tuan Trump, dan akan terus membekas di telinga sejarah, mengingatkan pada kekalahan beruntun AS dan sistem kekuasaan.

Trump membunuh raga Qassem Soleimani, tetapi sia-sia. Kini, di setiap kesulitan di Selat Hormuz dan setiap mimpi buruk yang menghantui tidurnya, ia melihat bayangan sang jenderal. Enam tahun kemudian, Trump masih berhutang pada sejarah: ia tidak bisa melupakan pria yang bahkan dalam kematiannya, masih menang. Iran tidak hanya selamat, tetapi ia yang duduk di panggung dunia, sementara AS terperosok dalam jurang yang digali sendiri.(sl)