Dua Putra Trump Incar Harta Karun Logam Langka Kazakhstan
-
Presiden AS Donald Trump
Pars Today - Sebuah surat kabar Moskow, Nezavisimaya Gazeta, melaporkan adanya pergerakan putra-putra Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, di Kazakhstan dengan tujuan investasi di sektor logam tanah jarang.
Dilansir IRNA hari Selasa, 5 Mei 2026, media berbahasa Rusia itu menulis bahwa Amerika Serikat telah menemukan alternatif pengganti bahan baku Tiongkok di stepa Kazakhstan. Dalam dinamika ini, Kirgizstan berpotensi menjadi target berikutnya kepentingan Washington.
Surat kabar tersebut melanjutkan, Amerika Serikat mengklaim diri sebagai pengembang kunci, dan kemungkinan satu-satunya, atas cadangan logam tanah jarang di Kazakhstan. Perusahaan gabungan Kaz Resources kini tengah bersiap menjadi pemasok strategis bahan baku vital bagi pasar Negeri Paman Sam.
Nezavisimaya Gazeta menambahkan: keterlibatan putra-putra Presiden Amerika Serikat (Donald Trump Jr. dan Eric Trump) dalam modal perusahaan ini cukup menarik perhatian.
Berdasarkan laporan itu, jejak kedua putra Presiden Amerika Serikat terdeteksi dalam sebuah proyek besar penambangan tungsten di Kazakhstan. Kisah kehadiran mereka bermula dari sebuah perusahaan konstruksi, lalu melangkah ke sektor pertambangan melalui investasi 20 juta dolar AS. Menurut Financial Times, dana tersebut ditujukan untuk mengeksploitasi cadangan terbesar Kazakhstan yang masih perawan.
Laporan tersebut menegaskan, proyek ini sulit disebut biasa-biasa saja. Pemerintah Amerika Serikat mengalokasikan dana signifikan sebesar 1,6 miliar dolar AS untuk mendukungnya, sekaligus menetapkan tungsten sebagai sumber daya kritis.
Menurut perkiraan Bank Dunia, Kazakhstan menyimpan cadangan logam tanah jarang yang belum ditemukan sebesar lebih dari 5.000 ton, dengan nilai total melebihi 46 triliun dolar AS.
Para ahli memperkirakan, jika siklus industri lengkap, dari tambang hingga produk akhir, berhasil diorganisasi, logam tanah jarang dapat menyumbang 7,1 persen terhadap PDB Kazakhstan. Angka ini hampir setara dengan pendapatan minyak dan gas saat ini yang berkontribusi 7,3 persen terhadap PDB negara tersebut.
Surat kabar Rusia itu menulis, prioritas strategis Washington sebenarnya terletak di tempat lain. Di sana, pemerintahan Trump tidak hanya berfokus melindungi kepentingan nasional, tetapi juga berupaya mengurangi pengaruh geopolitik Beijing dengan membangun rantai pasok alternatif untuk logam tanah jarang.
Laporan tersebut menyebutkan, situasi ini semakin rumit karena monopoli Tiongkok saat ini dalam produksi dan konsumsi tungsten. Masalah ini terasa sangat mendesak bagi Amerika Serikat, setelah produksi domestik produk tersebut terhenti pada 2015, Amerika menjadi sangat bergantung pada ekspor Tiongkok.
Murad Bishnov, pakar industri dan teknologi, berpendapat bahwa logam tanah jarang kini merupakan "minyak baru" serta fondasi bagi sektor pertahanan dan antariksa.
Ia menambahkan, sementara Kazakhstan memanfaatkan jalur mulusnya untuk ekstraksi logam tanah jarang yang relatif mudah, dan Uzbekistan tengah menjalankan program modernisasi ambisius senilai 3 miliar dolar AS, Kirgizstan baru saja memulai langkah di jalur ini.(Sail)