Pesan Emir Kuwait untuk Presiden Iran
Menteri Luar Negeri Kuwait Sheikh Sabah Khaled Al Sabah, tiba di Tehran pada Rabu (25/1/2017) dengan membawa sebuah pesan dari Emir Kuwait kepada Presiden Republik Islam Iran Hassan Rouhani.
Sebelum bertolak ke Iran, Sheikh Khaled Al Sabah menggelar konferensi pers bersama dengan Sekjen NATO Jens Stoltenberg di Kuwait, Selasa sore. Pada kesempatan itu, ia mengatakan, Iran dan negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) merupakan mitra satu-sama lain di Timur Tengah dan menyimpan kapasitas besar untuk memperkuat hubungan serta memiliki kepentingan kolektif.
Iran dan negara-negara Arab di Teluk Persia menjalani hubungan yang penuh pasang-surut selama hampir empat dekade lalu. Langkah-langkah seperti pembentukan P-GCC pasca kemenangan Revolusi Islam dan sepak terjang Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan bahwa mereka terus bermanuver di hadapan Iran.
Mereka juga menyediakan ruang kepada pemain asing untuk campur tangan dalam isu-isu regional dengan alasan menciptakan keamanan. Baru-baru ini, Perdana Menteri Inggris Theresa May diundang untuk mengikuti sidang P-GCC dan ia pun mengeluarkan pernyataan yang menghasut perpecahan dan menyerang Tehran.
Tren ini mengindikasikan adanya upaya untuk menciptakan perpecahan di kawasan, di mana benar-benar tidak sejalan dengan keamanan kolektif dan langkah membangun kepercayaan dan konvergensi.
Dalam hal ini, Arab Saudi selalu memainkan peran dominan dalam merusak dan menyulut ketegangan hubungan para anggota lain P-GCC dengan Iran. Beberapa anggota organisasi itu memberikan dukungan politik dan finansial kepada rezim Saddam dalam perang yang dipaksakan terhadap Iran.
Saudi bersama Kuwait dan negara-negara Arab lainnya menyediakan hampir 50 miliar dolar dalam bentuk pinjaman dan bantuan sepihak kepada rezim Saddam di Irak untuk digunakan dalam serangan ke Iran. Namun, ketika sumur-sumur minyak Kuwait dibakar oleh Saddam, Iran segera bergerak membantu Kuwait untuk memadamkan api dan negara Arab itu meminta maaf kepada Tehran karena telah mendukung Saddam.
Sekarang, Republik Islam Iran juga menentang berlanjutnya konflik dan ingin memadamkan kobaran api perang dan pertumpahan darah di kawasan. Tehran sepenuhnya mengawasi situasi sensitif di kawasan dan dunia.
Namun, sayangnya kinerja P-GCC tidak sejalan dengan upaya menciptakan peluang bagi kerjasama atau memperkuat keamanan regional. Saat ini, organisasi itu mengamini keinginan Saudi untuk terlibat di Yaman dan Bahrain serta fokus untuk menyulut krisis di Suriah.
Tindakan mereka semakin memperkuat dugaan bahwa beberapa anggota P-GCC tidak punya agenda lain kecuali melakukan manuver politik dan menciptakan konflik di kawasan. Mereka bahkan bergerak sejalan dengan kepentingan asing untuk menggulingkan pemerintahan tertentu.
Padahal, sumber ancaman yang sesungguhnya datang dari luar baik di masa lalu maupun di masa sekarang. Seperti bahaya terorisme dan ekstremisme dan Daesh, yang merupakan dampak dari kebijakan dan konspirasi Amerika serikat dengan bantuan beberapa sekutunya di Timur Tengah.
Jelas bahwa kondisi seperti ini tidak akan menguntungkan negara regional mana pun. Oleh sebab itu, Iran meminta untuk mengatasi perselisihan dan memperkuat konvergensi ketimbang menyulut konflik.
Lalu, apakah negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) punya keinginan serius menuju konvergensi dengan Iran? Pesan Emir Kuwait untuk Iran sepertinya merupakan sinyal dari keinginan itu. Menlu Kuwait Sheikh Khaled Al Sabah mengatakan, dialog dan kerjasama kolektif akan memiliki keuntungan bersama bagi Republik Islam Iran dan P-GCC. (RM)