Pidato Zarif di KTT-LB OKI
-
Zarif di KTT-LB OKI Jakarta
KTT Luar Biasa Organisasi Kerjasama Islam (OKI) soal Palestina resmi dibuka di Jakarta Convention Center, Ahad (3/6/2016). KTT-LB OKI ke-5 ini diikuti lebih dari 500 delegasi dari 49 negara anggota, termasuk pada tingkat kepala negara atau pemerintahan. Pertemuan itu juga diikuti empat negara peninjau yakni, Bosnia Herzegovina, Afrika, Rusia dan Thailand.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, mengatakan sikap dan pandangan Republik Islam terhadap kejahatan rezim Zionis akan dipaparkan dalam pertemuan tersebut.
Zarif menilai KTT Luar Biasa Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Jakarta sebagai peluang besar untuk mendukung Palestina.
Dalam wawancaranya dengan Metrotvnews.com di Jakarta, Ahad (6/3/2016), Zarif menuturkan, "Kami bekerja sama dengan negara-negara lain di KTT ini, khususnya Indonesia, untuk mencari solusi bagi masalah Palestina dan al-Quds al-Syarif." Demikian dikutip kantor berita IRNA.
Adapun dalam pidatonya pada hari Senin (7/3), Menlu Iran mengatakan, rezim Zionis Israel berusaha menutupi program ekspansionisnya untuk mengubah kondisi Masjid al-Aqsa dan al-Quds dan menerapkan kebijakanya untuk mengubah komposisi geografis dan Yahudisasi di kedua tempat tersebut.
Ia menambahkan, Dewan Keamanan PBB dengan berbagai alasan tidak mengambil langkah apapun dalam kerangka melaksanakan kewajibannya berdasarkan Piagam PBB, dan dewan ini membiarkan kelanjutan kebijakan ekspansionis Israel yang mengancam perdamian dan keamanan internasional.
"Umat Islam harus mengesampingkan perselisihan mereka dan mencari langkah-langkah praktis untuk mengakhiri semua aspek pendudukan Palestina," tegasnya.
Zarif menjelaskan, Iran selalu menegaskan untuk memenuhi komitmen dan kewajibannya terhadap Palestina.
Meski Republik Islam Iran memahami bahwa berbagai tekanan diterapkan terhadap negara ini selama beberapa dekade terakhir akibat dukungannya kepada cita-cita Palestina, namun Tehran tetap melanjutkan kebijakannnya ini.
Dukungan untuk Palestina sejatinya memerlukan bantuan semua negara Islam melalui pengambilan kebijakan terpadu melawan Israel serta tekad dunia Islam untuk mengakhiri blokade kejam atas Jalur Gaza. Wilayah itu telah diblokade lebih dari tujuh tahun dan berulangkali menjadi target agresi militer Israel dalam skala besar.
Negara-negara Islam diharapkan segera mengesampingkan berbagai perselisihan yang ada agar dapat mengambil kebijakan terpadu mendukung Palestina. Di sini titik urgensitas peran OKI untuk menyatukan dan menyelaraskan kebijakan negara-negara anggotanya dalam mendukung Palestina.
Kenyataannya, Palestina adalah korban penjajahan, terorisme dan ekstrimisme pemerintahan, ketidakpedulian masyarakat internasional, dan bahwa itu semua berlanjut akibat propaganda Israel bersama para para pendukungnya di Barat. (IRIB Indonesia/MZ)