Kerjasama Iran-Indonesia di Sektor Nanoteknologi
https://parstoday.ir/id/news/iran-i36066-kerjasama_iran_indonesia_di_sektor_nanoteknologi
Republik Islam Iran adalah salah satu negara terkemuka di bidang Nanoteknologi. Sektor Nanoteknologi Iran dalam empat tahun terakhir mengalami pertumbuhan signifikan, di mana rata-rata lebih dari 120 persen pertahun meskipun negara ini didera berbagai sanksi dan dalam kondisi ekonomi yang sulit. Saat ini, Iran berada di peringkat keenam dunia dari sisi produksi nano.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Apr 15, 2017 10:34 Asia/Jakarta
  • Kerjasama Iran-Indonesia di Sektor Nanoteknologi

Republik Islam Iran adalah salah satu negara terkemuka di bidang Nanoteknologi. Sektor Nanoteknologi Iran dalam empat tahun terakhir mengalami pertumbuhan signifikan, di mana rata-rata lebih dari 120 persen pertahun meskipun negara ini didera berbagai sanksi dan dalam kondisi ekonomi yang sulit. Saat ini, Iran berada di peringkat keenam dunia dari sisi produksi nano.

Di Iran, era baru pertumbuhan ekonomi telah dimulai, di mana era ini bersandar pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, penguatan sumber daya manusia dan pengembangan perusahaan-perusahaan berbasis ilmu pengetahuan.

 

Terkait hal itu, berbagai investasi telah ditanamkan di bidang-bidang ilmu pengetahuan modern di Iran seperti pengembangan Sel induk (stem cell/sel punca), Nanoteknolgi dan nuklir, di mana bidang-bidang ini diperlukan oleh negara.

 

Saeed Sarkar, Sekretaris Dewan Inisiatif (Pengembangan) Nano Teknologi Republik Islam Iran (INIC) mengusulkan kepada pemerintah Republik Indonesia untuk menjalin kerjasama kedua negara dalam mengembangkan Nanoteknologi untuk membantu mengatasi berbagai masalah kesehatan, industri, hingga lingkungan.

 

Usulan tersebut disampaikan Sarkar dalam wawancara dengan Economy Okezone ketika ia mengunjungi Jakarta, ibukota Indonesia baru-baru ini. Pembicaraan antara Iran dan Indonesia untuk menjalin kerjasama di sektor Nanoteknologi dilakukan menyusul dialog antara Hassan Rouhani, Presiden Iran dan Joko Widodo, mitranya dari Indonesia pada tahun lalu dan kesepakatan kedua pihak untuk bekerjasama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

Sekretaris INIC mengatakan, Dewan Pengembangan Nanoteknologi Iran memiliki misi ingin memperkenalkan teknologi nano ke khalayak lebih luas, khususnya warga Indonesia sebagai sesama negara Muslim demi mengimbangi kemajuan yang sudah dicapai sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat dan Jerman.

Sarkar menambahkan, saat ini teknologi nano telah menjadi jawaban banyak persoalan, mulai dari mahalnya biaya pengobatan, tingginya ongkos produksi, dan pencemaran lingkungan. Ia menjelaskan, salah satu contoh manfaat nanoteknologi di bidang kesehatan adalah obat kanker. Peneliti Iran telah mengembangkan jenis obat yang dapat langsung menyasar sel kanker atau tumor ganas dalam jaringan tubuh sehingga efeknya tidak separah kemoterapi, bahkan, harga obat kanker teknologi nano buatan Iran lebih murah dibanding ongkos pengobatan umumnya.

Menurut Sarkar, di samping manfaat di bidang medis, nanoteknologi telah menjawab persoalan pencemaran lingkungan dan kebutuhan efisiensi pada industri. Ia menuturkan, saat ini banyak negara mengalami masalah pencemaran air, salah satunya akibat limbah pembangunan. Namun sejak adanya teknologi nano, zat berbahaya misalnya timbal dapat dipisahkan dari air. Begitu pun di bidang industri, teknologi nano memungkinkan berbagai macam produk dibuat lebih murah, cepat, dan tahan lama.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam berbagai pertemuan dengan para dosen, kalangan akademisi dan peneliti –selain menjelaskan tujuan-tujuan pemerintahan Islam– juga selalu menegaskan pentingnya untuk mencapai pertumbuhan tertinggi di bidang ilmu pengetahuan di universitas dan pusat-pusat ilmiah.

 

Rahbar menilai pencapaian puncak ilmu pengetahuan sebagai keharusan yang akan mengantarkan Republik Islam kepada sebuah kekuatan ilmiah. Dalam konteks ini, ada dua faktor yang memiliki peran penting. Pertama, memperkuat perusahaan-perusahaan yang berbasis ilmu pengetahuan, dan kedua, memperkuat "diplomasi ilmiah. "

 

Pusat-pusat ilmu pengetahuan dan teknologi dan perusahaan-perusahaan berbasis ilmu pengetahuan akan membuka jalan untuk komunikasi internasional dan pertukaran ilmiah serta perdagangan di sektor teknologi antara Iran dan negara-negara lain. Selain itu, juga bisa mengidentifikasi pasar-pasar internasional untuk keperluan ekspor dan menjual serta menularkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada negara-negara lain.

 

Saat ini, ada 38 pusat teknologi yang aktif di Iran dan negara ini juga berinvestasi dan bekerjasama dengan negara-negara pemilik ilmu pengetahuan dan teknologi. Negara-negara seperti Cina, Korea Selatan, Jepang, Rusia, Italia, Jerman dan negara-negara lainnya saat ini sedang masuk ke sektor kerjasama dengan Iran di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

Menurut rencana, pertemuan tentang pengembangan kerjasama ilmu pengetahuan dan teknologi antara Iran dan Italia akan digelar di Universitas Shahid Beheshti  pada tanggal 19-20 April 2017. Even ini akan dihadiri oleh perusahaan-perusahaan terbesar dan berbasis ilmu pengetahuan Italia dan sejumlah perusahaan berbasis ilmu pengetahuan.

 

Dalam pertemuan terbaru Sorena Sattari, Wakil Presiden Iran untuk Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan Wan Gang, Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Cina disepakati bahwa kedua negara akan membentuk Komite Bersama Kerjasama untuk mengdongkrak level hubungan dan kerjasama di bidang IPTEK.

 

Saat ini, 15 perusahaan berbasis ilmu pengetahuan Iran mengekspor produksinya ke pasar-pasar di lebih dari 20 negara termasuk Irak, Uzbekistan, Turkmenistan, Afghanistan, Rusia, Korea Selatan dan negara-negara lainnya.

 

Kerjasama antara Iran dan Indonesia –sebagai dua negara yang memiliki kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologi serta anggota Kelompok D-8 (yang mencakup Bangladesh, Indonesia, Iran, Malaysia, Mesir, Nigeria, Pakistan, dan Turki)– bisa menjadi model kerjasama ilmiah dan pertukaran teknologi yang menjadi perhatian bagi negara-negara Muslim lainnya. (RA)