Rahiyan-e Nour: Wisata Ziarah Syuhada
https://parstoday.ir/id/news/iran-i36116-rahiyan_e_nour_wisata_ziarah_syuhada
Oleh: Emi Nur Hayati Bukan sebuah kebetulan mendapatkan kesempatan untuk ikut serta rombongan Rahiyan-e Nour. Sebuah rombongan wisata menziarahi syuhada di kawasan perang dari peninggalan perang Iran dan Irak selama delapan tahun. Pengalaman wisata ini saya nilai sebagai sebuah taufik dan panggilan ilahi untuk merenungi banyak hal di kawasan tempat para syuhada meneguk cawan syahadahnya.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Apr 16, 2017 10:36 Asia/Jakarta
  • Shalamche
    Shalamche

Oleh: Emi Nur Hayati Bukan sebuah kebetulan mendapatkan kesempatan untuk ikut serta rombongan Rahiyan-e Nour. Sebuah rombongan wisata menziarahi syuhada di kawasan perang dari peninggalan perang Iran dan Irak selama delapan tahun. Pengalaman wisata ini saya nilai sebagai sebuah taufik dan panggilan ilahi untuk merenungi banyak hal di kawasan tempat para syuhada meneguk cawan syahadahnya.

Rahiyan-e Nour adalah sebuah nama untuk karavan wisata spiritual di Iran yang mengunjungi kawasan perang dari peninggalan perang Iran dan Irak di bagian barat dan barat daya Iran yang terletak di daerah perbatasan antara negara Iran-Irak. Biasanya karavan-karavan ini melakukan aktivitasnya bersamaan dengan hari-hari libur tahun baru dan musim panas. Gerakan ini merupakan sebuah wisata perang yang dibawahi oleh Badan Pemeliharaan Peninggalan dan Penerbitan Nilai-Nilai Pertahanan Suci.

 

Pada mulanya, pasca perang delapan tahun melawan serangan Partai Baath yang dikepalai oleh Saddam Hossein Presiden Irak terhadap Iran, acara wisata ziarah syuhada ini ditangani oleh masyarakat secara suka rela khususnya para pejuang pada tahun 1376 HS atau 1997 M. Namun, setelah kunjungan Rahbar; Imam Khamenei, pada tanggal 1 Aban 1378 HS, ke monumen Shalamcheh di tengah-tengah para peziarah, acara wisata ziarah syuhada menjadi lebih diperhatikan. Akhirnya, pada tanggal 12 Isfand1378 HS dibentuklah sebuah koordinasi Rahiyan-e Nour di bawah tanggung jawab Badan Pemeliharaan Peninggalan dan Penerbitan Nilai-Nilai Pertahanan Suci oleh Seluruh Angkatan Bersenjata Iran dan pada tahun 1384 HS atas perintah Imam Khamenei, dibentuklah Staf Pusat Rahiyan-e Nour dan pada tahun 1390 HS wisata Rahiyan-e Nour merupakan bagian dari kurikulum sekolah sebagai masa praktik pelajaran bela negara, di sekolah menengah umum.

 

Jarak perjalanan dari Tehran ke daerah kawasan perang yang ada di perbatasan ditempuh dalam waktu sekitar lima belas jam. Sebelum keberangkatan para rombongan terlebih dahulu mengadakan acara ziarah syuhada yang tak dikenal yang dimakamkan di halaman masjid Bilal yang berada di lokasi IRIB dan melakukan salat jamaah maghrib dan isya di masjid. Setelah salat para peziarah siap memasuki bus-bus yang sudah disiapkan berdasarkan nama-nama yang sudah dicantumkan. Rombongan terdiri dari enam belas bus dan beberapa mobil para pengurus dari pihak basiji IRIB. Karena trafik Tehran sangat padat, bus-bus peziarah ini dikawal oleh polisi dan melewati jalur khusus BRT, sampai ke keluar kota. Sehingga di kota Tehran sendiri bisa ditempuh dalam waktu yang singkat.

 

Kami sekeluarga ikut serta dalam rombongan. Tentunya kami tidak saling mengenal dengan rombongan lainnya. Namun, secara perlahan setelah beberapa jam berada bersama dalam safar, akhirnya kami saling mengenal dan menjadi akrab. Di situlah kami menemukan banyak teman. mendapatkan banyak pengalaman selain pengalaman spiritual pribadi yang kami dapatkan dari syuhada.

 

Para syuhada banyak memberikan pelajaran dan ibrah untuk kami yang saat ini masih diberi kesempatan untuk bernapas. Tentunya mereka para syuhada ini adalah hidup dan mendapatkan rezekinya dari Allah Swt. Sebagaimana ayat al-Quran yang menyebutkan, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran: 169)

 

Sebelum Zuhur rombongan kami tiba di kota Ahvaz dan turun menuju ke kamp Mahmoudvand. Di sana ada Mi’raj Syuhada; tempat dimana para syuhada yang baru diselidiki dan ditemukan, dipindahkan ke sana dan para peziarah Rahiyan-e Nour datang menziarahi mereka. Di sela-sela acara ziarah syuhada yang baru diselidiki dan ditemukan, para perawi perang menyampaikan riwayat dan liku-liku perang dan kejadian yang dialaminya bersama para syuhada di pertengahan medan pertempuran.

 

Pada saat itu kami turun dari bus dan menuju ke Mi’raj Syuhada. Gedung yang ada dipisah antara para peziarah pria dan wanita. Di tempat perempuan ada satu tabut seorang syahid juga beberapa jenazah syuhada yang berada di dalam zarih [pagar makam]. Sementara di ruangan para pria ada lima tabut syuhada juga beberapa jenazah syuhada yang berada di dalam zarih. Karena zarih dibentuk memanjang dan dipisahkan dengan tabir di bagian tengahnya antara ruangan wanita dan pria.

 

Suasananya benar-benar penuh spiritual. Setiap orang menikmati spiritualnya masing-masing. Para peziarah secara bergantian memegang tabut dan berdoa serta bermunajat kepada Allah. Ada juga sebagian yang menulis curahan hatinya di atas plastik pelapis tabut syahid yang ada. Saat itu saya hanya bisa menyaksikan dari jarak beberapa meter dari tabut syahid. Karena para peziarah sangat banyak dan bergantian memegangnya. Saya hanya bisa berharap dan membayangkan bahwa saya sedang memegang dan mencium tabut itu serta mengucapkan salam dan shalawat untuk syahid yang ada ini juga memegang zarih para syuhada yang tak dikenal. Namun setelah beberapa saat harapan saya ini terkabulkan juga. Ternyata saya juga mendapatkan panggilan dan kesempatan untuk memegang dan mencium serta mengucapkan salam sebagaimana beberapa saat yang saya bayangkan. Sungguh pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Memegang tabut seorang syahid yang tak dikenal. Menjadikannya sebagai perantara munajat kepada Allah. Karena sesungguhnya mereka memiliki tempat yang mulia dan istimewa di sisi Tuhannya. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Dan ini bukan sebuah kebetulan tapi sebuah undangan dari para syuhada itu sendiri untuk menziarahi mereka.

 

Setelah selesai menunjungi Mi’raj Syuhada, rombongan menuju kamp Dej. Dua gedung besar disediakan secara terpisah antara para peziarah laki dan perempuan. Untuk istirahat dan makan siang. Sebelum makan siang, diadakan acara salat berjamaah Zuhur dan Asar. Setelah selesai makan siang, para peziarah kembali melanjutkan kembali perjalanan spiritualnya menuju ke monumen Nahr-e Khayyin.

 

Selama dalam wisata ini, para peziarah mendapat layanan gratis mulai dari makan, tempat tinggal dan jamuan lainnya seperti buah-buahan dan camilan serta minuman, juga seperangkat tas yang berisi buku catatan, pena dan cafiyeh juga brosur setiap monumen.

 

Di monumen dan di camp itu sendiri para peziarah di layani oleh panitia-panitia dari anggota basiji dengan segala keramahannya dan tentu saja dibarengi dengan kedisiplinan dan kerapian yang ada. Segalanya harus dilakukan secara rapi dan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang ada. Para panitia ini disebut dengan Khadimus Syuhada. Mereka datang dari seluruh penjuru daerah di Iran dengan cara mendaftar secara online ke situs Staf Pusat Rahiyan-e Nour.

 

Ketika sampai di monumen Nahre Khayyin, seorang perawi menceritakan kejadian yang dialaminya selama masa peperangan melawan serangan partai Baath Iraq. Khayyin adalah sebuah sungai di desa Khayyin terletak di sebelah barat kota Khorramshar. Di seberang sungai tampak bendera Irak di atas gedung penjagaan perbatasan negara Irak-Iran. Sambil memandang bendera itu dan beberapa orang militer Irak, sempat muncul sebuah pertanyaan dalam benak saya:

 

“Ajaib! Sudah hampir selama dua puluh tahun, masyarakat Iran mengunjungi tempat-tempat perang dan menghidupkan nilai-nilai pertahanan sucinya menghadapi serangan partai Baath Irak. Dengan semangat dan penuh spiritual mereka mengenang perjuangan dan pergorbanan para ksatria bangsa yang rela meninggalkan kehidupan duniawinya yang nyaman demi membela negara dan bangsanya dari serangan asing. Sementara di seberang sana tidak ada kabar apa-apa tentang acara peringatan ini?”

 

Iya. Iran bukan sebagai negara penyerang tapi sebagai negara yang mempertahankan keutuhan batas teritorialnya dari serangan musuh. Iran telah mengorbankan ribuan pejuang dan pembela negaranya demi menjaga negara dan bangsanya. Berkat darah para syuhada dan semangat para pejuang, nilai-nilai pertahanan suci ini tetap bertahan dan membudaya di kalangan masyarakat. Dan jangan lupa bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan menghormati jasa pahlawannya.

 

Setelah beberapa saat kami mendengarkan perawi meriwayatkan peristiwa perang, kami kembali menuju bus masing-masing untuk bergerak ke monumen Shalamcheh.

 

Shalamcheh juga sebuah daerah perbatasan di sebelah barat kota Khorramshar. Di Shalamcheh sendiri ada kantor imigrasi tempat keluar masuknya warga menuju ke negara tetangga Irak. Menjelang Magrib kita sampai di sana. Di sana ada gedung untuk melaksanakan salat jamaah, gedung pameran budaya, monumen berupa mimbar, tempat saat Imam Khamenei berpidato di sana pasca perang di tengah-tengah para peziarah. Bunker-bunker perang masih diabadikan, tank-tank Saddam Husein yang sudah menjadi bangkai tetap diabadikan di tempatnya semula. Tampak kawat-kawat berduri di sana.

 

Setelah salat jamaah Magrib dan Isya, para peziarah berkumpul di padang sahara yang semuanya merupakan medan perang. Di situ para pejuang Iran meneguk cawan syahadahnya akibat serangan pasukan Baath. Perawi lainnya lagi yang menyampikan riwayat perang dengan detil dan para peziarah menangis mendengarkan kisahnya. Di bawah naungan langit para peziarah bertawasul pada Sayidus Syuhada Imam Husein as dan bermunajat kepada Allah. Sungguh suasananya sangat hening dan penuh spiritual. Terakhir seorang pembaca kidung duka Ahlul Bait Rasulullah Saw membacakan doa dan para peziarah mengamininya.

 

Ini sebagian riwayat ziarah syuhada di hari pertama.

 

Pada hari kedua, setelah para peziarah melakukan salat berjamaah subuh di kamp Dej, mereka sarapan pagi. Setelah itu siap untuk berangkat ke kawasan perang dan monumen Talaiyeh. Di sana ada beberapa makam syahid tak dikenal. Di sekitar monumen itu tampak beberapa bangkai tank partai Baath Irak yang sudah membangkai dan tampak kawat-kawat berduri juga. Para penjaga yang disebut dengan khadim syuhada [pelayan syuhada] tampak begitu sopan dan ramah menyambut para peziarah. Puluhan bus berjejer di depan halaman  monumen datang dari berbagai kota.

 

Begitu kami memasuki halaman monumen, ada beberapa mahasiswi yang menyapa kami dan ingin kenalan. Mereka mengenalkan diri sebagai seorang sayidah keturunan Rasulullah. Sempat kami mengobrol  agak lama dan diakhiri dengan foto bersama. Setelah itu kami masuk ke area makam syuhada tak dikenal. Setelah beberapa menit berziarah dan bermunajat, kami keluar dari gedung dan bertemu dengan seorang ulama dan dia memberikan tanda mata berupa potongan cafiye seorang syahid yang dikemas dalam plastik secara rapi.

 

Sebelum kami meninggalkan monumen Talaiyeh, kami sempat berfoto bersama beberapa khadimus syuhada.

 

Perjalanan selanjutnya menuju monumen Huwaizeh...

 

Di sana kami mengerjakan salat Zuhur dan makan siang, kemudian menziarahi makam syuhada dan mendengarkan riwayat perang.

 

Setelah itu kami menuju ke kamp Mishdagh. Di sana selain disediakan tempat penginapan, makan malam juga disediakan jamuan spiritual. Para peziarah diminta berkumpul hadir acara menyaksikan dan masuk ke dalam medan perang kecil-kecilan. Bandingannya adalah satu persen dari perang sebenarnya. Ada bom meledak ada tembakan dan lain sebagainya sebagaimana kejadian perang sungguhan yang tidak bisa diprediksi sebelumnya. Kami merasakan panasnya ledakan bom yang ada. Gelapnya malam saat listrik mati dan suasananya yang mencekam.

 

Setelah acara perang kecil-kecilan, rombongan menuju makam syuhada tak dikenal melakukan ziarah dan munajat kepada Allah. Sungguh sebuah pengalaman yang tak pernah terjadi sebelumnya. Pengalaman spiritual yang mengantarkan manusia lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhannya dan memperbarui jiwa dan janjinya dengan para syuhada.

 

Pagi harinya setelah sarapan pagi, rombongan siap menuju ke monumen Chazabeh. Sebuah monumen di  daerah perbatasan Iran dan Irak. Di sana terdapat delapan makam syuhada tak dikenal. Pasukan Saddam Hossein menjadikan daerah ini sebagai salah satu jalur dari lima jalur untuk memasuki kota Khozestan.

 

Sebelum mendengarkan riwayat yang disampaikan oleh perawi perang, para peziarah membacakan fatihah dan shalawat untuk para syuhada tak dikenal yang dimakamkan di monumen Chazabeh ini. Setelah itu berkumpul mendengarkan pidato perawi.

 

Seorang perawi meriwayatkan kisah salah seorang syahid bernama Qodratullah Hosseinzadeh.

 

Suatu hari beberapa anak sedang bermain bola. Seorang anak bernama Qodratullah hanya menonton dan tidak mau main. Teman-temannya menawarkannya untuk ikut serta bermain, tapi dia menolak. Dia berkata, aku tidak bisa main bola. Dikatakan kepadanya, kalau hanya menendang bola kamu pasti bisa. Akhirnya dia dipilih sebagai penjaga gawang. Bola berkali-kali lolos masuk ke gawang dan mencapai gol. Qodratullah berdiri sambil memegang tasbihnya di belakang punggungnya. Di mana saja dia berada, selalu membawa tasbihnya dan komat kamit berzikir.

 

Saya berkata, “Qodratullah zikir apa yang engkau baca?”

 

Dia menjawab, “Jangan berurusan dengan pekerjaanku.”

 

Pada malam operasi Karbala 5 [operasi melawan serangan pasukan Baath Irak] di Shalamcheh, saya melihat wajah Qodratullah penuh dengan air mata dan tasbih berada di tangannya.

 

Saya mendekatinya dan berkata, “Qodratullah! Demi Sayidah Zahra as apa yang engkau baca? Karena aku menyumpahinya dengan nama Sayidah Zahra as, dia tidak tahan dan akhirnya dia berkata, “Fulani, ini bukan pekerjaanku hari ini?”

 

“Sudah lama aku mengucapkan “Assalamu alaika Ya Aba Abdillah”

 

Saya berkata, “Mengapa?”

 

Dia mengatakan, “Aku ingin membaca zikir ini terus menerus sampai pikiranku terbiasa dengannya, sehingga aku diizinkan oleh Allah saat kematianku, sekali saja aku katakan, “Assalamu Alaika Ya Aba Abdillah” kemudian aku mencapai syahadah.”

 

Ketika pasukan kami harus mengundurkan diri, tiba-tiba saya melihat Qodratullah berada di tanggul memanggil saya. Begitu saya melihat, kepalanya terkena tembakan. Saya berlari dan memangku kepalanya. Saya menghiburnya, “Qodratullah, tidak ada apa-apa?”

 

Tembakan mengenai kepalanya dan batok kepalanya pecah. Tapi dia tidak mengaduh aah... saat itu dia memandang ke langit sambil tersenyum hanya mengatakan satu kalimat, “Assalamu Alaika Ya Aba Abdillah” kemudian mencapai syahadah.” Syahid Qodratullah hanya berusia sekitar enam belas sampai tujuh belas tahun.”

 

Para syuhada seakan-akan sudah mengetahui akhir kehidupannya dan model kematiannya. Para syuhada sudah menyiapkan akhir kehidupannya jauh-jauh hari sebelum kematiannya.

 

Dari Chazabeh, rombongan menuju ke monumen Fakkeh.

 

Fakkeh; sebuah padang sahara yang terdiri dari perbukitan dan menjadi poros asli serangan Saddam Hossein ke utara Khozestan.

 

Di Fakkeh ditemukan 120 jenazah syuhada. Di sana juga tempat syahadahnya syahid Sayid Morteza Avini seorang penulis dan perawi perang. Syahid Avini mencapai syahadah saat melakukan penyelidikan jenazah para syuhada. Karena ranjau yang ditebar oleh pasukan Baath di kawasan Fakkeh. Dia disebut sebagai Sayid-e Syahidan-e Ahli Qalam oleh Rahbar Imam Khamenei. Karena karya tulisnya yang bisa menjadi lentera jalan bagi masyarakat.

 

Satu lagi seorang syahid yang mencapai syahadah di Fakkeh adalah Jendral Ali Mahmoudvand, seorang komandan penyelidikan laskar 27 Mohammad Rasulullah. Dia mencapai syahadah saat melakukan penyelidikan jenazah para syuhada.

 

Di kawasan monumen Fakkeh ini disediakan mihrab-mihrab di atas tanah dengan dikelilingi karung-karung goni yang dipenuhi dengan tanah. Sebagian para peziarah melakukan salat di mihrab-mirab tersebut dan bermunajat kepada Tuhannya di sana.

 

Kawasan menuju tempat syahadahnya para syuhada dan syahid Avini, dimulai dengan pintu gerbang dan para peziarah melepas sepatunya dan berjalan dengan kaki telanjang karena penghormatan mereka kepada syuhada. Darah dan tubuh syuhada menyatu dengan tanah yang dilewati oleh para peziarah ini. Tanah yang lembut berupa pasir halus dan agak berat berjalan di atasnya karena pasir-pasir yang lembut ini.

 

Di setiap monumen selalu siap seorang perawi perang menjelaskan kejadian pada masa itu dan kebetulan kami di sana menjelang azan Zuhur dan para peziarah melakukan salat Zuhur berjamaah di kawasan tempat syahadahnya para syuhada.

 

Setelah salat Zuhur, para peziarah masuk ke tempat peristirahatan dan siap makan siang. Setelah makan siang rombongan mulai naik kembali ke bus masing-masing dan perjalanan ziarah syuhada berakhir di sini dan kami kembali ke ibu kota lagi.

 

Wisata ziarah syuhada selama tiga hari menjadi sebuah charger bagi diri kita, memperbarui kejiwaan dan mental kita di akhir tahun menjelang tahun baru dan menjadi bekal spiritual untuk tahun berikutnya. Menelaah kehidupan setiap syahid sangat diperlukan. Karena mereka adalah orang-orang yang telah berhasil mengenal dan mendidik dirinya sehingga dengan baik telah mengenal Tuhannya. Dengan menelaah kehidupan para syuhada, akan membantu kita untuk lebih mengenal dan memperbaiki diri, dengan harapan bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

 

Semoga taufik ilahi ini senantiasa menyambut kita untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan yang membawa diri kita menjadi lebih baik. Sebagaimana ucapan Imam Ali as, setiap hari harus lebih baik dari hari kemarin.

 

Tehran, awal musim semi 1396 HS