Permainan Amerika dengan IAEA Demi Pengaruhi JCPOA
Amerika sebagai negara yang tidak melaksanakan komitmennya dalam kerangka Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), secara sepihak berusaha mempolitisasi kesepakatan internasional nuklir Iran.
Nikki Haley, Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setelah melakukan pertemuan dengan Yukiya Amano, Dirjen Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di laman Twitternya menulis, "Delegasi Amerika pergi Wina dipenuhi dengan pelbagai pertanyaan soal kesepakatan nuklir Iran. Saat bertemu dengan Amano mendapat jawab yang bagus, tapi Amerika masih ragu dan punya banyak kekhawatiran."
"Laporan-laporan IAEA hanya benar terkait fasilitas nuklir Iran yang dapat diakses oleh mereka," tambahnya.
Sikap Nikki Haley pasca pertemuannya dengan Yukiya Amano di Wina menunjukkan Amerika menekan IAEA agar JCPOA sesuai dengan garis yang diinginkan Gedung Putih. Sebagai jawaban atas sikap Dubesa AS di PBB ini, wakil tetap Iran di PBB hari Kamis (24/8) menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah membiarkan penyalahgunaan aturan internasional demi memuaskan kepentingan Amerika.
Para pejabat baru di Amerika tahu benar masalah penting ini bahwa Iran selama ini komitmen dengan semua kewajibannya dalam kerangka JCPOA. Tapi dalam kondisi yang demikian, mereka masih tetap berusaha secara sepihak menafsikan peran dan kewajiban IAEA terkait JCPOA. Amerika berusaha mengangkat kembali masalah buatan yang sempat mempengaruhi program nuklir Iran agar terwujud kondisi untuk mempengaruhi JCPOA.
Kasus investigasi terhadap masalah potensi dimensi militer (PMD) telah ditutup bersamaan dengan kesepakatan nuklir Iran dengan kelompok 5+1 atau Rencana Aksi Bersama Konprehensif (JCPOA). Kasus yang bermula dari sebagian pihak memberikan informasi tidak jelas dan dibuat-buat kepada IAEA, sehingga untuk beberapa waktu sebelum tercapai kesepakatan nulkir sempat mempengaruhi program nuklir Iran dan proses perundingan nuklir. Sebagian pihak mengklaim Iran di pusat-pusat militernya melakukan aktivitas nuklir. Sebuah klaim yang tidak pernah terbukti.
Itu adalah sebuah cara untuk menekan IAEA memasuki masalah di luar tugasnya dan merupakan permainan baru Amerika. Dengan cara ini, Amerika akan menyebut Iran telah melanggar JCPOA. Donald Trump, Presiden Amerika berusaha keras keluar dari kesepakatan JCPOA dengan biaya Iran.
Sekaitan dengan hal ini, Mohammad Javad Jamali, anggota Dewan Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri Majlis Syura Islami Iran hari Rabu (23/8) menekankan bahwa kasus PMD telah ditutup bersamaan dengan dicapainya kesepakatan JCPOA.
"Inspeksi Badan Energi Atom Internasional ke pusat-pusat militer Iran adalah ilegal dan sesuai dengan dokumen JCPOA, lembaga internasional ini hanya boleh melakukan inspeksi ke situs-situs nuklir," ujarnya.
Pelaksanaan JCPOA sejak Januari 2016, Dirjen IAEA dalam 7 laporan yang telah dipublikasikan menegaskan Iran komitmen terhadap JCPOA. Dalam kondisi demikian, diharapkan IAEA sebagai lembaga internasional yang independen tidak terpengaruh provokasi Amerika.
Sekaitan dengan hal ini, Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri menulis surat kepada Federica Mogherini, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa dan Yukiya Amano, Dirjen Badan Energi Atom Internasional menegaskan, "Tekanan Amerika kepada lembaga penting internasional ini melanggar semangat dan teks JCPOA dan IAEA harus menyikapinya secara profesional."