30 Agustus, Hari Anti-Terorisme di Iran
https://parstoday.ir/id/news/iran-i43635-30_agustus_hari_anti_terorisme_di_iran
Bangsa Iran adalah salah satu korban fenomena buruk terorisme. Setelah kemenangan Revolusi Islam Iran di tahun 1979, lebih dari 17000 warga negara ini dan pejabat pemerintah tewas di tangan kelompok teroris mujahidin khalq (MKO) serta berbagai kelompok teroris lainnya.
(last modified 2026-04-12T10:02:39+00:00 )
Aug 30, 2017 15:43 Asia/Jakarta

Bangsa Iran adalah salah satu korban fenomena buruk terorisme. Setelah kemenangan Revolusi Islam Iran di tahun 1979, lebih dari 17000 warga negara ini dan pejabat pemerintah tewas di tangan kelompok teroris mujahidin khalq (MKO) serta berbagai kelompok teroris lainnya.

8 Shahrivar bertepatan dengan 30 Agustus mengingatkan sebuah peristiwa tragis yang kemudian diabadikan di kalender Iran sebagai hari anti terorisme.

36 tahun silam, kelompok teroris MKO meledakkan bom di kantor perdana menteri Iran serta menggugurkan Presiden Mohammad-Ali Rajai dan Perdana Menteri Mohammad Javad Bahonar.

Terorisme tidak mengenal batas dan menjadi ancaman global yang merusak keamanan wilayah hingga keamanan ekonomi serta menghancurkan ideologi agama dan warisan budaya. Realitanya adalah Barat, sesuai dengan kepentingannya, membagi terorisme menjadi teroris baik dan buruk  sehingga mereka bisa bertindak sesuai dengan ambisinya.

Negara-negara seperti Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris meski memiliki informasi sempurna atas kejahatan MKO, tetap bersedia menampung mereka selama lebih dari tiga dekade. Tentunya hal ini tidak gratis, karena ketiga negara tersebut mengejar ambisinya dengan memelihara para teroris. Namun waktu membuktikan bahwa terorisme tidak mengenal batas teritorial dan kini sampai pada fase tidak ada lagi pemenang dalam hal ini.

Noam Chomsky, pengamat senior Amerika seraya menggulirkan pertanyaan apakah tujuan AS mendorong terorisme atau memberantasnya mengatakan, "Jika kalian ingin mengakhiri terorisme maka pertama-tama harus ditanya mengapa muncul terorisme dan apa motif utamanya serta seberapa dalam akarnya."

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khemenei menyusul serangan teror di Perancis beberapa tahun lalu seraya menekankan untuk menemukan hakikat terorisme, di suratnya kepada para pemuda Eropa di Barat mengisyaratkan kontradiksi dan akar dari fenomena buruk ini.

Salah satu kontradiksi di fenomena terorisme adalah sikap tebang pilih Barat terkait terorisme. Realitanya adalah Amerika Serikat dengan menunggangi gelombang akibat insiden 11 September dan munculnya fenomena seperti al-Qaeda dan Daesh menjadikan perang kontra terorisme sebagai alat untuk mensukseskan ambisi busuknya.

Ben Reynolds, penulis dan analis Amerika Serikat terkait hal ini mengatakan, kelompok teroris seperti Daesh mendapat dukungan melalui intervensi Barat di Asia Barat dan pengaruh pemain regional seperti Arab Saudi.

Seraya berbicara secara anonim, ia menambahkan, motivasi kemunculan Daesh bukan rahasia, barat dan sekutunya hanya cukup berdiri di depan cermin dan menyaksikannya.

8 Shahrivar di kalender Iran diperingati sebagai Hari Anti Terorisme  dan menjadi peluang untuk merunut kembali seluruh peristiwa ini sehingga kita tetap mengingat mengapa terorisme menjadi ancaman global. (MF)