WHO: 2.052 Tenaga Medis Gugur di Sudan
-
Pasukan Dukungan Cepat (RSF)
Pars Today - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan mencengangkan tentang situasi kemanusiaan dan kesehatan yang mengerikan di Sudan mengumumkan bahwa serangan terarah terhadap infrastruktur medis di negara ini telah mengakibatkan gugurnya ribuan tenaga kesehatan.
Melaporkan dari jaringan Al Jazeera, IRNA pada Rabu, 15 April 2026, WHO mengumumkan bahwa sejak awal konflik di Sudan, 2.052 tenaga medis dan kesehatan telah gugur, sebuah pukulan yang tak terperbaiki bagi struktur kesehatan Sudan.
Menurut data organisasi ini, sekitar 217 serangan terhadap pusat dan fasilitas kesehatan juga tercatat.
Laporan ini melanjutkan bahwa akibat hancurnya infrastruktur dan berlanjutnya perang, saat ini 40 persen penduduk Sudan sangat membutuhkan akses ke pusat-pusat perawatan medis dan layanan kesehatan. Sebagian besar kebutuhan ini, karena kondisi keamanan dan kurangnya fasilitas, tidak terpenuhi.
Al-Fasher: "Adegan Kejahatan Raksasa"
Pada 26 Oktober 2025, milisi Pasukan Dukungan Cepat (RSF) menguasai kota Al-Fasher. Berdasarkan laporan, mereka melakukan pembantaian dan pembunuhan massal.
Investigasi harian Inggris The Guardian menggambarkan kota Al-Fasher menyerupai "adegan kejahatan raksasa", di mana tumpukan mayat bergelimpangan di jalan-jalan, dan milisi berupaya menghilangkan bukti terkait skala pembantaian.
Menurut laporan ini, mayat-mayat dikumpulkan di puluhan lokasi untuk dikubur dalam kuburan massal atau dibakar dalam lubang-lubang besar.
Sementara pusat Negara Bagian Darfur Utara ini masih tertutup bagi pihak luar, termasuk inspektur kejahatan perang PBB, citra satelit menunjukkan jaringan lubang-lubang baru yang digali untuk membakar dan mengubur mayat — yang diduga digunakan untuk menghilangkan sejumlah besar jenazah.
Meskipun angka final korban jiwa belum jelas, berdasarkan laporan yang disampaikan kepada anggota parlemen Inggris, setidaknya 60.000 orang telah tewas di Al-Fasher.(sl)