Kesiapan Iran Dukung Negara Tetangga Perangi Terorisme
https://parstoday.ir/id/news/iran-i43889-kesiapan_iran_dukung_negara_tetangga_perangi_terorisme
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Mohammad Javad Zarif saat diwawancarai televisi al-Mayadeen Lebanon seraya menjelaskan bahwa seluruh negara kawasan menghadapi kendala terorisme menekankan, "Iran tanpa mengindahkan mazhab, akan mendukung negara-negara kawasan."
(last modified 2026-04-12T10:02:39+00:00 )
Sep 07, 2017 09:25 Asia/Jakarta
  • Menlu Iran Mohammad Javad Zarif
    Menlu Iran Mohammad Javad Zarif

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Mohammad Javad Zarif saat diwawancarai televisi al-Mayadeen Lebanon seraya menjelaskan bahwa seluruh negara kawasan menghadapi kendala terorisme menekankan, "Iran tanpa mengindahkan mazhab, akan mendukung negara-negara kawasan."

Penekanan Iran atas kesiapannya membantu negara tetangga memerangi terorisme bukan sekedar slogan, tapi secara praktis Tehran juga telah membuktikan kerja sama dan perang sejati melawan terorisme. Kemenangan beruntun di front anti teroris Takfiri di Suriah dan Irak mengindikasikan bahwa kerja sama nyata dan solidaritas, mampu mengembalikan keamanan dan stabilitas ke kawasan.

Pembebasan Aleppo dan kini Deir Ezzor, Mosul dan Tal Afar adalah langkah besar yang mengakhiri eksistensi Daesh di Irak dan Suriah. Keberhasilan ini bukan hasil dari pertempuran Amerika Serikat melawan Daesh, tapi buah dari resistensi dan solidaritas militer dan pasukan relawan rakyat baik itu Syiah maupun Sunni dalam melawan Daesh beserta sponsornya.

Jeffrey Sachs, pakar ekonomi Amerika satu tahun lalu merilis sebuah artikel di laman project-syndicate.org, ”...Kemenangan atas Daesh bukan hal yang sulit, karena kelompok ini tidak memiliki pasukan yang besar. Namun masalahnya adalah Amerika dan sekutunya tidak menganggap Daesh sebagai musuh utamanya. Meski Presiden Barack Obama pada September 2014 berjanji memberantas akar Daesh, namun Amerika dan sekutunya termasuk Arab Saudi, Turki dan Israel hanya fokus untuk menggulingkan Presiden Suriah, Bashar al-Assad."

Hasil riset terbaru sebuah pusat penelitian Israel juga menunjukkan bahwa Arab Saudi masih akan tetap melanjutkan penyebaran Wahabisme dan Salafisme di seluru penjuru dunia di era kekuasaan Mohammad bin Salman.

Pusat riset The Begin-Sadat, di riset terbarunya menulis, potensi bahwa Mohammad bin Salman menghentikan pengokokan Salafisme, tertolak.

Di riset ini diisyaratkan bahwa keluarga kerajaan Al Saud sejak bertahun-tahun lalu menyusun program serangan bom teror di Afghanistan, Irak dan Suriah serta Eropa untuk merusak stabilitas dan keamanan.

Di sisi lain, berbagai indikasi menunjukkan bahwa pemerintahan Donald Trump dan lembaga penyebar ideologi radikalisme anti Islam di Amerika mengejar ambisi bahwa terorisme dukungan Arab Saudi akan bekerja selaras dengan mereka.

Tujuan Amerika dari intervensi ini adalah mengubah geopolitik kawasan dan melanjutkan proyek pemaksaan hegemoni Washington yang telah dimulai sejak berakhirnya era perang dingin.

Tujuan Amerika ini dengan sendirinya membuat perang nyata terhadap terorisme menjadi sangat sulit. Oleh karena itu, dewasa ini bukan saja kondisi kawasan, bahkan persyaratan internasional mengharuskan prioritas kerja sama adalah mencerabut akar terorisme dan radikalisme.

Seperti yang dijelaskan Zarif diwawancaranya dengan televisi al-Mayadeen, Republik Islam Iran telah mengelurkan harga yang besar untuk menyebarkan persatuan Islam, namun begitu negara ini tetap akan melanjutkan jalannya tersebut. (MF)