Doktrin Militer Republik Islam Iran
https://parstoday.ir/id/news/iran-i48777-doktrin_militer_republik_islam_iran
Hak inheren setiap negara merdeka adalah memiliki senjata konvensional untuk kebutuhan pertahanan yang sah dan keamanan. Berdasarkan hak yang melekat ini, Iran telah mencapai semua komponen pertahanan konvensional dan strategis, yang mengandalkan kemampuan para pakar dalam negeri.
(last modified 2026-04-05T23:44:38+00:00 )
Des 27, 2017 13:51 Asia/Jakarta

Hak inheren setiap negara merdeka adalah memiliki senjata konvensional untuk kebutuhan pertahanan yang sah dan keamanan. Berdasarkan hak yang melekat ini, Iran telah mencapai semua komponen pertahanan konvensional dan strategis, yang mengandalkan kemampuan para pakar dalam negeri.

Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Amir Hatami mengatakan, perang yang dipaksakan Irak atas Iran telah membuat negara ini mengenal teman dan musuh Revolusi Islam. "Dengan memperhatikan permusuhan kesumat terhadap Iran, sebuah pandangan strategis jangka panjang telah terbentuk di Iran dan mendorong kami mencapai kemampuan pertahanan," ujarnya.

Di wilayah sensitif Teluk Persia, diperlukan sebuah sikap serius untuk menghadapi pihak-pihak yang merusak keamanan dan stabilitas, ketimbang mengadopsi pendekatan yang tidak rasional dan bias.

Saat ini, keberadaan arsenal senjata nuklir dan senjata mematikan rezim Zionis Israel merupakan faktor utama, yang mengancam perdamaian dan keamanan di Timur Tengah. Selain itu, pembelian senjata besar-besaran oleh beberapa negara Arab di Teluk Persia, termasuk kesepakatan militer senilai 110 miliar dolar Arab Saudi dengan Amerika Serikat, telah meningkatkan ancaman keamanan regional.

Dalam situasi seperti ini, Iran sensitif terhadap ancaman tersebut. Sayid Ahmad Hosseini, seorang analis masalah politik dan internasional mengatakan, "… kemampuan pertahanan sebuah negara adalah faktor fundamental dalam menghadapi skenario dan rencana jahat musuh. Mengabaikan kemampuan pertahanan akan memiliki risiko besar terutama di wilayah Timur Tengah."

Dalam mempertahankan kekuatan rudal, Republik Islam tidak gentar terhadap ancaman dan klaim-klaim musuh. Brigjen Hatami mengatakan, "Strategi musuh adalah melemahkan kekuatan dan kemampuan pertahanan Iran, namun Republik Islam tidak akan mengizinkan siapapun untuk merongrong kekuatan pertahanan negara kami."

Dia menegaskan bahwa Iran akan mempertahankan dan memperkuat kemampuan pertahanannya. Menurutnya, sejak awal kekuatan pertahanan strategis dapat mencegah ancaman terhadap Republik Islam.

Jelas bahwa selama beberapa pihak masih berbicara dengan nada ancaman dengan Iran, maka basis pertahanan Republik Islam akan terus diperkuat.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei baru-baru ini mengkritik sikap Eropa yang mengikuti kemauan AS untuk menekan Iran terkait program pertahanan rudal.

"Eropa seharusnya tidak berbicara seirama dengan Amerika mengenai isu-isu seperti kekuatan defensif Iran dan kehadiran Tehran di kawasan, karena kita sama sekali tidak menerima sikap seirama Eropa dengan negara arogan Amerika," tegasnya.

Yang pasti adalah bahwa Iran tidak pernah mengejar senjata nuklir atau senjata non-konvensional, namun akan meningkatkan level pertahanannya sesuai dengan jenis ancaman.

Saat ini, Iran telah mencapai swasembada dalam produksi peralatan militer yang diperlukan sesuai dengan kebijakannya untuk meningkatkan kemampuan pertahanan di hadapan ancaman potensial. (RM)