Dialog Internal Dunia Islam Cegah Intervensi Trans-Regional
-
Konferensi PUIC PUIC ke-13 di Tehran, RII.
Konferensi Uni Parlemen Negara-Negara Anggota Organisasi Kerjasama Islam (PUIC) ke-13 di mulai pada hari ini, Selasa, 16 Januari 2018 di Tehran, ibukota Republik Islam Iran. Konferensi ini mengusung isu-isu penting yang berkaitan dengan persoalan yang dihadapi oleh negara-negara Muslim terutama Palestina.
Di antara isu yang dibahas dalam konferensi ini adalah pemberantasan terorisme, dukungan kepada cita-cita Palestina dalam menghadapi kebijakan Donal Trump, Presiden Amerika Serikat dan penjajahan rezim Zionis Israel di Palestina serta evaluasi tentang cara-cara untuk mengakhiri perang berdarah di kawasan termasuk agresi militer Arab Saudi ke Yaman.
Absennya sejumlah negara yang mengklaim memiliki pengaruh terhadap transformasi regional dalam Konferensi PUIC ke-13 menunjukkan bahwa negara-negara itu tidak memiliki niat dan motivasi yang cukup untuk menumpas terorisme dan memulihkan stabilitas keamanan di kawasan.
Meski beberapa negara itu absen, namun kehadiran hampir 40 delegasi parlemen dalam konferensi tersebut menunjukkan bahwa Republik Islam Iran telah berubah menjadi poros konsultasi regional pasca Konferensi Keamanan Tehran yang digelar pekan lalu dan dihadiri banyak tamu dari negara-negara Barat dan Arab.
Penyelenggaraan berbagai konferensi di Republik Islam Iran menunjukkan bahwa sebenarnya banyak negara yang ingin mencapai stabiltias regional di Asia Barat melalui solusi yang diusulkan oleh Tehran, yaitu solusi yang diupayakan untuk mencapai perdamaian regional dan terbentuknya tatanan baru di kawasan yang menguntuntkan semua negara Muslim.
Meskipun ada perselisihan sejumlah negara di kawasan tentang isu-isu regional dan internasional, namun diplomasi parlemen dan konsultasi delegasi-delegasi parlemen dalam Konferensi PUIC menunjukkan bahwa para wakil bangsa-bangsa regional duduk bersama dan saling berdialog tanpa memperhatikan perselisihan dan perbedaan yang ad di antara negara mereka.
Kondisi tersebut bisa menjadi sebuah solusi demokratis untuk memecahkan berbagai persoalan regional melalui jalur dilomatik. Jika hal ini berlanjut, maka negara-negara Asia Barat dan dunia Islam tidak memerlukan intervensi asing dan mereka mampu menyelesaikan berbagai konflik dan persoalan dalam internal mereka sendiri.
Minimnya demokrasi di sejumlah negara regional dan tidak adanya perlemen dalam struktur politik di negara-negara itu telah membuat mereka frustasi terhadap segala bentuk konsultasi dan perundingan parlemen, dan mungkin atas alasan ini, pemerintah reaksioner Arab tidak begitu mendukung diplomasi parlemen.

Penyelenggaraan Konferensi PUIC di Tehran menunjukkan kembali bahwa Republik Islam Iran dan banyak negara Muslim lainnya mendukung poros strategi dialog untuk menyelesaikan konflik. Terlepas dari perundingan antarpemerintah, mereka –melalui parlemen masing-masing– berusaha untuk mencapai tingkat hubungan efektif dan dapat diterima untuk menyelesaikan berbagai isu.
Hal ini wajar bahwa media dan sejumlah pemerintah Barat melihat perundingan dan dialog yang diselenggarakan Republik Islam Iran dengan pandangan negatif dan mereka berusaha untuk mempropagandakan proses seperti itu sebagai hal yang tidak penting. Mengapa demikian? Sebab mereka melihat keuntungan dan kepentingannya dalam konflik di antara negara-negara di kawasan dan mengganggap perselisihan tersebut sebagai peluang untuk intervensi dalam urusan internal negara-negara Muslim.
Yang pasti, Konferensi PUIC kembali membuktikan bahwa negara-negara regional memiliki tekad kuat untuk memecahkan konflik internal mereka dan tidak memerlukan intervensi negara-negara yang hanya memikirkan domonasinya terhadap kawasan dan menjual senjata-senjata ke negara-negara di Asia Barat demi meraup keuntungan besar dari konflik yang terjadi. (RA)