JCPOA di Mata Rahbar
Pernyataan Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, terkait Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) sekali lagi menunjukkan bahwa kebijakan Republik Islam didasarkan pada logika dan rasionalitas serta mengandalkan pengalaman dan pengenalan terhadap tujuan Amerika Serikat.
Ayatullah Sayid Ali Khameneimenegaskan Iran telah menyaksikan hasil dari pengandalan dan kepecayaan kepada asing dalam kasus nuklir JCPOA, di mana Republik Islam tidak mendapat keuntungan apapun darinya.
Ketidakpercayaan Iran terhadap Amerika Serikat bukan hanya sebuah slogan, ini didasarkan pada pengalaman masa lalu, perilaku saat ini, dan analisa fakta terkait tujuan hegemoni Amerika. Ini merupakan pernyataan berdasarkan fakta yang saat ini menjadi perhatian global dan muncul berbagai kekhawatiran dalam hal ini, bahwa menyusul pelanggaran Amerika maka seluruh tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya dalam JCPOA tidak mungkin tercapai.

Kini, telah 25 bulan telah berlalu sejak pengingkaran janji oleh Amerika terbukti bagi dunia. Republik Islam Iran, tidak harus menghabiskan waktu dan energinya menunggu janji palsu AS. Yang terpenting hari ini dan besok bagi bangsa Iran adalah pengerahan seluruh kapasitas internal, terutama di sektor ekonomi. Sebagaimana dikemukakan Rahbar, negara jangan sampai ditunda karena "poin-poin imajinasi."
Perilaku Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, termasuk Perancis, sekarang jauh melampaui masalah nuklir dan telah menjamah isu pertahanan Iran, yang berarti bahwa interferensi dan tujuan mereka adalah melemahkan Iran dari dalam.
Dr. Morad Enadi, seorang analis politik politik internasional, kepada koran Jam-e Jam menulis, "Meskipun Trump menandatangani penangguhan sanksi dan tidak keluar dari JCPOA, namun hal tersebut akan semakin tidak berguna dalam 'politik ular tangga'. Dalam pertunjukan ping pong di Kongres dan Gedung Putih untuk merusak JCPOA, Amerika Serikat lebih memilih untuk meningkatkan sanksi non-JCPOA serta menekankan politik sanksi terhadap Iran. Amerika Serikat, yang telah memberlakukan sanksi terhadap Iran sejak tahun 1979, bersikeras melanjutkannya dengan sanksi-sanksi baru, dengan alasan hak asasi manusia atau klaim dukungan Iran terhadap terorisme."
Pertanyaannya apa di balik semua pemerasan ini adalah tuntutan utama AS terhadap Iran? Jawabannya tentu saja jelas, Amerika Serikat sedang mewujudkan kembali mimpi untuk berkuasa atas bangsa Iran.
Menurut Pemimpin Besar Revolusi Islam, kita harus mengambil manfaat dari pihak asing, namun kita tidak boleh percaya dan bersandar kepadanya, sebab, ia akan mendominasi nasib negara dengan berbagai cara, serta semua pejabat negara harus memperhatikan isu yang sangat penting ini.
Rahbar juga mengkritik keras musuh-musuh yang mengancam kemanusiaan dengan peralatan perang mereka, namun menentang kemampuan rudal Iran yang digunakan untuk tujuan defensif.
Ditegaskan Rahbar, "Apa hubungan masalah ini dengan Anda? Apakah Anda ingin rakyat Republik Islam Iran tidak memiliki rudal dan sarana pertahanan lainnya, lalu Anda bisa memaksa kehendak terhadap mereka? Tentunya kami mengharamkan hal-hal seperti bom nuklir dan senjata pemusnah massal, namun kami akan mengejar dengan kuat setiap hal lainnya yang kami perlukan."(MZ)