NYT: AS Akan Bayar Mahal untuk Harga Dirinya di Bidang Energi
-
Amerika Serikat dan Krisis Energi
Pars Today - The New York Times dalam sebuah laporan analitis mengkaji dampak perang Amerika Serikat terhadap Iran. Harian tersebut menegaskan bahwa AS akan membayar mahal untuk harga dirinya di sektor energi.
Dilansir IRNA dini hari Senin, 4 Mei 2026, NYT merujuk pada kebijakan Donald Trump di sektor energi dan menegaskan bahwa penghentian proyek energi bersih serta agresi militer terhadap Iran telah membebani warga AS dengan biaya besar.
Salah satu contoh nyata dari kebijakan fatal ini, menurut NYT, adalah pembayaran hampir satu miliar dolar dari uang pembayar pajak AS ke sebuah perusahaan Prancis untuk membatalkan kontrak pembangunan turbin angin.
Surat kabar AS itu menambahkan bahwa AS masih mengimpor sekitar sepertiga dari minyak mentah yang dikonsumsi. Harga domestil produk minyak seperti bensin pun ikut terpengaruh oleh fluktuasi harga global. Bahkan jika Selat Hormuz dibuka kembali, pasar akan tetap cemas dan menunggu apakah Iran akan menutupnya lagi.
NYT juga menyebutkan bahwa menurut berbagai laporan, Gedung Putih sangat meremehkan kemampuan dan jenis respons Iran terhadap serangan militer. Pejabat AS tidak menduga akan terjadi perang ekonomi habis-habisan melalui penutupan Selat Hormuz. Kini, mereka bergulat dengan krisis yang mereka ciptakan sendiri.
Salah satu kritik utama terhadap pemerintahan Trump adalah tidak adanya peta jalan dan strategi yang jelas untuk mengakhiri perang serta mengelola konsekuensiny, terutama krisis energi.
Gedung Putih (berdasarkan laporan ini) sedang kebingungan mencari cara membuka kembali Selat Hormuz dan menekan harga bahan bakar. Mereka bahkan telah meminta sekutu untuk membantu membuka jalur perairan vital ini.
Pada akhirnya, NYT menekankan perlunya mengkaji ulang kebijakan energi dan kembali ke jalur investasi pada energi bersih. Para pakar meyakini bahwa kebijakan yang berlanjut saat ini tidak hanya merugikan kepentingan nasional AS, tetapi juga melemahkan posisi negara itu dalam persaingan global dengan kekuatan seperti Tiongkok yang berinvestasi besar di teknologi hijau.
Dengan terus berlanjutnya kebuntuan (deadlock) negosiasi Iran-AS akibat keserakahan Washington, harga bensin di AS kini mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir. Tren ini terjadi bersamaan dengan mendekatnya musim perjalanan musim panas, sehingga menimbulkan kekhawatiran ekonomi baru.
Para pakar menyebut kenaikan harga ini terjadi pada saat yang kritis, tinggal beberapa pekan lagi menuju musim perjalanan liburan puncak. Kenaikan biaya bahan bakar dapat mempengaruhi rencana perjalanan serta ekonomi rumah tangga.
Para analis menyebut salah satu faktor terpenting dari lonjakan harga ini adalah kebuntuan dalam negosiasi untuk mengakhiri krisis antara AS dan Iran. Situasi ini memicu kekhawatiran tentang gangguan pasokan energi global dan meningkatnya risiko geopolitik.
Sementara itu, Today (Network) merujuk pada tren harga yang terus naik dan menekankan bahwa kelanjutan situasi ini dapat meningkatkan tekanan inflasi pada ekonomi AS serta mempengaruhi pengambilan keputusan ekonomi pemerintah.
Kebanggaan dan keserakahan AS di bidang energi, meninggalkan proyek hijau, meremehkan Iran, kini berbuah petaka. Harga bensin di dalam negeri meroket tertinggi dalam 4 tahun, sementara pintu Hormuz yang mereka agresi malah menyumbat ekonomi mereka sendiri. NYT menyebutnya sebagai "krisis yang mereka ciptakan sendiri". Kini rakyat Amerika yang membayar mahal untuk "harga diri" para penguasa di Washington.(sl)