Mearsheimer: AS Bikin Sejarah Kelam, Eropa Murka, Aliansi Barat Bisa Ambruk
-
John Mearsheimer, teoretikus hubungan internasional terkemuka dan profesor di Universitas Chicago
Pars Today - John Mearsheimer, teoretikus hubungan internasional terkemuka dan profesor di Universitas Chicago, merujuk pada agresi militer AS terhadap Iran dan menegaskan bahwa Washington memulai perang yang akan tercatat sebagai kesalahan terbesar dalam sejarah kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Dilansir IRNA dini hari Senin, 4 Mei 2026, Mearsheimer dalam sebuah wawancara berbicara tentang dimensi bencana perang terhadap Iran. Ia mengatakan, "Ketika Anda melihat apa yang terjadi dalam perang ini, Anda melihat bahwa perang ini tidak hanya lebih dahsyat dari Perang Irak, tetapi juga merupakan kekalahan absolut bagi Amerika."
Ia menambahkan, "Saya bisa menjelaskan satu per satu alasannya. Ini akan tercatat dalam sejarah sebagai kesalahan terbesar yang paling dahsyat dalam kebijakan luar negeri AS."
Analis kenamaan AS ini kemudian merujuk pada upaya Donald Trump untuk mengakhiri perang. Ia menyatakan, "Trump ingin mengakhiri perang, tetapi satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan menyerah dan mengakui kekalahan, karena tidak ada jalan bagi kita untuk keluar dari situasi ini."
Mearsheimer juga memperingatkan, "Trump akan menyalahkan Eropa karena tidak membantu membuka Selat Hormuz."
Mengakhiri wawancaranya, Mearsheimer menyatakan bahwa kegagalan dalam perang dan upaya menyalahkan mitra-mitra Eropa akan semakin merusak hubungan dengan sekutu yang saat ini sedang menghadapi tekanan ekonomi berat.
Ia memperingatkan, "Hal ini pada akhirnya akan mengarah pada keruntuhan Barat di mana Eropa akan sangat marah kepada Amerika karena memulai perang gila melawan Iran."
Agresi militer gabungan AS dan rezim Zionis terhadap Republik Islam Iran, yang menyebabkan syahadah Ayatullah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam, dimulai sejak dini hari 9 Esfand 1404 (28 Februari 2026). Tindakan ini terjadi saat negosiasi tidak langsung antara Iran dan AS dengan mediasi sejumlah negara kawasan sedang berlangsung.
Sebagai respons atas dimulainya agresi gabungan tersebut, Republik Islam Iran memberikan respons yang tegas, terarah, dan proporsional. Dalam kerangka respons yang sah ini, posisi militer dan keamanan rezim Zionis di berbagai kota di Palestina yang diduduki, serta pangkalan dan pusat penempatan pasukan AS di kawasan, menjadi sasaran serangan rudal, drone, dan udara yang presisi.
Pejabat resmi Republik Islam Iran menegaskan bahwa operasi ini dilakukan dalam kerangka hak alami untuk membela diri berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB, dengan tujuan menciptakan efek gentar, mencegah kelanjutan agresi, dan memaksakan biaya kepada para agresor.
Republik Islam Iran memperingatkan bahwa setiap kelanjutan atau perluasan agresi akan direspons dengan serangan yang lebih keras dan lebih luas.
Teoretikus AS sekelas John Mearsheimer menyebut perang terhadap Iran sebagai "kesalahan terbesar dalam sejarah kebijakan luar negeri AS", lebih dahsyat dari Perang Irak. Trump ingin keluar, tetapi Mearsheimer tegas: satu-satunya jalan keluar adalah mengaku kalah. Jika tidak, AS tidak hanya hancur di medan perang, tetapi juga hubungan dengan Eropa yang murka. Ironisnya, perang yang diklaim untuk "mengamankan" AS justru meruntuhkan fondasi Barat dari dalam.(sl)