Posisi Iran terkait Program Pertahanan Rudal
Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, Ali Shamkhani mengatakan, kemampuan defensif, terutama program rudal untuk pencegahan, akan terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan keamanan nasional.
"Propaganda politik dan media tidak akan berpengaruh pada kelanjutan program ini," tegasnya.
Shamkhani dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Oman, Yusuf bin Alawi di Tehran, Sabtu (17/3/2018) memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak bermain dalam permainan Amerika Serikat dan rezim Zionis, serta menuruti tuntutan mereka dengan alasan demi menjaga kesepakatan nuklir.
Iran menghadapi banyak ancaman di daerah sekitarnya. Pembangunan pangkalan militer AS di negara-negara Asia Barat yang berdekatan dengan Iran, bertujuan untuk mengganggu keamanan Republik Islam. Inilah salah satu tujuan yang dikejar oleh AS dalam kebijakan regionalnya.
Dengan melihat ancaman ini, Iran telah menyusun dan menerapkan langkah-langkah yang sesuai dengan doktrin pertahanan dan program militernya.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei, mengkritik sikap Eropa yang mengamini dikte Amerika agar membawa program pertahanan rudal Tehran ke meja perundingan.
"Keikutsertaan Eropa dengan AS untuk menekan Iran dalam kebijakan regional dan program pertahanan rudalnya, tidak dapat diterima. Kami benar-benar tidak dapat menerima keikutsertaan Eropa dengan arogansi Amerika," tegasnya.
Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Ami Hatami juga mengatakan bahwa Republik Islam tidak akan membiarkan siapapun menargetkan kekuatan pertahanan negara ini.
Berbekal pengalaman delapan tahun perang yang dipaksakan, Iran sekarang berada pada level kesiapan tertinggi dengan menguasai teknologi militer dan menikmati kemampuan tinggi pertahanan di semua bidang.

Republik Islam sudah sering menyeru negara-negara di kawasan untuk bekerja sama dalam menciptakan keamanan, dan menyatakan kesiapan untuk melawan konspirasi dan ancaman terhadap keamanan kolektif di wilayah Asia Barat.
Menlu Oman sendiri mengkritik pendekatan militer terhadap isu-isu regional dan mendesak jalur dialog dan pemahaman sebagai gantinya. Yusuf bin Alawi mengatakan, Oman menganggap Iran sebagai tetangga yang dapat dipercaya dan memuji peran Tehran dalam membangun stabilitas dan keamanan regional.
Analis politik dan pakar urusan internasional, Sayid Ahmad Hosseini mengatakan, "... kemampuan dan kapasitas pertahanan sebuah negara adalah faktor fundamental dalam menghadapi musuh, dan setiap kelalaian di bidang ini akan memiliki banyak risiko terutama di Timur Tengah yang penuh gejolak."
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram Qasemi dalam wawancara dengan Jame Jam TV milik Iran, juga mengingatkan prinsip tersebut dan mengatakan, isu rudal dan masalah pertahanan setiap negara menjadi urusan internal mereka, dan negara manapun tidak akan berunding tentang kemampuan pertahanannya, yang berhubungan dengan kedaulatan dan integritas teritorial. (RM/PH)