Ebtekar Hadiri Pertemuan Kongres Wanita Indonesia
-
Ketua Umum Kowani Dr. Ir, Giwo Rubianto Wiyogo dan Wakil Presiden RII Bidang Wanita dan Keluarga, Masoumeh Ebtekar.
Wakil Presiden Republik Islam Iran Bidang Perempuan dan Keluarga, Masoumeh Ebtekar mengatakan, ekstremisme, terorisme dan perang mengancam perempuan-perempuan Muslim.
Hal itu dikatakan Ebtekar dalam pertemuan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) di Jalan Imam Bonjol 58 Jakarta, Kamis (3/5/2018).
Dia menambahkan, wanita-wanita Muslimah di negara-negara seperti Palestina, Yaman, Suriah, Afghanistan dan Myanmar berada di bawah tekanan dan kondisi sulit disebabkan perang dan terorisme, oleh karena itu, Dunia Islam harus merespon ancaman ini dengan tepat.
Ebtekar lebih lanjut menyinggung partisipasi luas dan sukses perempuan Iran di berbagai bidang, dan mengatakan, saat ini 60 persen yang masuk ke universitas-universitas Iran adalah perempuan.
Menurutnya, Iran di sektor kesehatan terus berusaha memberikan pelayanan yang lebih baik terutama terhadap perempuan dan anak-anak.
"Saat ini, harapan hidup di antara perempuan Iran adalah 75 tahun, di mana ini meningkat 25 tahun dibandingkan 40 tahun silam," ujarnya seperti dilansir IRNA.
Wapres Iran bidang perempuan dan keluarga hadir dalam pertemuan KOWANI didampingi oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia, Valiollah Mohammadi Nasrabadi beserta jajarannya.
Menurut situs Pandji Indonesia, dadir dalam pertemuan tersebut, Ketua Umum Kowani (Ketum Kowani) Dr.Ir.Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd dan Dewan Pimpinan Kowani serta beberapa Ketua Organisasi anggota Kowani.
Ketum Kowani menyampaikan rasa hormat dan bangga atas kunjungan Wapres Iran bidang perempuan dan keluarga dan berharap kunjungan ini menjadi awal dari jalinan hubungan antara Kowani dengan wanita-wanita di Iran.
Giwo menjelaskan bahwa Kowani adalah federasi organisasi wanita tertua dan terbesar di Indonesia yang sekarang mewadahi 91 organisasi wanita tingkat pusat.
Kowani didirikan melalui Kongres perempuan pertama pada 22 Dsember 1928 oleh Perempuan Indonesia untuk membantu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada saat itu, hingga saat ini dikenal dengan "Hari Ibu" di Indonesia.
90 tahun berlalu perjalanan perjuangan perempuan di Indonesia telah membuat banyak kemajuan, walaupun masih ada masalah-masalah yang masih dihadapi.
Oleh karena itu untuk mencegah masalah terus berlanjut ketelibatan negara, pemerintah dan organisasi wanita dengan tidak nyata, bertindak cepat, sistematis, berkelanjutan dan terukur.
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang ramah wanita. Tidak ada sejarah bangsa beradab besar di dunia, tanpa keterlibatan perempuan yang besar. oleh karena itu, kebangkitan wanita harus diwujudkan dalam kwalitas nyata," kata Giwo.
Dia menambahkan, saat ini, Kowani fokus pada sejumlah masalah untuk megevaluasi potensi dan mengembangkan wanita dan anak Indonesia. Secara keseluruhan, lanjutnya, fokus Kowani adalah memperjuangkan hak dan kesetaraan perempuan di beberapa bidang diantara lain Pendidikan, perekonomian, kesehatan,hukum dan lingkungan hidup.
"Kowani juga bergerak aktif dalam lingkup Internasional, Kowani megambil peran utama di tingkat internasional untuk mendorong dan mengembangkan potensi Kowani untuk berpartisipasi aktif dalam forum regional dan internasional dengan bergabung pada organisani ICW, ACWO dan pengakuan yang diterima dari badan PBB UN-ECOSOC," pungkasnya.
Bukan sekedar berbagi informasi mengenai perempuan, Kowani dan Wapres Iran berencana melanjutkan kerjasama, seperti pertukaran kandidat untuk pelatihan.
Sebelumnya, Ebtekar juga sempat berkunjung ke kantor Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan pada Rabu pagi. Dia bertemu denagn Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Puan Maharani dan melakukan pertemuan tertutup yang salah satunya membahas tentang pemberdayaan perempuan.
Wapres Iran bidang perempuan dan keluarga mengunjungi Indonesia untuk menghadiri Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) tentang Islam Wasathiyah (moderat) pada 1-3 Mei 2018, yang dihadiri oleh lebih dari 50 ulama dan cendekiawan Muslim dari berbagai negara. Penasihat Senior untuk Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Mohammad Ali Taskhiri juga berpartisipasi dalam acara tersebut. (RA)