Eropa Harus Memilih Trump atau Kepentingan Politik-Ekonomi dengan Iran
-
Uni Eropa dan Republik Islam Iran
Upaya Donald Trump, Presiden Amerika Serikat untuk mendiskreditkan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dan menyangkut kekhawatiran akan konsekuensi dari pelanggaran janji Amerika terkait komitmen atas JCPOA membuat Eropa berada dalam dua pilihan sulit; memilih Trump atau kepentingan politik-ekonomi dengan Iran.
Pertanyaannya adalah, apa alasan paling penting bagi Eropa untuk tetap mempertahankan JCPOA dan pada akhirnya jalan mana yang dipilih oleh Eropa?
Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran pada hari Ahad (29/7) menjadi pembicara dalam seminar bersama para duta besar dan perwakilan diplomatik Iran di luar negeri dengan sektor swasta di Tehran. Pada kesempatan itu Menlu Zarif menyebut para pejabat Amerika telah kecanduan sanksi dan tidak hanya menjatuhkan sanksi atas Iran. Menurutnya, sekarang sudah waktunya bagi Eropa untuk memilih salah satu antara memenuhi kepentingan AS dan pribadi Donald Trump atau mengamankan kepentingannya.
Sekaitan dengan hal ini ada dua poin penting yang perlu dijelaskan;
Pertama, jaminan atas kepentingan Iran lewat JCPOA yang memiliki kerangka kerja yang jelas dan tidak dapat ditawar.
Kedua, manfaat JCPOA bagi pihak lain, yaitu Eropa, Cina dan Rusia.
Jika hal itu dipengaruhi oleh keputusan yang tidak logis dan sepihak dari Amerika Serikat maka bakal merugikan kepentingan internasional. Tentu saja pilihan itu harus sejalan dengan keputusan di tingkat internasional dan bahkan Dewan Keamanan PBB terhadap setiap tindakan sepihak Amerika Serikat.
Mempertahankan JCPOA dari sisi kepentingan ekonomi jelas merupakan salah satu kekuatan pendorong utama di belakang Eropa, tetapi Uni Eropa tahu bahwa itu harus memiliki pandangan yang lebih dalam dan strategis terkait Iran serta interaksi regional dan globalnya.
Untuk mempertahankan kredibilitasnya, Eropa perlu memisahkan jalurnya dari kebijakan AS yang tidak masuk akal. Jika tidak, maka pecundang asli dari permainan politik ini adalah Eropa sendiri.
Nosratollah Tajik, analis masalah internasional mengatakan, sikap Amerika yang suka melanggar perjanjian menargetkan kredibilitas Eropa dan struktur hubungan internasional, tetapi Eropa harus menunjukkan dalam praktek bahwa ia siap untuk membawa "kepentingan ekonomi" Iran ke "kepentingan politik" Eropa untuk mempertahankan perjanjian internasional.
Sverre Lodgaard, pakar senior dan dosen ilmu politik Norwegia mengatakan, Uni Eropa ingin tetap pada perjanjian ini dan motivasinya untuk tetap berkomitmen adalah investasi politik pada perjanjian ini.
Jangan lupa bahwa Eropa adalah lingkaran keamanan Timur Tengah pertama dan jika tidak aman, kawasan ini menjadi sangat rentan.
Pelanggaran janji AS telah menargetkan keamanan, kepentingan politik, kredibilitas internasional Eropa serta mekanisme dan struktur hubungan internasional yang telah dibangun dengan susah payah oleh Eropa. Oleh karena itu, tindakan Trump dan penghancuran kesepakatan JCPOA yang merupakan perjanjian internasional adalah pelanggaran langsung terhadap kepentingan Eropa.
Amerika di masa lalu, menurut Zarif, mengklaim sebagai pemimpin dunia, tetapi Amerika sekarang berdiri melawan sistem ekonomi liberal dunia, yang telah dibangun oleh mereka sendiri selama bertahun-tahun.
Eropa harus menunjukkan secara nyata bahwa mereka siap untuk mengadopsi keputusan akhir untuk mempertahankan pakta internasional "kepentingan ekonomi" dengan Iran dan melestarikan "kepentingan politik" Eropa.