Diplomasi Zarif di Singapura; ASEAN Mendukung JCPOA
-
Menteri Luar Negeri Iran di sidang menteri luar negeri ASEAN ke-52
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran di Singapura melakukan pertemuan dan lobi-lobi intensif dengan Menteri Luar Negeri, Presiden dan Perdana Menteri Singapura dan begitu juga dengan beberapa menteri luar negeri dari negara-negara yang berpartisipasi dalam pertemuan ASEAN.
Mohammad Jawad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran yang melakukan perjalanan ke Singapura untuk mengikuti sidang menteri luar negeri ASEAN ke-51, pada hari Kamis (02/8), memiliki agenda padat untuk melakukan pembicaraan dengan para menteri luar negeri dari negara-negara yang ada dan pada hari Jumat (03/8) bertemu dengan" Federica Mogherini, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa.
Fokus utama diplomasi Menlu Zarif di Asia Tenggara adalah Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dan urgensi mempertahankannya, sekalipun Amerika secara ilegal keluar dari kesepakatan internasional ini. Dukungan dari berbagai negara selama berlangsungnya pertemuan dengan Zarif menunjukkan bahwa dunia tidak berputar mengelilingi Amerika seperti yang ada dalam pikiran para politikus negara ini.
Menlu Zarif hari Kamis (02/8) di sela-sela penandatanganan dokumen keanggotaan Iran dalam Perjanjian Persahabatan dan Kerjasama (TAC) dengan ASEAN kepada para wartawan mengatakan, mengingat semakin dekat penerapan periode pertama sanksi Amerika Serikat, berbagai negara di seluruh benua dunia siap mencari cara untuk melawan tekanan AS dalam menghadapi sanksi-sanksi ini.
"Semua pejabat senior dalam dialog dengan Iran telah menyatakan kepentingan nasionalnya berada pada mempertahankan JCPOA dan melanjutkan hubungan dan memperluas kerjasama dengan Iran. Mereka juga menekankan akan mempertahankan independensinya dari kebijakan Amerika terkait JCPOA dan mempertahankannya sebagai pencapaian diplomatik," ungkap Zarif.
Fokus pembicaraan berbagai pejabat selama pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Iran mengimplementasikan sikap multilateralisme di Singapura dan menunjukkan bahwa dunia masih mendukung kerjasama timbal balik dan unilateralisme Donald Trump, Presiden Amerika tidak diminati di dunia saat ini.
Poin penting dalam fokus lobi-lobi yang dilakukan Zarif di Singapura adalah penekanan pada upaya mempertahankan JCPOA oleh para pejabat dari berbagai negara. Pendekatan ini menunjukkan bahwa independensi pemikiran dan pengambilan keputusan berada di luar kehendak Amerika Serikat. Penekanan berulang Trump soal JCPOA sebagai kesepakatan yang mengerikan, sehingga Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan tersebut tidak didukung oleh negara-negara anggota ASEAN.
ASEAN sebagai kutub ekonomi terkuat kelima di dunia adalah pemain independen dan mencoba memperkuat keterlibatan ekonominya dengan pihak lain, termasuk Iran, bahkan selama sanksi AS, dengan resistensi dan inovasi. Pendekatan ini merupakan kegagalan bagi kebijakan sepihak AS untuk menghancurkan total JCPOA.
Niat baik Republik Islam Iran dalam mengimplementasikan komitmennya terkait JCPOA dan upaya jujur untuk mewujudkan perdamaian dan keamanan global telah menyebabkan komunitas internasional mempercayai Iran. Ini adalah elemen yang paling penting untuk mempertahankan dan memelihara hubungan bilateral dan multilateral. Pendekatan yang sama akan mencegah kebijakan AS yang ingin menekan hingga titik nol ekspor minyak Iran.
Ketegaran India melawan Amerika Serikat dan fakta bahwa New Delhi tidak mendukung sanksi AS secara sepihak terhadap Iran menunjukkan independensi India. Penekanan para pejabat India selama melakuan pembicaraan dengan Zarif di Singapura untuk mempertahankan kemandiriannya dari kebijakan AS soal JCPOA menegaskan pentingnya peran diplomasi di dunia dan "JCPOA" merupakan contoh dari diplomasi global yang sukses.
Dukungan global atas JCPOA yang telah ditunjukkan oleh negara-negara Asia Tenggara di hari-hari ini sekali lagi menggambarkan keterisolasian Amerika dan telah menunjukkan bahwa kebijakan dikte di dunia yang terintegrasi satu sama lainnya tidak akan berhasil.