Zarif: Untuk Iran, AS Fokus Pada Perang Psikologis
https://parstoday.ir/id/news/iran-i61259-zarif_untuk_iran_as_fokus_pada_perang_psikologis
Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif menyatakan, Amerika Serikat lebih memfokuskan pada perang psikologis dan upaya untuk meningkatkan tekanan psikologis terhadap rakyat Iran dan mitra internasional Republik Islam.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 26, 2018 10:10 Asia/Jakarta
  • Mohammad Javad Zarif
    Mohammad Javad Zarif

Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif menyatakan, Amerika Serikat lebih memfokuskan pada perang psikologis dan upaya untuk meningkatkan tekanan psikologis terhadap rakyat Iran dan mitra internasional Republik Islam.

Zarif pada hari Ahad, 26 Agustus 2018, menjelaskan kondisi saat ini yang sangat jauh berbeda menyusul keluarnya Amerika Serikat dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dan atmosfer psikologis yang telah diciptakan dan mengatakan, "Tidak ada kesepakatan multilateral apapun yang dapat mengakomodasi semua poin yang diinginkan pihak-pihak terkait, sebagaimana yang dikemukakan Amerika Serikat, JCPOA adalah kesepakatan terburuk dalam sejarah mereka dan tidak mampu menjamin seluruh kepentingan mereka."

 

Menteri Luar Negeri Iran menyinggung bahwa Iran berbeda dengan negara-negara regional dan menambahkan, "Negara-negara kawasan dengan memborong senjata ingin menjamin keamanan mereka, sementara Republik Islam menilai keamanan, kemajuan dan perkembangan sangat terikat dengan rakyatnya, dan oleh karena itu selama 40 tahun semua tekanan ditujukan pada negara ini dan rakyat Iran bertahan menghadapi semua tekanan itu."

 

Zarif lebih lanjut menjelaskan, "Tembakan Amerika Serikat terhadap sekutu-sekutu terdekatnya meleset dan kini mereka mengacu pada berbagai perusahaan dan secara resmi mengancam mereka; berarti mereka ingin mengubah kondisi dengan menciptakan tekanan psikologis."

 

Menurut Zarif, sejak Donald Trump keluar dari JCPOA, Amerika Serikat gagal mencapai tujuan yang diacu dan beralih pada sejumlah langkah termasuk permintaan berulang untuk berunding serta pembentukan Action Group.(MZ)