Fase Genting Menyelamatkan Kesepakatan Nuklir
https://parstoday.ir/id/news/iran-i61318-fase_genting_menyelamatkan_kesepakatan_nuklir
Presiden Iran Hassan Rouhani dalam pembicaraan telepon dengan mitranya dari Perancis, Emmanuel Macron pada hari Senin (27/8/2018), mengatakan semua negara yang berkomitmen dengan kesepakatan nuklir perlu menyerahkan programnya untuk mempertahankan kesepakatan dengan cepat dan lebih transparan.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 28, 2018 11:21 Asia/Jakarta
  • Presiden Iran Hassan Rouhani dan Presiden Perancis, Emmanuel Macron.
    Presiden Iran Hassan Rouhani dan Presiden Perancis, Emmanuel Macron.

Presiden Iran Hassan Rouhani dalam pembicaraan telepon dengan mitranya dari Perancis, Emmanuel Macron pada hari Senin (27/8/2018), mengatakan semua negara yang berkomitmen dengan kesepakatan nuklir perlu menyerahkan programnya untuk mempertahankan kesepakatan dengan cepat dan lebih transparan.

Menurut Rouhani, setelah Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir, negara-negara lain yang tersisa memikul tanggung jawab yang berat untuk menyelamatkan kesepakatan. "Iran ingin mempertahankan kesepakatan nuklir, tetapi jika prospek rencana praktis Eropa tidak jelas sehubungan dengan pemberian jaminan pada jaringan perbankan, penjualan minyak, asuransi, dan transportasi, maka Tehran akan mengambil langkah lain," tegasnya.

Pada kesempatan itu, Macron juga menjabarkan langkah-langkah Perancis dan negara lain demi melestarikan kesepakatan nuklir. Dia mengatakan, "Paris telah melakukan upaya intensif untuk mempertahankan kesepakatan dan sedang mengupayakan berbagai mekanisme di sektor perdagangan dan keuangan."

Sekarang Iran mengirim pesan yang lebih tegas kepada negara-negara lain anggota kesepakatan dengan tujuan membela kepentingan nasional dan internasionalnya di bawah kesepakatan nuklir. Oleh karena itu, Tehran menuntut kejelasan dan keterbukaan selama jangka waktu singkat yang tersisa ini.

Uni Eropa sebelum ini telah menyampaikan komitmen politik terhadap kesepakatan nuklir, tetapi mereka perlu menyerahkan sebuah paket yang rinci, terjadwal, dan bisa diterapkan.

Mengenai paket jaminan Uni Eropa, seorang pakar internasional, Sabah Zanganeh mengatakan, Uni Eropa menunda-nunda dalam menyerahkan paket jaminan dan sejak AS mengumumkan keluar dari kesepakatan nuklir, mereka belum menetapkan jadwal yang jelas untuk menyerahkan paketnya.

"Eropa harus menghentikan sikap menunda-nunda dan memberi kejelasan di hadapan Iran dan kesepakatan nuklir. Jika tidak, Tehran dengan sendirinya akan membuat keputusan final," tambahnya.

Kekhawatiran perusahaan-perusahaan internasional untuk berbisnis dengan Iran bahkan dapat disaksikan setelah lahirnya kesepakatan nuklir. Para investor asing yang paling antusias sekalipun bahkan mengambil langkah hati-hati di Iran. Saat ini mereka juga menghadapi ancaman terang-terangan dari Amerika.

Namun, Eropa dan pihak lain anggota kesepakatan nuklir adalah negara-negara yang independen dan mereka seharusnya bertindak atas dasar kepentingan kolektif dan dalam kerangka kewajiban internasional.

Mereka secara politik mengkritik pelanggaran kesepakatan nuklir oleh Amerika, tetapi di sektor hubungan ekonomi, mereka terpengaruh oleh sanksi Washington terhadap Tehran. Hal ini dapat dilihat dari keluarnya perusahaan-perusahaan Eropa seperti, Total Perancis dan maskapai penerbangan Eropa dari Iran.

Banyak ahli dan pelaku ekonomi menganggap salah satu kelemahan asli untuk merawat kesepakatan nuklir adalah keengganan bank-bank asing untuk berkejasama dengan Iran. Oleh karena itu, Presiden Iran mengkritik aksi lambat pihak lain dalam memenuhi komitmen internasionalnya berdasarkan kesepakatan nuklir. (RM)