Misi Arab Saudi di KTT OKI Istanbul
https://parstoday.ir/id/news/iran-i6181-misi_arab_saudi_di_ktt_oki_istanbul
Pertemuan puncak para pemimpin negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) diselenggarakan di Istanbul, Turki mulai hari Kamis (14/4/2016) sampai Jumat besok.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Apr 14, 2016 12:07 Asia/Jakarta
  • Misi Arab Saudi di KTT OKI Istanbul

Pertemuan puncak para pemimpin negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) diselenggarakan di Istanbul, Turki mulai hari Kamis (14/4/2016) sampai Jumat besok.

Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani juga akan menghadiri pertemuan tersebut dan acara itu dimulai dengan pertemuan para menteri luar negeri OKI. Menlu Iran Mohammad Javad Zarif dalam pidatonya, menekankan kebutuhan untuk memperkuat persatuan di antara negara-negara Muslim.

Menurutnya, persoalan dan konflik di antara negara-negara harus diselesaikan melalui dialog bilateral, dan bukan membawa masalah bilateral ke dalam forum multilateral.

Zarif juga mereaksi prakarsa empat butir anti-Iran dan satu butir anti-Gerakan Hizbullah Lebanon yang diajukan oleh Arab Saudi dalam rancangan deklarasi KTT OKI Istanbul. Ia menganggap langkah itu bertentangan dengan semangat solidaritas Islami dan sejalan dengan kepentingan rezim Zionis Israel.

Dalam hal ini, Zarif memperingatkan dampak-dampak buruk penyalahgunaan OKI seperti yang pernah dilakukan oleh rezim Saddam pada era perang yang dipaksakan Irak terhadap Iran selama delapan tahun.

Menlu Iran kemudian mengajukan sebuah pertanyaan kepada forum, "Mengapa sejumlah negara anggota OKI ingin mengulangi kebijakan-kebijakan yang gagal tersebut?"

Berlanjutnya kebijakan destruktif dan provokatif Arab Saudi di kawasan tentu akan merugikan semua negara. Padahal, KTT OKI Istanbul menyediakan sebuah kesempatan sehingga Iran dan semua negara Muslim dapat memberikan sebuah gambaran yang jernih tentang situasi Dunia Islam dan solusi untuk menghadapi ancaman-ancaman yang sebenarnya.

Masalah Palestina, Suriah, Yaman, Libya, situasi tragis Muslim di Afrika, dan ancaman Israel dan teroris Daesh di kawasan, merupakan isu-isu yang perlu dipandang secara realistis dan menuntut sebuah keputusan yang tepat.

Para pemimpin OKI harus menunjukkan bahwa mereka memiliki peran efektif dalam memecahkan persoalan di Dunia Islam dan peran tersebut perlu dirumuskan secara transparan dan jelas selama pertemuan.

Para pemimin negara Muslim harus menerima sebuah realitas bahwa sikap saling menyerang dan memperlemah posisi negara-negara Islam hanya akan menguntungkan musuh-musuh Islam dan rezim Zionis Israel. Terlebih semua persoalan Dunia Islam tidak bersumber dari luar wilayah mereka, tapi muncul akibat kebijakan intervensif dan krisis yang dipaksakan atas negara-negara Muslim di bidang politik, ekonomi, dan ketertinggalan di bidang sains.

KTT Istanbul diharapkan mengirim pesan persatuan dan solidaritas Dunia Islam dalam menghadapi berbagai krisis kepada dunia internasional. Namun, kebijakan Saudi justru akan membuat negara-negara Islam terkucil di kancah internasional dan memperlemah kubu perlawanan terhadap ancaman Israel.

Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya sekarang fokus pada kebijakan Iranphobia. Manuver anti-Iran dijalankan secara serentak oleh Saudi, AS, dan Barat seperti, klaim-klaim tentang pelanggaran hak asasi manusia di Iran, perpanjangan sanksi Uni Eropa dengan alasan HAM, dan juga proposal anti-Iran milik Saudi yang ingin diloloskan sebagai bagian dari deklarasi KTT OKI.

Konspirasi itu menunjukkan bahwa hal yang menjadi prioritas Barat dan sekutunya di kawasan adalah mencegah terciptanya persatuan di antara negara-negara Islam. Mereka ingin memanfaatkan panggung OKI untuk mempertajam perpecahan dan menciptakan tantangan internal baru. Arab Saudi juga telah memberikan kontribusi besar untuk memajukan tujuan-tujuan musuh umat Islam. (RM)