Mencermati Pembicaraan Menkeu AS dan Netanyahu Soal Penerapan Sanksi Anti-Iran
-
Steven Mnuchin dan Benjamin Netanyahu
Pergerakan Menteri Keuangan Amerika Serikat dalam perjalanan ke Palestina pendudukan (Israel) dan konsultasi dengan Perdana Menteri Israel tentang sanksi Amerika terhadap Iran menjadi indikasi lebih jelas bahwa Amerika Serikat semakin terisolasi.
Steven Mnuchin, Menteri Keuangan Amerika Serikat pada hari Ahad (21/10) setelah melakukan pertemuan dengan Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Zionis Israel menyatakan bahwa dalam pertemuan tersebut kedua pihak membicarakan sejumlah masalah seperti kerjasama Washington-Tel Aviv untuk melaksanakan sanksi terhadap Iran.
Rencananya, tahap kedua sanksi yang akan diterapkan pada bulan November dengan tujuan menihilkan ekspor minya Iran, tapi Mnuchin mengakui tidak ada caya untuk mengeksekusi seratus persen dari sanksi ini.
Donald Trump, Presiden Amerika Serikat dalam rangka memaksa Iran untuk bernegosiasi mengenai isu-isu non-nuklir, telah menggunakan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) sebagai instrumen untuk menekan pihak-pihak lain dalam kesekpakatan internasional ini. Dalam hal ini, Trump berusaha mencegah kerjasama negara-negara Eropa dengan Iran, tetapi tidak berhasil melakukannya.
Menuduh Iran mendukung terorisme di kawasan dan mengklaim kemampuan pertahanan rudal Iran sebagai ancaman untuk keamanan di kawasan adalah bagian dari kebijakan anti-Iran dari Amerika Serikat dan Israel. Pada tahun 1996, Amerika Serikat meluncurkan berbagai konspirasi dan sanksi dalam bentuk klaim palsu anti-Iran, tetapi tidak mencapai tujuannya selama lebih dari satu dekade. Namun sekarang Washington kembali berjuang dengan sanksi yang lebih kuat; dengan anggapan bakal mengisolasi Iran. Tapi ternyata satu-satunya pendukung Trump dalam masalah ini adalah Netanyahu.
Lobi-lobi dan pembicaraan ketat yang dilakukan pemerintah Trump dan Netanyahu dan pembentukan tim gabungan antara kedua pihak untuk menerapkan sanksi Iran bukanlah hal baru.
Beberapa waktu lalu, surat kabar Zionis, Haaretz menulis, Amerika telah membentuk satu tim gabungan dengan Israel untuk implementasi sanksi ekonomi terhadap Iran.
Abdel Bari Atwan, analis terkenal dunia Arab dalam menganalisa prospek upaya Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran mengatakan, Amerika Serikat hampir melakukan kebodohan besar yang hasilnya tidak pernah dijamin dan kami yakin bahwa Israel dan beberapa negara Arab di kawasan Teluk Persia akan membayar harga besar untuk itu, baik secara finansial, keamanan, stabilitas dan kemakmuran.
Menurut analis terkenal Arab ini, jika Amerika memasuki perang ekonomi melawan Iran, langkah itu tidak akan dilakukan untuk mendukung negara-negara Teluk Persia, tetapi tujuannya adalah untuk mendukung Israel dan proyek hegemoninya di kawawsan serta menghilangkan saingan apapun untuk rezim ini.
Tapi kali ini, para pejabat Amerika Serikat telah salah melakukan perhitungan soal kemampuan Iran. Menurut Jim Walsh, seorang dosen dan ahli nuklir Amerika, penarikan diri Amerika Serikat dari JCPOA justru lebih merugikan Amerika ketimbang Iran dan bersikeras untuk menerapkan sanksi ini pada akhirnya akan akan mengisolasi pemerintah Trump di seluruh dunia.
Ketika Trump bergerak dalam orbit ilusi Netanyahu tentang Iran, maka sudah barang tentu keterisolasian Amerika akan semakin cepat.