Manuver Nabi Agung 12, Manifestasi Doktrin Defensif Iran
https://parstoday.ir/id/news/iran-i65723-manuver_nabi_agung_12_manifestasi_doktrin_defensif_iran
Babak terakhir manuver Nabi Agung 12 angkatan darat IRGC dengan slogan "menunjukkan kekuatan dan keamanan permanen di bawah persatuan nasional dan kapasitas baru pertahanan di sektor strategis" di Teluk Persia sukses digelar.
(last modified 2026-05-23T15:11:37+00:00 )
Des 23, 2018 14:11 Asia/Jakarta
  • Manuver Nabi Agung ke 12
    Manuver Nabi Agung ke 12

Babak terakhir manuver Nabi Agung 12 angkatan darat IRGC dengan slogan "menunjukkan kekuatan dan keamanan permanen di bawah persatuan nasional dan kapasitas baru pertahanan di sektor strategis" di Teluk Persia sukses digelar.

Di babak final ini, hari Sabtu (22/12) untuk pertama kali operasi ofensif dalam doktrin defensif Republik Islam Iran ditunjukkan.

 

Perubahan pendekatan di manuver dari defensif ke arah ofensif, operasi perebutan wilayah yang diduduki musuh, pertahanan pulau, latihan ofensif khusus untuk merebut pantai dan menghancurkan infrastruktur musuh merupakan tujuan dari manuver ini.

 

Republik Islam Iran memiliki garis perbatasan luas baik darat maupun laut. Menjaga keamanan garis perbatasan ini membutuhkan pasukan yang profesional dan terdidik serta memanfaatkan peralatan pertahanan yang canggih. Menjawab kebutuhan ini, IRGC memiliki kemampuan dan daya tempur tingkat tinggi dan strategis serta dengan kekuatan penuh mampu menerapkan keamanan bahkan di luar perbatasan Iran.

Manuver Nabi Agung 12

 

Mayjend Mohammad Ali Jafari, Komandan IRGC hari Sabtu di sela-sela manuver Nabi Agung 12 kepada wartawan mengatakan, "Manuver ini sebagai jawaban atas klaim musuh. Mereka harus memahami bahwa kemampuan pertahanan Republik Islam Iran bersifat defensif."

 

Mayjend Ali Jafari berharap musuh semakin memahami kemampuan pembalasan Iran.

 

Keamanan bertumpu pada dua unsur:

 

Pertama, teknologi dan spesialisasi di operasi pertahanan. Jika sebuah negara tidak memiliki unsur ini, atau bahkan hanya sedikit memilikinya, maka mereka akan mengalami kerentanan dan kendala di sektor pertahanan.

 

Unsur kedua adalah kekuatan defensif dan juka diperlukan kekuatan ofensif. Pendekatan ini sangat strategis untuk melawan setiap agresor.

 

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan terbarunya dengan para komandan dan petinggi angkatan laut militer Iran seraya mengisyaratkan barisan musuh dan rival dalam melawan Republik Islam mengingatkan, Republik Islam tidak berencana menjadi pelopor perang dengan siapapun, namun bergitu negara ini harus meningkatkan kemampuannya sehingga musuh bukan saja takut menyerang Iran, bahkan berkat solidaritas, kekuatan dan kehadiran berpengaruh angkatan bersenjata Iran di lapangan, bayang-bayang ancaman terhadap bangsa Iran juga akan terhapus.

 

Berdasarkan perspektif ini, penyelenggaraan manuver kali ini dan unjuk kekuatan operasi ofensif di doktrin defensif Iran membawa pesan bahwa Republik Islam di sektor strategi pertahanan melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengejar dan menolak ancaman. Dan langkah ini dinilai sangat urgen oleh Iran.

 

Brigjen Mohammad Pakpour, komandan angkatan darat Sepah Pasdaran (IRGC) seraya menekankan poin bahwa Iran bukan ancaman bagi negara manapun, terkait hal ini mengatakan, jika musuh memiliki niat buruk, maka kami akan melawannya dengan segenap kemampuan dan kapasitas yang kami miliki.

 

Dewasa ini, angkatan bersenjata Iran memiliki kemampuan militer tinggi. Dalam hal ini, kapasitas pertahanan khususnya di sektor pertahanan rudal mendorong lembaga riset strategis menyebut kekuatan militer Iran sebagai kekuatan penentu.

 

Lembaga riset strategis dari Inggris di laporannya terkait kemampuan militer Iran mengingatkan AS dan sekutunya bahwa mereka jangan mengejar ambisi yang mustahil, yakni berusaha menghapus rudal Iran.

 

Kemampuan ini sama sekali bukan ancaman, tapi Iran menghendaki keamanan bagi seluruh negara kawasan dan dunia. (MF)