The Atlantic: Akhir Permainan Trump Adalah Kekalahan
-
Donald Trump
Pars Today – Majalah The Atlantic dalam sebuah laporan analitis menyatakan: "Akhir permainan (endgame) Trump melawan Iran adalah interpretasi dari sebuah kekalahan (penyerahan)."
Menurut laporan Kantor Berita Mehr, majalah The Atlantic dalam sebuah laporan analitis tentang akhir permainan Trump, menulis: "Garis besar akhir permainan Presiden Trump dalam perang melawan Iran kini mulai terungkap. Menurut laporan, Trump kemarin dalam panggilan telepon dengan Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, menjelaskan bahwa Amerika Serikat sedang bernegosiasi untuk sebuah 'nota kesepahaman' dengan Iran yang 'secara resmi akan mengakhiri perang dan memulai periode 30 hari negosiasi' tentang program nuklir Tehran dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Tujuan dan dampak dari kesepakatan semacam itu harus jelas: Amerika Serikat sedang menarik diri dari krisis. Trump mungkin akan melakukan serangan terbatas lainnya untuk menunjukkan ketegasan dan memenuhi tuntutan para pendukung perang, tetapi itu akan menjadi isyarat teatrikal belaka. Akhir permainan dalam kasus ini adalah interpretasi dari sebuah 'kekalahan'."
Majalah ini menambahkan: "Trump telah berulang kali ragu dalam menghadapi Iran sejak 18 Maret, yaitu ketika Israel menyerang ladang gas Pars dan Iran membalas dengan menyerang fasilitas produksi gas alam terpenting (milik Amerika Serikat) di Qatar. Kemudian Trump menuntut penghentian penargetan infrastruktur energi Iran oleh negaranya dan Israel, dan perang secara efektif berakhir. Ancaman berulang Trump untuk memulai kembali serangan sejak saat itu, semuanya adalah gertakan. Pejabat Tehran telah menghitung selama 2 bulan bahwa Trump tidak akan memulai serangan lain, dan oleh karena itu, meskipun menderita kerusakan akibat 37 hari serangan tanpa henti, mereka tidak memberikan konsesi apa pun. Sebaliknya, kondisi mereka untuk kesepakatan adalah kondisi seorang pemenang di medan perang: mereka menuntut kompensasi perang, tanpa batasan dalam pengayaan uranium, kontrol Selat Hormuz yang diakui secara hukum, dan pengakhiran sanksi."
The Atlantic kemudian menambahkan: "Bahwa Trump sebagai respons atas pembangkangan ini, kini menuntut gencatan senjata dan negosiasi selama 30 hari, adalah penerimaan implisit atas kekalahan. Jika dia meluncurkan serangan teatrikal dalam beberapa hari ke depan, Iran akan memahami sifatnya dengan baik. Tidak ada yang percaya bahwa dia akan memulai perang skala penuh lagi sebulan kemudian. Antara lain, dengan 30 hari kesempatan lebih lanjut untuk pemulihan, persenjataan kembali, dan mengisi kasnya dengan biaya-biaya, Iran akan berubah menjadi musuh yang lebih kuat. Selain itu, dalam 30 hari ke depan, sistem hukum baru Selat Hormuz (yang ditentukan oleh) Iran mungkin telah sepenuhnya terkukuhkan. Seperti yang dilaporkan oleh Institute for the Study of War, Iran telah menggunakan masa gencatan senjata untuk 'menormalkan' kendalinya atas selat tersebut dengan 'memaksa negara-negara pengimpor minyak' untuk membuat perjanjian transit dengan Tehran dan menerima biaya dari kapal-kapal negara yang tidak memiliki perjanjian semacam itu. Menurut pejabat Iran, sistem hukum baru Selat Hormuz akan memberikan prioritas kepada mitra strategis Iran, seperti Rusia dan Tiongkok, dan mengizinkan negara-negara sahabat Iran, seperti India dan Pakistan, untuk menegosiasikan perjanjian transit mereka sendiri. Kapal-kapal yang terkait dengan negara-negara yang dianggap musuh oleh Iran akan sepenuhnya dilarang mengakses selat tersebut." (MF)