Perjalanan Larijani ke Qatar; Menatap Peluang di Sidang IPU Doha
-
Badan Parlemen Dunia atau Inter-Parliamentary Union (IPU)
Sidang Badan Parlemen Dunia atau Inter-Parliamentary Union (IPU) ke-140 di Doha, Qatar sedang berlangsung. Ali Larijani, Ketua Parlemen Iran bersama rombongan telah melakukan perjalanan ke Qatar untuk menghadiri sidang tersebut. Sidang Badan Parlemen Dunia atau Inter-Parliamentary Union (IPU) dibentuk pada tahun 1889, dengan tujuan membantu perdamaian dan kerjasama antarnegara melalui dialog di antara parlemen dunia.
IPU beranggotakan 180 parlemen negara di dunia dan 12 forum parlemen regional juga menjadi anggota berafiliasi dengan Badan Parlemen Dunia ini. Lebih dari 2.200 perwakilan dan 80 ketua parlemen dari lebih dari 160 negara menghadiri Sidang Umum ke-140 IPU, yang akan berlanjut hingga 10 April di Doha. Pada pertemuan puncak ini, masalah-masalah utama yang menjadi perhatian internasional, termasuk isu terorisme, masalah penyelundupan, khususnya perdagangan narkoba dan isu-isu yang menyangkut hak-hak individu di berbagai negara.
Republik Islam Iran untuk pertama kalinya pada tahun 2015 menjadi anggota Komite Eksekutif Inter-Parliamentary Unio (IPU) hingga tahun 2019.
Kazem Jalali, anggota Parlemen Iran dan Ketua Pusat Riset Parlemen mengatakan, "Hari ini, Badan Parlemen Dunia berada dalam posisi yang bagus. IPU setiap tahunnya menyelenggarakan dua kali pertemuan yang membahas isu-isu seperti hak asasi manusia dan kebijakan internasional dan Komite Eksekutif IPU yang bertugas mengatur semua jadwal antar-parlemen dan menentukan negara mana yang akan menjadi tuan rumah."
Parlemen memiliki hubungan erat dengan tuntutan rakyatnya dan dapat mengaspirasikannya. Dari sudut pandang ini, sidang umum IPU seperti sidang Majelis Umum PBB adalah kesempatan yang baik untuk membahas kerja sama regional dan internasional. Memperhatikan urgensi sidang umum IPU, Ali Larijani, pada hari Sabtu (06/04) sebelum meninggalkan Tehran menuju Qatar menyinggung perilaku rendah Amerika Serikat sehubungan dengan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Iran yang terkena dampak banjir mengatakan, "Berpartisipasi dalam sidang umum Badan Parlemen Dunia dan bernegosiasi dengan para ketua parlemen dari berbagai negara di dunia merupakan kesempatan untuk menggambarkan perilaku rendah Amerika Serikat terhadap bangsa Iran."
Saat ini, tantangan besar politik dan ekonomi telah muncul karena kebijakan intervensionis dan unilateralisme Amerika Serkat di kawasan dan di dunia. Badan Parlemen Dunia adalah lembaga penting di tingkat dunia yang dapat membantu menghubungkan antara parlemen negara-negara di dunia dengan mendekatkan pandangan menghadapi pelbagai ancaman dan mengidentifikasi faktor-faktor perusak stabilitas dan keamanan negara-negara di dunia. Faktanya adalah bahwa dalam dekade terakhir harus dilihat sebagai tahun-tahun kegelapan dan periode sulit dari serangan konspirasi dan terorisme yang disponsori oleh Amerika Serikat, Zionis Israel dan Arab Saudi di kawasan.
Pelbagai konspirasi yang menantang Asia Barat memberikan peluang bagi Amerika Serikat untuk menempatkan Baitul Maqdis sebagai ibukota rezim Zionis. Amerika Serikat dengan perilaku dan tindakan anti kemanusiaan telah menjadi model pengabaian nilai-nilai budaya, agama dan ras dan Trump dengan perilaku tidak manusiawinya telah mengejek perdamaian, hidup damai berdampingan, kerja sama, saling percaya dan saling memahami yang merupakan elemen paling mendasar dari perdamaian dan keamanan internasional. Sayangnya, beberapa rezim yang bergantung dengan asing seperti Arab Saudi, yang memboikot partisipasi dalam sidang umum IPU di Doha, berada dalam arah destruktif dan pengalihan ini dengan tujuan jahat Amerika Serikat dan Zionis Israel.
Sementara Donald Trump, Presiden Amerika Serikat menyamakan penguasa Saudi dengan sapi perah yang harus diperah, maka tidak diragukan lagi bahwa kelanjutan dari tren ini telah menyebabkan bencana ekonomi, sosial dan keamanan serta memiliki konsekuensi serius. Seperti yang dapat kita lihat, kerusakan ini tidak terbatas pada kawasan dan negara tertentu saja. Ini adalah kenyataan yang harus diketahui dan diperhatikan oleh parlemen dunia sebagai perwakilan dari negara-negara.
Sidang umum IPU di Doha, dari perspektif ini, sangat penting secara global. IPU merupakan sarana komunikasi antara perwakilan bangsa-bangsa dan kapasitas ini dapat digunakan untuk berinteraksi antara parlemen-parlemen untuk mempromosikan perdamaian dan keamanan serta untuk benar-benar mendukung hak bangsa-bangsa negara terhadap penjajah.