Sikap Eropa dan Komitmen Iran terhadap JCPOA
Kurang tiga pekan dari akhir tenggat waktu yang diberikan Iran selama dua bulan terhadap implementasi komitmen Eropa di JCPOA, pihak Eropa masih belum mengambil langkah signifikan. Masalah ini memicu reaksi dari pejabat tinggi Iran.
Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran, Behrooz Kamalvandi kepada wartawan hari Senin (17/6) menyinggung langkah-langkah teknis terbaru Iran untuk menghentikan beberapa komitmennya terhadap JCPOA dengan mengatakan bahwa produksi uranium Iran telah meningkat empat kali lipat.
Kamalvandi juga menegaskan, setelah melampaui produksi uranium 300 kilogram, Iran juga akan mempercepat pengayaan uraniumnya sebesar 3,67. Menurutnya, persentase ini dapat dengan mudah meningkatkan produksi uraniuam hingga 20 persen.
Selama setahun terakhir, sejak AS menyatakan keluar dari JCPOA, pihak Eropa tidak mengambil langkah praktis untuk menjaga keberlanjutan perjanjian nuklir internasional ini, karena tekanan AS dan kepentingan negaranya masing-masing.
Berdasarkan poin 26 dan 36 dari JCPOA, Iran bisa menghentikan beberapa komitmennya menyikapi tindakan pihak lain yang menandatangani kesepakatan bersama tersebut.
Oleh karena itu, langkah balasan Iran dengan menghentikan beberapa komitmennya berada dalam kerangka kerja JCPOA, dan tindakan ini tidak dapat diartikan sebagai keluarnya Iran dari perjanjian internasional itu.
Kamalvandi menekankan, jika negara-negara Eropa memandang JCPOa penting tentu saja mereka harus mengambil langkah signifikan untuk menjaganya.
Menurut poin 26 dari JCPOA, jika Amerika Serikat dan Uni Eropa kembali memberlakukan sanksi terhadap Iran, maka Iran bisa menggunakan masalah ini sebagai dasar untuk penangguhan kewajiban secara umum atau sebagiannya.
Mantan duta besar Iran untuk IAEA, Reza Najafi mengatakan, meskipun Republik Islam Iran bisa bertindak lebih cepat dengan mendahului mereka, tapi Tehran tetap bersabar dengan memberikan tenggat waktu kepada pihak lawan, namun mereka tidak memanfaatkannya.
Sikap senada disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi dalam pertemuan dengan Wakil Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Helga Schmidt di Tehran yang mengatakan bahwa batas waktu 60 hari tidak akan diperpanjang dengan cara apa pun, dan Iran akan mengambil langkah berikutnya, atau langkah kedua, kecuali mereka memenuhi tuntutan Iran.
Analis masalah nuklir Mohammad Saeedi mengungkapkan, "... Peningkatan produksi uranium adalah titik strategis Iran. Komitmen Iran telah terpenuhi dan tingkat pengayaan telah dilakukan sesuai ketentuan, tetapi Amerika Serikat bersikeras untuk menghentikan secara total pengayaan Iran."
Sesuai resolusi Dewan Keamanan PBB no. 2231, JCPOA telah diakui sebagai perjanjian internasional, tetapi Amerika Serikat, sebagai anggota PBB justru membatalkan komitmennya dan mendorong negara-negara lain supaya mundur, yang bertentangan dengan hukum internasional.
Presiden Republik Iran di KTT CICA kembali menegaskan, jika pihak penandatangan lain dari JCPOA tidak memenuhi kewajibannya, maka Iran tidak bisa dijadikan sebagai pihak tunggal yang menjalankan berkomitmennya terhadap JCPOA."
Kini, Iran menyampaikan pesan tegasnya terhadap para pihak di JCPOA supaya menjaga hak-hak legalnya. Sebagaimana ditegaskan Juru bicara Badan Energi Atom Iran, jika Iran selama dua bulan ke depan tidak bisa memasarkan air beratnya di pasar internasional, maka cadangan air berat negara itu akan melewati 130 ton. Berdasarkan ketentuan JCPOA, kelebihan air berat Iran dapat dipasok ke pasar internasional, tetapi Iran juga bisa menghentikan pasokannya tersebut demi memenuhi kebutuhan dalam negeri.(PH)