Jeffrey Sachs: Perang Iran Tandai Akhir Mitos Kekuatan Mutlak AS, Dunia Memasuki Era Baru
https://parstoday.ir/id/news/world-i189420-jeffrey_sachs_perang_iran_tandai_akhir_mitos_kekuatan_mutlak_as_dunia_memasuki_era_baru
Pars Today - Perang Iran bukan sekadar konflik regional, tetapi momen di mana mitos kekuatan absolut Amerika Serikat bertabrakan dengan realitas, demikian kata Jeffrey Sachs, profesor di Columbia University.
(last modified 2026-05-04T18:03:01+00:00 )
May 05, 2026 01:01 Asia/Jakarta
  •  Jeffrey Sachs, profesor di Columbia University
    Jeffrey Sachs, profesor di Columbia University

Pars Today - Perang Iran bukan sekadar konflik regional, tetapi momen di mana mitos kekuatan absolut Amerika Serikat bertabrakan dengan realitas, demikian kata Jeffrey Sachs, profesor di Columbia University.

Menurut Sachs, "Perang Iran adalah ketika mitos kekuatan absolut Amerika bertabrakan dengan realitas."

Ini bukan hanya kegagalan satu pemerintahan atau satu presiden, tetapi keruntuhan seluruh proyek kebijakan luar negeri AS pasca-Perang Dingin. Setelah Uni Soviet runtuh pada 1991, Washington keliru menyamakan kekosongan kekuasaan sementara dengan dominasi permanen. AS menyebut diri sebagai "negara yang sangat diperlukan", padahal mimpi dunia unipolar sejak awal hanyalah ilusi.

Sachs menegaskan bahwa akhir hegemoni Barat tidak dimulai dengan Trump, tetapi berakar pada tahun 1945. Dominasi Eropa, lalu AS, tidak pernah bersifat permanen. Ia hanyalah situasi luar biasa yang lahir dari industrialisasi dini, yang dibangun di atas perampasan sumber daya negara-negara jajahan.

Agresi ke Iran: Tembok Batas Kekuatan AS

Agresi militer ke Iran mengungkap fakta bahwa Amerika Serikat telah mencapai batas kekuatannya, bukan hanya karena operasi militer yang gagal, tetapi karena dunia yang dulu memungkinkan dominasi AS kini tidak ada lagi.

Washington tidak lagi bisa memaksakan kehendaknya kepada kekuatan-kekuatan regional utama. Iran:

- Bertahan dari sanksi.

- Melewati perang proksi.

- Menghadapi konfrontasi langsung.

- Mempertahankan kohesi internal.

- Memperkuat aliansi regional.

- Dan yang terpenting: mengungkap keterbatasan kekuatan paksaan AS.

Bukan Hanya Kekalahan Militer, Tetapi Strategis dan Ideologis

Sachs meyakini ini adalah kekalahan strategis dan ideologis. Elite politik AS masih bertingkah seolah-olah negara mana pun yang menolak tekanan Washington telah melanggar tatanan alamiah dunia. Akibatnya, perlawanan Iran tidak dipahami sebagai fakta geopolitik, tetapi sebagai pembangkangan yang tak tertahankan.

Ia mempertanyakan keyakinan buta AS terhadap kemampuannya mengendalikan sistem global secara permanen. Washington, kata Sachs, berulang kali melebih-lebihkan kekuatan alat-alatnya:

- Rusia keluar dari isolasi finansial dengan kepala tegak.

- Tiongkok membangun sistem paralel.

- Iran beradaptasi dengan kondisi yang ada.

Anggapan bahwa AS dapat "membekukan" ekonomi kapan pun ia mau, menurut Sachs, berasal dari dunia yang sudah tidak ada lagi.

Asia Bangkit, AS Terobsesi pada Kekuatan Militer

Sementara Washington secara obsesif terperangkap dalam gagasan dominasi militer, perubahan nyata terjadi di tempat lain. Asia, rumah bagi 60 persen populasi dunia, sedang:

- melakukan industrialisasi ulang,

- berinovasi,

- dan melampaui Barat dalam teknologi-teknologi kunci.

Perang Iran bukan sekadar kekalahan. Ia adalah moment ketika Amerika berhadapan dengan dunia yang tidak lagi ia kendalikan.

John Mearsheimer: AS Kehilangan Kemampuan Proyeksi Kekuatan

John Mearsheimer, teoretikus realisme ofensif, mengkonfirmasi analisis ini dari sudut pandang berbeda. Baginya, perang ini tidak hanya gagal melemahkan kekuatan militer AS, tetapi secara signifikan mengurangi kemampuan proyeksi kekuatan AS.

Mearsheimer menyatakan bahwa keterlibatan AS kembali di rawa Timur Tengah adalah hadiah yang Tiongkok butuhkan untuk memantapkan posisinya di Asia.

Kebuntuan Ideologis Washington

Menurut Sachs, aparatus kebijakan luar negeri AS terjebak dalam pola pikir yang menganggap setiap kekuatan independen sebagai ancaman. Dalam pandangan dunia ini:

- Diplomasi hampir mustahil.

- Konflik permanen adalah sesuatu yang pasti.

Ia menekankan bahwa tidak ada presiden AS, baik Republik maupun Demokrat, yang dapat membalikkan kemunduran jangka panjang hegemoni Barat atau kebangkitan Asia. Masalah utamanya bukanlah kepribadian Trump, tetapi ketidakmampuan Washington beradaptasi dengan dunia di mana ia bukan lagi satu-satunya negara adidaya.

Pertanyaan Akhir Sachs:

"Dapatkah Washington menerima dunia multipolar? Atau akankah ia terus terlibat dalam perang yang tak termenangkan, mengejar masa lalu yang tak bisa dikembalikan?"

Jawaban atas pertanyaan ini, kata Sachs, akan menentukan nasib tatanan dunia masa depan.

Jeffrey Sachs dan John Mearsheimer, dua suara intelektual AS yang tidak bisa dituduh pro-Iran, dengan tegas menyatakan: Perang Iran telah mengubur mitos kekuatan absolut Amerika. Dunia kini multipolar, Asia bangkit, dan Washington kehilangan kemampuannya untuk memaksakan kehendak. Pertanyaannya bukan lagi apakah AS akan menerima kenyataan ini, tetapi seberapa banyak penderitaan yang akan terjadi sebelum ia akhirnya beradaptasi.(sl)