Direktur Think Tank Rusia: Perlawanan Iran Bawa Agresor ke Isolasi Diplomatik
-
Ivan Timofeev, Direktur Dewan Hubungan Internasional Rusia (RIAC)
Pars Today - Direktur Dewan Hubungan Internasional Rusia (RIAC) menyatakan bahwa Iran, dengan perlawanannya terhadap serangan militer besar-besaran AS dan Israel, berhasil mencapai posisi diplomatik yang menguntungkan.
Dilansir Pars Today dari IRNA, 5 Mei 2026, Ivan Timofeev, Selasa (hari ini) dalam catatan di situs Dewan Federasi Rusia, menulis, "Iran mampu bertahan melawan agresi militer AS dan Israel, yang dengan sendirinya merupakan kemenangan taktis yang signifikan."
Timofeev mencatat bahwa setelah agresi militer dimulai, Amerika Serikat dan Israel mendapati diri mereka tanpa dukungan berarti dari aktor-aktor utama lainnya.
Ia mengingatkan, "Sekutu Eropa di NATO menolak berpartisipasi dalam operasi pembersihan ranjau di Hormuz. Mereka enggan terlibat dalam konflik ini, terutama karena serangan terhadap Iran tidak dikoordinasikan dengan mereka. Sementara itu, sekutu-sekutu AS di kawasan juga menderita kerugian signifikan akibat konflik ini. Aksi militer tersebut, alih-alih memperkuat, justru melemahkan keamanan mereka."
Timofeev menegaskan bahwa Iran memasuki konflik ini sendirian, tanpa sekutu militer yang wajib memberikan bantuan segera. Namun secara diplomatik, kini justru Amerika Serikat dan Israel yang menemukan diri mereka terisolasi.
Analis Rusia ini membongkar blunder strategis AS: mereka mengira sekutu akan ikut terbawa serta, tetapi kenyataan berkata lain. Eropa ogah, kawasan ketakutan. Iran, yang masuk medan perang seorang diri, justru keluar dengan kemenangan diplomatik. Dan kini, bukan Iran yang minta tolong, tetapi Washington dan Tel Aviv yang mulai merasakan dinginnya sendiri.(Sail)