Ghalenoei: Kami Tak Puas Hanya di Fase Grup, Ingin Sejarah Baru
https://parstoday.ir/id/news/iran-i189650-ghalenoei_kami_tak_puas_hanya_di_fase_grup_ingin_sejarah_baru
Pars Today - Pelatih tim nasional sepak bola Iran, Amir Ghalenoei, dalam wawancara dengan situs FIFA menyoroti tantangan yang dihadapi skuad dalam persiapan Piala Dunia 2026. Ia menegaskan bahwa Iran menargetkan lolos dari fase grup untuk pertama kalinya dalam sejarah partisipasi mereka di turnamen akbar ini.
(last modified 2026-05-08T07:17:28+00:00 )
May 08, 2026 14:12 Asia/Jakarta
  • Pelatih tim nasional sepak bola Iran, Amir Ghalenoei
    Pelatih tim nasional sepak bola Iran, Amir Ghalenoei

Pars Today - Pelatih tim nasional sepak bola Iran, Amir Ghalenoei, dalam wawancara dengan situs FIFA menyoroti tantangan yang dihadapi skuad dalam persiapan Piala Dunia 2026. Ia menegaskan bahwa Iran menargetkan lolos dari fase grup untuk pertama kalinya dalam sejarah partisipasi mereka di turnamen akbar ini.

Dilansir IRNA, 7 Mei 2026, Iran kini mempersiapkan penampilan ketujuh mereka di Piala Dunia. Dalam enam edisi sebelumnya, tim nasional selalu tersingkir di babak grup dan hanya mencatat tiga kemenangan dari 18 pertandingan yang telah dimainkan.

Ghalenoei menjelaskan kepada FIFA bahwa di internal tim tumbuh keyakinan kuat: generasi saat ini, yang memadukan talenta muda berbakat dengan pemain berpengalaman, siap akhirnya mengakhiri rangkaian hasil kurang memuaskan di fase grup.

Mengenai kondisi persiapan tim, Ghalenoei menyatakan, "Kami baru saja menghadapi banyak kendala, tetapi para pemain telah berusaha dan berkorban sepenuh hati. Mereka bekerja sangat keras demi lolos, dan tugas saya adalah mengucapkan terima kasih kepada mereka. Mereka mampu menciptakan momen epik di Piala Dunia dan memiliki potensi teknis untuk menjadikan turnamen ini bersejarah."

Iran tergabung dalam grup yang diisi tiga tim kuat benua: Belgia, Mesir, dan Selandia Baru. Pekerjaan jelas tidak akan mudah. Namun, Ghalenoei tetap memandang situasi dengan optimisme.

Selain tiga negara tuan rumah bersama, Iran menjadi negara ketiga yang memastikan tiket ke Piala Dunia, dengan pencapaian tersebut diraih pada 20 Maret tahun lalu, lima hari setelah Jepang, "saudara Asia" mereka, menjadi negara pertama yang mengamankan tempat di Amerika Utara.

Satu-satunya kekalahan Iran dalam 16 laga kualifikasi AFC terjadi saat melawan Qatar, setelah posisi mereka sebagai tim lolos sudah dipastikan. Sejak itu, mereka melaju ke final CAFA Nations Cup dan tahun lalu berlaga dalam turnamen di Uni Emirat Arab melawan Kepulauan Cape Verde dan Uzbekistan.

Pada hari FIFA di bulan Maret, Iran juga mencatat kekalahan tipis dari Nigeria, diikuti kemenangan meyakinkan 5-0 atas Kosta Rika.

Ghalenoei menanggapi kondisi laga uji coba bulan-bulan terakhir, "Saya benar-benar bangga dengan tim ini karena banyak alasan. Kami menghadapi situasi sulit dengan segala kendala dan kekhawatiran, termasuk ketidakmampuan menjadi tuan rumah laga kandang. Namun, kami menjadi salah satu tim pertama yang memastikan tiket ke Piala Dunia."

Ia menambahkan, "Kami orang Iran memiliki keistimewaan: dalam situasi sulit, kami mampu menemukan atau menciptakan solusi. Meski menghadapi kondisi berat, kami bisa mencapai level ini. Kini, sekitar satu bulan lagi Piala Dunia dimulai, dan kami berada dalam situasi yang sangat menantang."

Pelatih tim nasional ini menegaskan, "Namun, pandangan saya adalah melalui sepak bola, kami dapat menghadirkan kebahagiaan bagi keluarga dan masyarakat Iran, baik di dalam maupun luar negeri. Sepak bola adalah konsep atau proyek yang mampu mendekatkan bangsa-bangsa. Ini bisa bersifat nasional atau global, seperti Argentina atau Brasil yang memiliki pendukung di mana-mana."

Ia melanjutkan, "Sepak bola di Iran juga demikian. Saya berharap melalui sepak bola, meski dengan segala persoalan yang dihadapi negara kami, kami dapat menghadirkan persatuan nasional. Kami mencintai rakyat kami dan ingin membahagiakan mereka. Saya berharap kami dapat mewujudkannya melalui sepak bola."

Ghalenoei juga menyampaikan harapan, "Saya berharap tidak ada perang di belahan dunia mana pun, agar masyarakat dapat menikmati sepak bola dan kehidupan mereka. Ini pesan saya melalui sepak bola untuk dunia dan rakyat saya."

Ghalenoei, yang lahir di Tehran, telah berkecimpung di level tertinggi sepak bola Iran selama hampir setengah abad, baik sebagai pemain maupun pelatih. Sebagai pemain, ia memulai karier mudanya di Rahahan, hanya satu tahun setelah penampilan perdana Iran di Piala Dunia 1978 Argentina.

Sebagian besar karier bermainnya dihabiskan di salah satu raksasa Tehran, Esteghlal, tempat gelandang mantan ini mencatat lebih dari dua belas penampilan untuk tim nasional. Pada 1999, satu tahun setelah berakhirnya penantian 20 tahun Iran untuk tampil kedua kali di Piala Dunia, ia beralih ke dunia kepelatihan.

Kini berusia 62 tahun, Ghalenoei memiliki pengalaman luas dalam karier profesional yang berjalan seiring dengan pasang surut sepak bola Iran.

Meski menghadapi berbagai rintangan, Ghalenoei dengan keyakinan besar berpendapat bahwa Iran mampu menuliskan babak baru dalam sejarah sepak bola mereka pada Piala Dunia musim panas tahun ini.

Ia menyatakan, "Kami ingin menciptakan kenangan indah di Piala Dunia ini. Dengan pengalaman dari edisi-edisi sebelumnya, kami siap untuk pertama kalinya melaju ke babak gugur. Kami tidak akan puas hanya berada di fase grup; kami ingin memainkan sepak bola yang baik, bukan sekadar mengejar hasil."

Ghalenoei menambahkan, "Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada para pendukung luar biasa kami, baik di dalam maupun luar negeri, yang selalu mendampingi Tim Melli. Mereka adalah alasan di balik kesuksesan lolos kami. Saya mungkin memegang peran paling tidak penting di antara semua pihak."(Sail)