Temui Wang Yi, Araghchi Ingin Tiongkok Mainkan Peran Aktif di DK PBB
-
Menlu Iran Sayid Abbas Araghchi di Beijing
Pars Today - Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, dalam pertemuan dengan mitranya dari Tiongkok, menekankan pentingnya kelanjutan peran Beijing dalam mencegah pelanggaran terhadap perdamaian dan keamanan internasional.
Dilansir Pars Today, 6 Mei 2026, Sayid Abbas Araghchi yang memimpin delegasi diplomatik ke Beijing, Rabu (6/5) pagi bertemu dengan Wang Yi, Kepala Komisi Urusan Luar Negeri Partai yang berkuasa sekaligus Menteri Luar Negeri Tiongkok.
Dalam pertemuan yang berlangsung sehari penuh itu, kedua pejabat membahas berbagai aspek hubungan bilateral, kerja sama ekonomi-dagang, serta implementasi perjanjian-perjanjian yang telah disepakati sebelumnya.
Araghchi, merujuk pada ikatan kuno dua peradaban besar, Iran dan Tiongkok, menggambarkan Beijing sebagai teman dekat dan mitra strategis Iran. Ia menegaskan tekad pemerintahan Republik Islam Iran untuk meningkatkan secara menyeluruh hubungan strategis dan persahabatan kedua negara dalam kerangka kemitraan strategis komprehensif berdasarkan rasa hormat dan kepercayaan bersama. "Kami yakin kerja sama dan kemitraan strategis kedua negara dalam situasi baru akan terus berlanjut, lebih kuat dari sebelumnya," tegasnya.
Araghchi memaparkan kejahatan AS dan rezim Zionis terhadap rakyat Iran serta pelanggaran berat hukum humaniter internasional dalam perang 40 hari. Ia mengapresiasi sikap prinsipil Tiongkok yang mengutuk pelanggaran prinsip dasar Piagam PBB oleh AS dan Israel, serta pendekatan bertanggung jawab Beijing terhadap penyalahgunaan DK PBB oleh Washington.
"Kami berharap dengan dimulainya kepresidenan berkala Tiongkok di DK PBB dan kelanjutan peran efektif Beijing, kita akan menyaksikan perkembangan konstruktif dalam mencegah kelanjutan pelanggaran hukum dan pelanggaran terhadap perdamaian dan keamanan internasional," ujar Araqchi.
Menlu Iran juga membahas proses diplomatik dan inisiatif untuk mengakhiri perang agresi AS-Rezim Zionis terhadap Iran, termasuk proses negosiasi Iran-AS dengan mediasi Pakistan. "Sebagaimana Iran telah tampil berwibawa di medan pertahanan diri dan tetap dalam kesiapan penuh untuk menghadapi setiap kejahatan, di bidang diplomasi pun kami serius dan teguh pendirian," katanya.
Wang Yi, memuji ketahanan dan kegigihan rakyat Iran dalam menghadapi para agresor, serta niat baik dan pendekatan bertanggung jawab Iran, terutama upaya mitranya dalam menindaklanjuti proses diplomatik dan mencegah eskalasi ketegangan di kawasan. Ia menegaskan posisi tegas Tiongkok dalam mendukung integritas teritorial, kedaulatan, dan keamanan nasional Iran.
"Posisi prinsipil Tiongkok adalah menolak penggunaan kekerasan dan kelanjutan perang ilegal ini, yang konsekuensi merugikannya tidak hanya bagi Iran, tetapi bagi semua negara dan bangsa di kawasan dan dunia," tegas Wang Yi.
Dalam pertemuan yang berlangsung beberapa jam ini, kedua menlu juga membahas situasi di Selat Hormuz, upaya menjaga gencatan senjata, dan prospek perdamaian kawasan.
Di tengah tekanan AS yang terus membayangi Iran dan ketidakpastian kebijakan global, Tehran menemukan titik pijak diplomatik yang kokoh di Beijing. Araghchi tidak hanya datang untuk membahas hubungan bilateral, tetapi untuk secara eksplisit meminta Tiongkok, sebagai anggota tetap DK PBB dan kekuatan ekonomi global, untuk secara aktif mencegah "pelanggaran perdamaian" yang dilakukan oleh AS dan sekutunya. Wang Yi menyambut dengan pernyataan dukungan yang kuat terhadap kedaulatan dan keamanan Iran, bahkan mengakui hak Iran atas energi nuklir. Pertemuan ini, yang terjadi tepat sebelum kunjungan Trump ke Beijing, mengirim sinyal jelas: kemitraan strategis Iran-Tiongkok akan terus menguat, apa pun yang terjadi.(Sail)