Iran Aktualita (6 Juli 2019)
-
Kapal tanker yang membawa minyak Iran
Perkembangan di Republik Islam Iran selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah peristiwa penting di antaranya pertemuan Rahbar dengan penyelenggara ibadah haji dan penekanan beliau akan urgensitas ritual agung ini.
Peristiwa lainnya adalah keputusan Iran menurunkan komitmen JCPOAnya sebagai jawaban atas pelanggaran janji Eropa dalam melaksanakan kesepakatan nuklir, lawatan menteri perminyakan Iran ke Wina untuk menghadiri sidang OPEC dan penyitaan kapal tanker minyak Iran oleh marinir Inggris.
Pekan lalu 12 Tir (3 Juli) bertepatan dengan peringatan kejahatan Amerika Serikat menembak jatuh sebuah pesawat komersial Iran. Pada 3 Juli 1988, pesawat komersial Republik Islam Iran di atas perairan Teluk Persia ditembak dua rudal oleh kapal perang Amerika USS Vincennes dan 290 penumpang besarta awak pesawat termasuk 66 anak-anak dan 53 perempuan tewas.
Pertemuan Rahbar dengan Staf Penyelenggara Ibadah Haji
Menjelang penyelenggaraan manasik haji, sejumlah staf penyelenggara ibadah haji bertemu dengan Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei.
Pidato rahbar di pertemuan ini fokus pada urgensitas haji sebagai peluang untuk membenahi diri dan menjalankan perintah Ilahi serta melakukan ritual agama (ibadah). Ayatullah Khamenei di pertemuan ini menyebut prinsip Bara'at dari kaum musyrik sebagai sebuah kewajiban Islam dan sesuatu yang harus dilakukan.
Manifestasi persatuan umat Muslim merupakan salah satu manifestasi politik ibadah haji dan di acara bara'at dari kaum musyrik, muslimin menunjukkan keagungan umat Islam dan mengandalkan kekuatan ilahi dalam menghadapi kejahatan dan musuh.
Selain sisi politik dan menjaga martabat jamaah haji selama proses ibadah ini, salah satu tuntutan serius dan abadi Republik Islam Iran adalah penekanan terhadap keamanan dan kehormatan, kesejahteraan dan ketenangan seluruh jamaah haji khuussnya jamaah asal Iran.
Ayatullah Khamenei di bagian lain pidatonya seraya mengisyaratkan tanggung jawab pemerintah Arab Saudi, mengingatkan tugas besar untuk menjamin keamanan para peziarah tanpa memberlakukan penjagaan keamanan ketat di lingkungan haji serta menjaga kehormatan para jamaah.
Seperti yang dijelaskan Rahbar, permusuhan Amerika dan kubu arogan dunia lainnya terhadap hakikat Islam sangat luas dan serangan berutal politik, sosial, budaya, ekonomi dan keamanan mereka terhadap muslim mengindikasikan kedalaman permusuhan mereka terhadap ajaran Islam.
Di kondisi sensitif kehadiran muslim dari seluruh penjuru dunia di manasik haji merupakan peluang berharga untuk menjelaskan hakikat Islam dan isu-isu utama dunia Islam termasuk isu Palestina dan Yaman. Tujuan dari kongres jutaan muslim ini selain sisi spiritual haji, juga memperhatikan isu-isu menentukan khususnya kehormatan dan kekuatan umat Islam.
Iran Turunkan Komitmennya di JCPOA sesuai Pasar 36 Kesepakatan Nuklir
Dalam koridor tenggat waktu 60 hari yang diberikan Iran kepada Uni Eropa untuk menjalankan komitmen JCPOAnya, pekan lalu cadangan uranium yang diperkaya Iran melampaui 300 kg.
Berdasarkan JCPOA, cadangan uraniuam yang diperkaya dan diperbolehkan berada di Iran sebesar 300 kg dan sisanya akan diekspor ke negara lain. Terkait air berat, volume produksi air berat bagi Iran ditentukan sebesar 170 ton dan sisanya harus dikirim ke luar negeri.
Wakil tetap Republik Islam Iran di organisasi-organisasi internasional di Wina, Kazem Gharibabadi Senin lalu seraya mengisyaratkan 15 laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) terkait komitmen Iran terhadap JCPOA menekankan, langkah Iran demi menegakkan haknya dan selaras dengan pasal 26 dan 36 JCPOA. Dengan demikian Iran sejak 8 Mei 2019 telah mengambil langkah untuk menurunkan komitmennya di JCPOA.
Setelah keluarnya AS dari JCPOA pada 8 Mei 2018 dan implementasi pasal 36 oleh Iran, Eropa memberi 11 janji di mana INSTEX bulan salah satunya, tapi sekedar pendahuluan untuk melaksanakan janji tersebut. Sampai saat ini, Eropa bukan saja tidak melaksanakan janji aslinya, bahkan langkah pendahuluan untuk implementasi komitmennya pun setelah 14 bulan baru dilaksanakan.
Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif mengatakan, jika Eropa melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk impelentasi komitmennya, langkah Tehran dapat dihentikan, namun jika langkah tersebut tidak dilaksankaan, maka Iran berdasarkan pasal 36 JCPOA akan menurunkan komitmennya.
Massoud Akhavan-Fard, dosen ilmu hukum internasional saat menganalisa langkah Amerika mengatakan, "Sikap pemerintah Amerika mengancam sejumlah negara terkait pembelian surplus air berat dan uranium yang diperkaya Iran merupakan kelanjutan dari kebijakan agresif dan haus perang Washington. Proses ekspansif dan hegemoni Amerika Serikat yang cenderung bersifat ofensif tidak hanya muncul selama beberapa bulan terakhir, tapi proses ini telah ada sejak perundingan nuklir dari Jenewa hingga Wina dan bahkan setelah kesepakatan JCPOA ."
Di Sidang OPEC, Zanganeh Protes Politisasi Minyak
Menteri Perminyakan Republik Islam Iran, Bijan Namdar Zanganeh pekan lalu saat menghadiri sidang OPEC tingkat menteri perminyakan ke 176 di Wina menjalskan sikap Tehran terkait ekspor minyak. Ia menekankan, isu minyak tidak boleh dipolitisasi.
Zanganeh memperingatkan, langkah sepihak sejumlah anggota OPEC anti Iran dapat meruntuhkan organisasi ini.
Perubahan OPEC menjadi sebuah organisasi politik sama halnya mengubah minyak menjadi senjata di pasar dunia, padahal pasar minyak harus aman dan tidak dipolitisasi.
Sejak Amerika memperluas domain sanksi ke arah minyak, instabilitas harga telah membuat konsumen dan produsen minyak kebingungan. Presiden AS Donald Trump dengan menjatuhkan sanksi sepihak telah mempersulit Republik Islam Iran dan berusaha memaksakan langkahnya yang bertentangan dengan kebebasan perdagangan dan ketentuan Organisasi Perdagangan Dunia (WHO) kepada seluruh negara.
Keputusan Amerika bukan saja melanggar hak Iran di perdagangan, bahkan melanggar undang-undang kebebasan perdagangan yang juga ditandatangani Amerika sendiri. Langkah ini sama halnya dengan dimulainya sebuah permainan politik berbahaya di pasar energi yang pastinya merugikan kepentingan ekonomi seluruh negara.
Inggris Sita Kapal Tanker yang Membawa Minyak Iran
Petualangan Amerika Serikat kini memasuki tahap berbahaya. Kamis sore (4/7) Kementrian Luar Negeri Iran memanggil Duta Besar Inggris di Tehran, Rob Macaire untuk melayangkan protes atas penyitaan kapal tanker yang membawa minyak Iran oleh marinir Inggris di Selat Gibraltar.
Sementara itu, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Sayid Abbas Mousavi mengatakan penyitaan tanker minyak Iran adalah ilegal, memicu ketegangan dan tindakan berbahaya.
Dalam keterangannya kepada kantor berita IRIB, Kamis (4/7/2019) malam, Mousavi menambahkan Iran telah memanggil duta besar Inggris di Tehran untuk menyampaikan protes.
"Iran telah menyampaikan protes resmi terhadap tindakan destruktif pemerintah Inggris dan pasukan Marinir mereka," ujarnya.
Mousavi menjelaskan pemerintah Spanyol mengaku bahwa penyitaan kapal tanker Iran dilakukan atas permintaan AS dan ini adalah bentuk sanksi ekstrateritorial.
"Uni Eropa sendiri menentang sanksi ekstrateritorial AS, dan Republik Islam juga tidak menerima tindakan sepihak itu dan masalah ini akan menambah ketegangan di kawasan," ungkapnya.
Menteri Luar Negeri Spanyol, Josep Borrell sebelum ini mengatakan penyitaan kapal tanker Iran dilakukan di wilayah perairan Spanyol.