Tekad Iran Lanjutkan Pengurangan Komitmen JCPOA
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, memprotes keras Eropa yang terus menuntut dan tidak menjalankan komitmen kesepakatan nuklir JCPOA.
Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan para khatib shalat Jumat seluruh Iran di Tehran, Selasa (16/7/2019), mengatakan Eropa telah membuat 11 komitmen di bawah JCPOA dan tidak ada satu pun yang dipatuhi, tetapi mereka terus menuntut Iran secara berlebihan.
"Iran mematuhi komitmennya dan bahkan melampaui dari yang ditetapkan oleh kesepakatan," tegasnya.
Ayatullah Khamenei lebih lanjut menandaskan, "Kita sekarang sudah mulai mengurangi komitmen kami dan Eropa menentangnya. Mereka sangat kurang ajar dan mereka tidak mematuhi 11 komitmennya. Kami baru saja mulai mengurangi beberapa komitmen kami dan proses ini pasti akan berlanjut."
Setelah Amerika Serikat keluar dari JCPOA, negara-negara Eropa berjanji akan mendukung penuh kesepakatan multilateral ini, tetapi sekarang mereka mengakui tidak mampu mengkompensasi kerugian yang diderita Iran akibat tidak terlaksananya JCPOA.
Paling tidak, Uni Eropa dan secara khusus tiga negara Eropa (Inggris, Prancis, dan Jerman) yang sejauh ini tidak memenuhi kewajibannya, diharapkan memberikan dukungan politik kepada Iran setelah AS menarik diri dari kesepakatan nuklir.
Namun, negara-negara Eropa sejak awal tidak mengambil langkah efektif untuk menyelamatkan JCPOA, mungkin mereka berada di bawah tekanan AS atau mungkin juga sedang berbagi tugas dengan Washington.
Anehnya, mereka sekarang justru menuntut Tehran untuk menghentikan langkah-langkah mengurangi komitmen kesepakatan.
Pasal 26 JCPOA menyatakan AS dan Uni Eropa akan menahan diri dari memberlakukan kembali sanksi-sanksi yang dijatuhkan atas Iran terkait nuklir. Jika mereka kembali menerapkan sanksi atau memperkenalkan sanksi baru, Iran dapat menjadikan hal ini sebagai dasar untuk menghentikan sebagian atau keseluruhan komitmennya berdasarkan JCPOA ini.
Atas dasar ini pula, Iran mengambil langkah pertama mengurangi komitmennya pada 1 Juli 2019 dengan meningkatkan cadangan uranium yang diperkaya melampaui batas 300 kilogram. Pada 7 Juli dan bersamaan dengan berakhirnya batas waktu 60 hari yang diberikan kepada Eropa, Iran mengumumkan akan meningkatkan level pengayaan uranium di atas kemurnian 3,67 persen.
Mantan Duta Besar Iran untuk Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Reza Najafi mengatakan meskipun Republik Islam bisa bertindak lebih cepat dari itu, namun Tehran memilih untuk memberikan waktu kepada Eropa, tetapi mereka tidak memanfaatkan kesempatan itu.
Mengenai janji-janji Eropa, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menandaskan, "Ada perbedaan antara keinginan untuk menyelamatkan sebuah kesepakatan internasional dan kesiapan untuk mengeluarkan biaya demi mempertahankannya. Negara-negara Eropa belum menunjukkan ini."
Pada dasarnya, Amerika dan Eropa sedang menuntut sesuatu yang keluar dari kesepakatan nuklir 2015 seperti, perundingan seputar kemampuan rudal Iran.
Menurut Ayatullah Khamenei, perilaku arogan pemerintah Barat adalah hambatan utama dalam membangun hubungan dan mempertahankannya.
"Kesombongan telah menghalangi pemerintah Barat dari memahami kebenaran. Tentu kesombongan ini membawa kesuksesan untuk mereka jika yang dihadapi negara-negara lemah, tetapi jika lawannya adalah bangsa-bangsa pemberani dan pembela kebenaran, Barat menelan kekalahan," pungkasnya. (RM)