Dukungan Rusia untuk Peran Konstruktif Iran
-
Ilustrasi Presiden AS Donald Trump dan sanksi minyak Iran.
Rusia mendukung Republik Islam Iran dalam melawan propaganda dan arogansi Amerika Serikat, yang telah menjadi sumber pemicu ketegangan di wilayah Asia Barat.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov dalam pernyataan kepada media-media Amerika Latin dan televisi RT, mengatakan Iran harus menjadi bagian dari solusi untuk masalah keamanan di Asia Barat, bukannya menyudutkan mereka atas setiap masalah yang terjadi di kawasan itu.
“Saya yakin bahwa Iran adalah negara yang harus menjadi bagian dari solusi untuk masalah regional, dan tidak menganggapnya sebagai pemicu dari apa yang terjadi di sana,” tegasnya.
Menurut Lavrov, kebijakan untuk menjadikan Tehran sebagai "kambing hitam" atas semua yang terjadi di Suriah, wilayah Palestina, dan Yaman atau di negara-negara tetangga, tidak akan membantu memecahkan masalah.
“Itu tidak akan membantu menyelesaikan masalah. Saya yakin bahwa Iran harus dilibatkan dalam dialog,” tegasnya.
Washington dan sekutunya di kawasan selalu melemparkan tuduhan tak berdasar terhadap Iran. Presiden Donald Trump menuduh Tehran melanggar kesepakatan nuklir melalui program rudal, membuat Asia Barat tidak stabil, dan mendukung kelompok-kelompok teroris.
AS bersama Arab Saudi dan rezim Zionis Israel mengklaim bahwa Iran bertanggung jawab atas situasi saat ini di Asia Barat.
Namun, fakta yang terjadi selama dua dekade terakhir di kawasan menunjukkan bahwa AS dan sekutu regionalnya adalah penyebab utama ketegangan dan masalah. Mereka mendukung terorisme, menciptakan ketidakstabilan, dan melakukan intervensi di negara lain.
Pemerintah AS selalu menolak setiap prakarsa dan inisiatif regional untuk menciptakan keamanan dan stabilitas di Teluk Persia, dan mereka mencari cara untuk menggagalkannya.
Dalam beberapa kasus, Washington berpikir bahwa ia akan mencapai tujuan yang dikejar di kawasan ini dengan mengandalkan kekuatan militer. Ini adalah kesalahan strategis bagi pemerintahan Trump yang tentu akan memiliki konsekuensi buruk.
Pendekatan AS ini mengundang kritikan keras dari Rusia, dan Moskow juga percaya bahwa saat ini banyak negara menentang unilateralisme Washington di tingkat internasional.
Lavrov menuturkan semakin banyak negara menyadari bahwa setiap skenario militer agresif dan petualangan militer hanya menyebabkan kebuntuan. Dia mencatat bahwa segala upaya yang dilakukan oleh para penghasut perang di AS untuk menyelesaikan masalah yang terkait Iran dengan cara militer, dapat memicu konsekuensi yang mengerikan.
Republik Islam Iran berulang kali menekankan urgensitas menjaga keamanan regional melalui kerja sama negara-negara di kawasan dan pentingnya dialog untuk memecahkan masalah regional.
Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif mengatakan Tehran baru-baru ini telah mengusulkan penandatanganan perjanjian non-agresi dengan semua negara di wilayah Teluk Persia. Ia sebelum ini juga menawarkan pembentukan forum dialog regional.
Ide-ide ini bersumber dari keyakinan Iran bahwa keamanan di Teluk Persia akan dicapai melalui partisipasi semua negara regional. Tatanan keamanan yang ideal dan berkelanjutan terwujud tanpa campur tangan kekuatan asing. Selain itu, Tehran menganggap dirinya berkomitmen untuk menjaga perdamaian dan keamanan regional termasuk di Teluk Persia.
"Ini adalah Teluk Persia karena di sebelah perbatasan kami, ini adalah perairan yang Iran lindungi. Iran telah menjaga keamanan dan kebebasan navigasi di Teluk Persia dan Selat Hormuz,” tegas Zarif dalam sebuah pernyataan. (RM)