Baraah di Arafah (2)
https://parstoday.ir/id/news/iran-i72742-baraah_di_arafah_(2)
Ritual baraah (berlepas tangan dar musyrikin) digelar di Padang Arafah dengan pembacaan pesan Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Aug 10, 2019 19:57 Asia/Jakarta

Ritual baraah (berlepas tangan dar musyrikin) digelar di Padang Arafah dengan pembacaan pesan Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei.

Baraah digelar pada hari Sabtu, 10 Agustus 2019 dengan pembacaan pesan haji dari Ayatullah Khamenei. Jemaah haji dari Iran dan berbagai negara lain meneriakkan yel-yel "mampus Amerika" dan "mampus Israel."

Mereka mengecam segala bentuk upaya berbagai negara untuk melakukan normalisasi hubungan dengan rezim Zionis Israel, dan mengaskan kebencian mereka atas pendekatan AS dan rezim Zionis untuk mengobarkan perpecahan di antara umat Islam, serta menekankan urgensitas persatuan dunia Islam.

Jemaah haji Iran dan negara-negara lain juga menyebut pembebasan al-Quds dari pendudukan Israel sebagai cita-cita dan prioritas utama umat Islam. Mereka juga mengingatkan misi dan peran organisasi internasional, khususnya PBB dan menuntut pentingnya komitmen terhadap kebenaran, keadilan dan membela hak-hak bangsa tertindas dihadapan ketamakan negara imperialis dan arogan.

Doa Arafah juga bagian lain dari ritual hari ini yang digelar di Padang Arafah.

Salah satu dari manasik penting haji adalah baraah atau berlepas tangan dari orang-orang musyrik. Baraah merupakan ajaran al-Quran yang bermakna pernyataan kebencian dan pemutusan hubungan dengan orang-orang musyrik dan musuh-musuh kaum Muslim. Orang-orang musyrik juga tidak terbatas pada era kemunculan Islam saja

Kemusyrikan dan permusuhan akan tetap ada sejalan dengan penyebaran agama Islam ke seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, ritual baraah dan pengenalan terhadap musuh tetap diperlukan oleh umat Islam.

Dalam berbagai ayat al-Quran, di samping mencela habis-habisan perbuatan syirik dan kaum musyrik dan menjelaskan akibat buruk perilaku mereka, juga menekankan pentingnya memutus hubungan dengan kaum musyrik dan melawan mereka. Para nabi juga berlepas tangan dari orang-orang musyrik dan menyatakan kebencian mereka terhadap syirik. Al-Quran adalah kitab keabadian dan perintah-perintahnya juga berlaku sampai hari kiamat.

Dalam sejarah Islam, deklarasi universal baraah untuk pertama kalinya dilakukan setelah kaum musyrik melanggar perjanjian, yang telah mereka ikrarkan dengan Rasulullah Saw pasca penaklukan kota Makkah pada tahun kedelapan Hijriyah. Sebelumnya, mereka sudah menandatangani perjajian untuk tidak terlibat konfrontasi dan permusuhan.

Ayat-ayat di permulaan surat at-Taubah juga menyinggung kasus pelanggaran perjanjian itu. Imam Ali as atas perintah Rasulullah Saw telah membacakan ayat-ayat baraah pada pelaksanaan musim haji tahun kesembilan Hijriyah.

Berdasarkan ayat-ayat itu, kaum musyrik tidak berhak lagi memasuki kawasan Baitullah dan tidak dibolehkan mengikuti ritual haji. Selain itu, segala bentuk perjanjian yang pernah dijalin antara kaum kafir dan umat Islam dibatalkan.

Pernyataan baraah atau pemutusan hubungan dan berlepas tangan atas perbuatan orang-orang kafir adalah sebuah prinsip agama. Dengan kata lain, kaum Mukmin harus bersikap tegas dan jelas serta menentukan posisinya yang jelas di hadapan kaum kafir. Agama Islam memang tidak melarang umatnya menjalin perjanjian dengan kaum kafir, asalkan perjanjian itu tidak membuat mereka terhina.

Pengumuman baraah merupakan salah satu peristiwa penting sejarah kenabian. Dengan cara ini, pemerintah Islam ditegakkan dan seruan global agama ini dimulai, perwakilan Rasul Saw juga dikirim untuk menemui para pemimpin negara-negara lain. Oleh karena itu, penggagas deklarasi bara’ah dari kaum musyrik adalah pribadi Rasulullah Saw sendiri. Beliau ingin mengajarkan kaum Muslim untuk mandiri dan menolak hegemoni orang-orang kafir, seperti yang diperintahkan oleh al-Quran, "Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang mukmin."

Pengumuman baraah dari kaum musyrik pertama kali dilakukan pada musim haji atas perintah Rasulullah Saw. Mengingat sunnah dan sirah Rasul Saw berlaku sepanjang zaman, maka ritual ini tetap dilaksanakan pada musim haji.

Meski baraah tidak mengenal momen tertentu dan setiap individu Muslim harus senantiasa menyatakan kebencian dan berlepas tangan dari orang-orang musyrik. Namun, pertanyaan di sini adalah mengapa baraah ditekankan pada musim haji? Waktu dan momen yang paling tepat untuk mendapatkan hasil yang diharapkan dari baraah itu sendiri adalah pada waktu pelaksanaan ibadah haji di Makkah. (RA)