Iran Aktualita 21 September 2019
https://parstoday.ir/id/news/iran-i73962-iran_aktualita_21_september_2019
Transformasi Iran sepekan terakhir diwarnai oleh sejumlah isu penting di antaranya statemen Rahbar mengenai Pawai Arbain Imam Hussein, Perundingan dengan AS Perspektif Rahbar.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Sep 21, 2019 12:12 Asia/Jakarta
  • Pertemuan Ayatullah Khamenei dengan pemilik moukib (posko layanan) Irak
    Pertemuan Ayatullah Khamenei dengan pemilik moukib (posko layanan) Irak

Transformasi Iran sepekan terakhir diwarnai oleh sejumlah isu penting di antaranya statemen Rahbar mengenai Pawai Arbain Imam Hussein, Perundingan dengan AS Perspektif Rahbar.

Masih ada isu lainnya seperti Pertemuan Segitiga Kelima Pemimpin Iran, Rusia dan Turki, Sidang Komisi Bersama Ekonomi Iran dan Turki dan Tudingan Pompoe dan Respon Petinggi Iran.

Rahbar: Pawai Arbain Imam Hussein Semakin Mendunia

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, atau Rahbar mengatakan, dari hari ke hari pawai Arbain Imam Hussein as semakin mendunia. Menurutnya, logika dan pesan Imam Hussein adalah menyelamatkan dunia dari kekuasaan kubu kufur dan arogan.

Pertemuan Ayatullah Khamenei dengan pemilik moukib (posko layanan) Irak

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Rabu (18/9/2019) dalam acara penghormatan dan apresiasi atas keramahan para pemilik moukib (posko layanan) Irak, dan para pelayan pawai Arbain, berterimakasih atas keramahan rakyat Irak dan menyebut pawai ini sebagai fenomena luar biasa, dan mendunia, serta membuka kesempatan memperluas pengetahuan tentang Imam Hussein, dan membentuk peradaban baru Islam.

Rahbar menegaskan, Imam Hussein bukan hanya milik Muslim Syiah, tapi seluruh mazhab Islam baik Syiah maupun Ahlu Sunnah, beliau juga milik kemanusiaan, oleh karena itu non-Muslim pun ikut berpartisipasi dalam pawai Arbain.

Ayatullah Khamenei menambahkan, jika kapasitas besar bangsa-bangsa Muslim di Asia Barat, dan Afrika Utara kita gabungkan, dan menunjukkan aksi nyatanya, maka makna hakiki kemuliaan Ilahi dan peradaban besar Islam akan tampak jelas bagi dunia.

Menurut Rahbar, hati dan jiwa bangsa Iran dan Irak saling terhubung. Musuh melakukan banyak upaya untuk memecah belah kedua bangsa ini, namun berkat bantuan Allah Swt, mereka gagal dan ke depan pun akan gagal, karena faktor pemersatu rakyat Iran dan Irak adalah keimanan pada Allah Swt dan kecintaan pada Ahlul Bait dan Imam Hussein.

Ayatullah Khamenei mengingatkan 40 tahun konspirasi, ancaman dan sanksi Amerika bersama sekutu-sekutunya terhadap bangsa Iran.

Ia menuturkan, di tengah semua konspirasi dan kegagalan musuh, Iran dari sebuah benih kecil, sekarang berubah menjadi sebuah pohon perkasa yang buahnya terus bertambah banyak.

Ayatullah Khamenei juga menyinggung yel-yel kehancuran Amerika dan rezim Zionis Israel dan menegaskan, berkat bantuan Ilahi, yel-yel ini tidak lama lagi akan menjadi kenyataan dan umat Islam akan menang dari musuh-musuhnya.

Perundingan dengan AS Perspektif Rahbar

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei menanggapi tawaran baru oleh para pejabat AS untuk bernegosiasi, dan menekankan lewat perundingan, Washington berusaha untuk memaksakan tuntutannya kepada Tehran.

"Kebijakan tekanan maksimum terhadap bangsa Iran tidak penting, dan semua pejabat di Republik Islam dengan suara bulat percaya bahwa tidak akan ada negosiasi di tingkat mana pun dengan AS," tegasnya membuka sesi pertama kuliah Bahtsul Kharij di Husainiyah Imam Khomeini ra, Tehran, Selasa (17/9/2019).

Ayatullah Khamenei

Ayatullah Khamenei juga mengomentari sikap berbeda yang ditunjukkan oleh para pejabat Washington mengenai negosiasi. "Mereka kadang mengatakan negosiasi tanpa prasyarat, tapi di lain waktu mereka berkata negosiasi dengan 12 syarat. Statemen seperti ini disebabkan oleh politik mereka yang kacau atau sebuah trik untuk membuat pihak lawan bingung. Tentu saja, Republik Islam tidak akan bingung, karena jalan kita jelas dan kita tahu apa yang kita lakukan," ujarnya.

Pemerintah AS kembali salah perhitungan dalam berurusan dengan Iran dan tidak akan mencapai hasil, sama seperti yang mereka lakukan selama 40 tahun terakhir.

Bagi rakyat Iran, perundingan dengan AS bukan solusi untuk memecahkan masalah. Namun, ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa AS membutuhkan perundingan dengan Iran, karena kekuatan dan hegemoninya di dunia sedang meredup.

Berbeda dengan sistem Republik Islam Iran, ia tidak berada dalam posisi lemah dan bahkan dengan kekuatannya melawan kebijakan tekanan maksimum AS. Rakyat Iran selalu memilih opsi perlawanan dalam menghadapi musuh dan untuk itu Rahbar menekankan, "Kami tidak akan berunding dengan AS, baik itu perundingan bilateral maupun multilateral."

Saat ini AS dan sekutunya mengakui bahwa kebijakan tekanan maksimum telah gagal membuat Iran bertekuk lutut.

"Jika AS memilih insaf dan kembali ke kesepakatan nuklir yang sudah dilanggarnya, maka negara itu dapat duduk bersama dengan negara-negara anggota kesepakatan yang terlibat pembicaraan dengan Iran. Jika tidak, sama sekali tidak akan ada negosiasi antara pejabat Republik Islam dan AS di tingkat mana pun, tidak di New York dan tidak di tempat lain," tegas Ayatullah Khamenei.

Rakyat Iran telah belajar dari pengalaman 40 tahun terakhir bahwa mereka tidak boleh mengandalkan musuh untuk menyelesaikan masalah, namun ini bukan berarti menutup pintu diplomasi dengan negara-negara dunia.

Republik Islam memandang dialog sebagai cara terbaik untuk mengakhiri pertikaian global dan regional, tetapi tawaran perundingan yang diiringi gertakan dan tekanan, tentu tidak rasional untuk diterima, seperti perundingan dengan AS yang telah memaksakan terorisme ekonomi terhadap Iran.

Ayatullah Khamenei menyimpulkan bahwa negosiasi dengan AS, berarti menerima syarat-syarat yang dipaksakan atas Republik Islam, dan kehadiran Iran di meja perundingan akan ditafsirkan sebagai keberhasilan AS dalam menekan negara ini.

Pertemuan Segitiga Kelima Pemimpin Iran, Rusia dan Turki

Presiden Republik Islam Iran Hassan Rouhani menghadiri pertemuan segitiga kelima pemimpin Iran, Rusia dan Turki terkait Suriah di Ankara, ibu kota Turki pada hari Senin, 16 September 2019.

Rouhani dalam pertemuan itu menegaskan bahwa menghormati kedaulatan nasional, independensi dan tidak mengintervensi urusan internal Suriah harus dijaga secara serius.

Rouhani, Putin dan Erdogan

Dia mengatakan, kehadiran ilegal militer Amerika Serikat di Suriah membahayakan integritas dan kedaulatan nasional negara ini.

"Hanya rakyat Suriah yang dapat memutuskan masa depan mereka dan pihak lain tidak boleh intervensi urusan internal mereka," teganya.

Presiden Iran juga mengisyaratkan proses dialog Astana dan mengatakan, dialog damai Astana berbeda dengan proses lain yang berkaitan dengan krisis Suriah. Dialog ini tidak ingin menciptakan friksi di antara pihak-pihak Suriah.

"Pendekatan utama negara-negara penjamin proses Astana senantiasa bertumpu pada penyelesaian friksi melalui interaksi konstruktif dan fokus pada upaya untuk menemukan solusi damai bagi krisis Suriah," ujarnya.

Presiden Iran menuturkan, peningkatan kerja sama Iran, Rusia dan Turki dapat menjadi jaminan bagi penyelesaian krisis Suriah dan krisis regional lainnya.

Rouhani pada kesempatan tersebut juga mengingatkan keberadaan kelompok teroris di Suriah dan mengatakan, perang melawan terorisme khususnya Daesh (ISIS) dan al-Qaeda serta kelompok yang berafilisi dengan mereka harus berlanjut hingga fenomena buruk ini dimusnahkan.

Presiden Iran juga mengisyaratkan agresi rezim Zionis Israel ke negara-negara kawasan, dan mengatakan, masyarakat internasional harus melawan aksi-aksi sewenang-wenang Israel yang mengancam perdamaian dan keamanan global.

Dialog Astana dimulai sejak Januari 2017 atas prakarsa Iran dan kerja sama dengan Rusia dan Turki untuk menerapkan perdamaian di Suriah.

Di sela-sela pertemuan itu, Presiden Rouhani bertemu dengan mitranya dari Rusia, Vladimir Putin di Ankara, ibu kota Turki pada Senin, 16 September 2019.

Dia mengatakan, langkah Iran menurunkan komitmennya dalam perjanjian nuklir JCPOA adalah sebuah langkah untuk mempertahankan kesepakatan nuklir dan komitmen penuh kedua pihak.

Rouhani menambahkan, JCPOA adalah sebuah kesepakatan internasional yang penting, dan Republik Islam siap untuk kembali ke komitmen penuhnya di JCPOA jika pihak seberang menjalankan komitmennya.

Presiden Iran juga mengisyaratkan keluarnya AS secara ilegal dari JCPOA dan menuturkan, pihak lain khususnya Rusia dapat memainkan peran positif untuk mempertahankan JCPOA.

Dia menyinggung hubungan baik antara Iran dan Rusia, dan menjelaskan, lobi dan interaksi bersahabat para pejabat tinggi Tehran dan Moskow di berbagai pertemuan internasional termasuk PBB, Shanghai dan Eurasia serta hubungan multilateral kedua negara dengan negara lain khususnya dengan Turki pada isu Suriah dan dengan Republik Azerbaijan di bidang transportasi, sangat berpengaruh dalam menjamin kepentingan kedua bangsa.

"Dengan tekad kedua pemerintah, hubungan Iran dan Rusia untuk saat ini semakin dalam dan hangat," ujarnya.

Sementara itu, presiden Rusia dalam pertemuan itu mengatakan, sikap Moskow adalah mempertahankan JCPOA dan akan berusaha keras di jalan ini.

Putin menambahkan, hubungan dan kerja sama antara Rusia dan Iran akan terus berlanjut dan kian luas.

"Rusia dan Iran di berbagai tingkat internasional khususnya PBB, Shanghai dan Eurasia memiliki interaksi dan kerja sama timbal balik dan positif.

Presiden Rusia juga menyinggung posisi penting Iran di kawasan dan menandaskan, peran Iran untuk menyelesaikan isu-isu regional termasuk krisis Suriah positif dan sangat penting.

"Rusia akan mengerahkan seluruh upayanya untuk yakin bahwa JCPOA dilaksanakan secara penuh," pungkasnya.

Kunjungan presiden Iran ke Turki bertujuan menghadiri pertemuan segitiga kelima antara pemimpin tiga negara: Iran, Rusia dan Turki di Ankara.

Di sela-sela kunjungan tersebut, Rouhani juga bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Sidang Komisi Bersama Ekonomi Iran dan Turki

Pekan lalu digelar pertemuan ke 27 Komisi Bersama Ekonomi Iran dan Turki di Ankara.

Iran dan Turki memiliki beragam kapasitas industri, perdagangan dan ekonomi yang menjadi peluang bagus bagi investasi bersama. Oleh karena itu harus diupayakan supaya kapasitas potensial antara kedua negara dapat direalisasikan. Dari perspektif ini sidang komisi bersama ekonomi dan kesepakatan sidang ini sangat peting untuk merealisasikan tujuan tersebut.

Sementara itu, enteri Perdagangan Turki Ruhsar Pekcan menekankan pentingnya perluasan hubungan ekonomi dan perdagangan bilateral negaranya dengan Republik Islam Iran.

Ruhsar Pekcan Rabu (18/09) di sidang Dewan Kerja Iran-Turki di Ankara seraya mengisyaratkan bahwa hubungan konstrukfi dengan Iran yang membuka jalan bagi bisnismen akan terus berlanjut mengatakan, Turki dengan memanfaatkan lebih baik kontrak dagang antara kedua negara, berusaha meningkatkan dan memperluas hubungan dagang.

Menteri perdagangan Turki menilai sidang ke 27 Komisi Bersama Ekonomi Iran dan Turki bermanfaat dan menambahkan, kedua negara berusaha untuk merealisasikan tujuan neraca perdagangan sebesar 30 miliar dolar.

Ruhsar Pekcan seraya mengkritik sanksi sepihak AS terhadap Iran mengingatkan, Turki menjadi pihak yang paling dirugikan dari sanksi ini.

Tudingan Pompoe dan Respon Petinggi Iran

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo Rabu (18/09) malam tanpa mengajukan bukti kembali menyebut Republik Islam Iran bertanggung jawab atas serangan ke instalasi minyak Arab Saudi.

Menurut laporan FNA, Mike Pompeo di Jeddah seraya mengulang klaim tak berdasar anti Iran mengklaim, serangan ke instalasi Arab Saudi bukan dilancarkan dari Yaman tapi dari Iran.

Pompeo

Pompeo juga menyatakan, AS bersama Uni Emirat Arab dan Arab Saudi serta sekutu Eropanya telah menggelar lobi terkait pembentukan koalisi anti Iran.

Menlu AS Sabtu malam juga mengulang klaim tak berdasar terhadap Iran dan menuding Tehran berada di balik layar serangan drone Yaman ke instalasi minyak Aramco Arab Saudi.

Amerika setelah keluar secara ilegal dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA)  8 Mei 2018, mulai meluncurkan kampanye besar-besaran untuk menerapkan represi terhadap Iran.

Klaim dan tudingan tak berdasar ini dirilis ketika pasukan relawan rakyat Yaman mengaku bertanggung jawab atas serangan ke instalasi minyak Arab Saudi.

Unit drone militer dan komite rakyat Yaman Sabtu (14/09) mengirim 10 drone produk dalam negeri dan menyerang kilang minyak Buqayq dan Khurais milik perusahaan minyak nasional Arab Saudi (Aramco).

Pasca serangan ini Juru bicara militer Yaman,Yahya Saree dalam statemennya menjelaskan, operasi tersebut dilakukan dalam koridor hak legal bangsa Yaman membalas kejahatan koalisi Arab Saudi dan blokade lima tahun terhadap Yaman.

Arab Saudi dengan dukungan AS dan Uni Emirat Arab serta sejumlah negara lain melancarkan agresi militer ke Yaman sejak Maret 2015 dan memblokade negara ini dari darat, udara dan laut.

Perang yang dikobarkan Arab Saudi beserta sekutunya di Yaman sampai saat ini telah menewaskan lebih dari 16 ribu orang, menciderai puluhan ribu lainnya dan memaksa jutaan warga Yaman mengungsi.

Arab Saudi dan Amerika sampai saat ini gagal meraih ambisinya di Yaman mengembalikan Abd Rabbuh Mansur Hadi ke tampuk kekuasaan karena perlawanan rakyat Yaman.

Sementara itu, Presiden Iran Hassan Rouhani saat merespon tudingan AS bahwa Iran terlibat dalam serangan drone Yaman ke Aramco mengatakan, "Akuilah kekuatan bangsa Iran ketimbang menebar tudingan. Tidak ada peran pemerintah, tapi rakyat yang bangkit."

Menlu Iran Mohammad Javad Zarif dalam wawancaranya dengan CNN seraya memperingatkan Washington dan Riyadh terkait segala bentuk langkah militer terhadap Iran menjelaskan, Iran sekejap pun tidak pernah lalai membela diri. Serangan ke Iran akan menjadi perang total dan menewaskan sejumlah besar agresor.

Adapu Menhan Iran Amir Hatami seraya menjelaskan bahwa klaim dan tudingan anti Iran tidak akan sukses mengatakan, jika ancaman terhadap Iran digulirkan, maka Republik Islam akan menjawabnya seperti penembakan terhadap drone mata-mata Amerika.