Partemuan Komandan Pasdaran dengan Rahbar
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam pidato terbaru mengisyaratkan kegagalan pendekatan tekanan maksimum Amerika Serikat dan sikap Iran yang tidak bersedia menyerah dihadapan kubu arogan dunia.

"Republik Islam Iran melanjutkan pengurangan komitmennya dalam perjanjian nuklir JCPOA secara serius dan akan melanjutkan kebijakannya ini," kata Rahbar dalam pidatonya di hadapan ribuan komandan dan pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran, Rabu (2/10/2019).

Ayatullah Khamenei juga menyinggung upaya gagal terbaru AS untuk menciptakan kondisi simbolis kekalahan Iran.

"Mereka untuk memaksa presiden Iran agar bersedia bertemu, bahkan rela memohon bantuan mitra Eropanya, namun tetap gagal dan sampai saat ini tekanan maksimum gagal. Dan Saya secara tegas mengatakan bahwa mereka sampai akhir nanti akan tetap gagal dalam menjalankan kebijakan tekanan maksimumnya," imbuhnya.

Mengenai perjanjian nuklir, JCPOA, Ayatullah Khamenei menuturkan, pengurangan komitmen dalam kesepakatan ini, di mana tanggung jawabnya berada di tangan Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) harus dilanjutkan dengan serius, detail dan komprehensif, seperti yang diumumkan pemerintah, sehingga dapat mencapai hasil yang diinginkan dan pastinya hasilnya akan seperti itu.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran juga menyinggung biaya yang dikeluarkan musuh khususnya Amerika untuk mengobarkan perang di Afghanistan, Irak dan Suriah.

Rahbar menuturkan, mereka dengan biaya besar telah menciptakan Daesh (ISIS) dan memberi dukungan senjata, finansial dan propaganda, namn ketika kini Daesh berhasil dikalahkan berkat upaya pemuda Suriah, Irak dan Iran, mereka mulai menebar kebohongan bahwa mereka yang menghancurkan Daesh.

Di bagian lain pidatonya, Ayatullah dan berpesan kepada pasukan IRGC (Pasdaran) agar mereka jangan sampai kehilangan pandangan luas dan lintas batas terhadap geografi Muqawama.
Rahbar juga menyinggung soal ekonomi, dan menandaskan, sebagian pihak sebelumnya memprediksi bahwa tahun 1398 HS (2019) tahun ekonomi paling sulit, padahal kini para pejabat pemerintah mengkonfirmasi laju ekonomi satu persen di paruh pertama tahun ini.

"Dari sudut pandang manapun atas perlawanan bangsa Iran terhadap dunia kekufuran, arogan dan zalim, kemenangan final milik bangsa Iran," pungkasnya. (RA)
