Kerja Sama Jangka Panjang Iran dan Irak
https://parstoday.ir/id/news/iran-i83823-kerja_sama_jangka_panjang_iran_dan_irak
Presiden Iran Hassan Rouhani dalam pembicaraan telepon dengan Presiden Irak Barham Salih pada Jumat (31/7/2020), menekankan perlunya upaya untuk mengembangkan hubungan dan kerja sama lebih lanjut antara kedua negara.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 01, 2020 09:41 Asia/Jakarta
  • Kerja Sama Jangka Panjang Iran dan Irak

Presiden Iran Hassan Rouhani dalam pembicaraan telepon dengan Presiden Irak Barham Salih pada Jumat (31/7/2020), menekankan perlunya upaya untuk mengembangkan hubungan dan kerja sama lebih lanjut antara kedua negara.

Presiden Iran menyampaikan ucapan selamat Idul Adha sebagai manifestasi persatuan umat Islam di dunia dan menyatakan harapan bahwa keputusan dan perjanjian bilateral yang dicapai selama kunjungan Perdana Menteri Irak ke Tehran baru-baru ini, akan dilaksanakan secepat mungkin.

Pada kesempatan itu, Barham Salih menekankan bahwa di tengah situasi global saat ini dan wabah virus Corona, persatuan dan kerja sama di antara semua negara regional perlu ditingkatkan lebih dari sebelumnya.

"Pengembangan hubungan komprehensif dan kerja sama dengan Iran merupakan sebuah prinsip tetap dalam kebijakan luar negeri Irak," tegasnya.

Statemen Presiden Iran dan Irak merupakan penegasan kembali pada poin-poin penting yang disampaikan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei ketika menerima kunjungan PM Irak Mustafa al-Kadhimi di Tehran pada 21 Juli 2020.

Waktu itu, Ayatullah Khamenei menekankan Iran menentang setiap tindakan yang melemahkan pemerintah Irak. "Apa yang sangat penting bagi Republik Islam Iran dalam hubungan bilateral adalah kepentingan, maslahat, keamanan, martabat, kekuatan regional, dan perbaikan situasi di Irak," ujarnya.

Rahbar menjelaskan pandangan AS tentang Irak sepenuhnya berbeda dengan Iran. "Iran tidak ikut campur dalam hubungan Irak dengan AS, tetapi berharap agar teman-teman di Irak menyadari bahwa kehadiran AS di negara mana pun merupakan sumber kerusakan dan kehancuran," ungkapnya.

Pertemuan Ayatullah Sayid Ali Khamenei dengan Mustafa al-Kadhimi di Tehran.

"AS dalam arti sebenarnya adalah musuh dan tidak menginginkan Irak yang kuat, independen, dan memiliki pemerintahan dengan suara mayoritas," tegas Rahbar.

Pernyataan ini menekankan pada penguatan hubungan Tehran-Baghdad yang telah meningkat ke level strategis. Atas dasar ini, Iran menginginkan Irak yang stabil, aman, dan berkembang secara ekonomi.

Di bidang keamanan, Iran memberikan dukungan penuh kepada pemerintah, rakyat, dan Angkatan Bersenjata Irak. Di tengah situasi genting, Iran memainkan peran penting dalam memulihkan stabilitas dan keamanan di Irak dan kawasan.

"Baghdad tidak akan pernah melupakan dukungan Tehran dalam perang melawan teroris Takfiri. Ini adalah fakta bahwa darah orang Iran dan Irak bercampur dalam perang menumpas Daesh," tegas al-Kadhimi.

Seorang analis politik Irak, Wael al-Rakabi menuturkan posisi Republik Islam Iran dalam membela Irak khususnya dalam perang melawan kelompok teroris Daesh, telah menjadikan tetangga Muslim ini sebagai sahabat Irak yang paling jujur ​​dan dapat dipercaya.

Di sektor ekonomi, hubungan antara Irak dan Iran selalu mencatat penguatan sejak jatuhnya rezim Baath, di mana transaksi perdagangan antara kedua negara mencapai 12 miliar dolar. Pemerintah Irak dan Iran baru-baru ini menyodorkan program untuk meningkatkan transaksi perdagangan sebesar 20 miliar dolar.

Al-Kadhimi juga akan mempertahankan kerja samanya dengan Iran di sektor minyak, gas, dan listrik meskipun ada tekanan dari AS. (RM)