Kemunafikan Nuklir dan Manipulasi Strategis: Dorongan Berbahaya Menuju Konflik dengan Iran
https://parstoday.ir/id/news/opini-i186164-kemunafikan_nuklir_dan_manipulasi_strategis_dorongan_berbahaya_menuju_konflik_dengan_iran
Mohd Azmi Abdul Hamid, Presiden, Majlis Perundingan Pertubuhan Islam Malaysia (MAPIM)
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Feb 28, 2026 07:18 Asia/Jakarta
  • Kemunafikan Nuklir dan Manipulasi Strategis: Dorongan Berbahaya Menuju Konflik dengan Iran

Mohd Azmi Abdul Hamid, Presiden, Majlis Perundingan Pertubuhan Islam Malaysia (MAPIM)

Meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran menimbulkan kekhawatiran global yang serius, tidak hanya karena risiko konfrontasi militer tetapi juga karena narasi politik yang digunakan untuk membenarkan eskalasi.

Inti dari ketegangan ini adalah masalah program pengayaan uranium Iran, yang berulang kali disajikan Washington sebagai bukti dugaan ambisi senjata nuklir. Namun, wacana internasional seputar isu ini mengungkapkan inkonsistensi geopolitik yang mendalam yang tidak dapat diabaikan.

Aktivitas pengayaan uranium Iran berada dalam kerangka kerja yang diatur oleh perjanjian internasional dan mekanisme pemantauan. Iran tetap menjadi penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), yang mengizinkan pengayaan untuk tujuan sipil yang damai di bawah pengawasan yang dipantau oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Oleh karena itu, perselisihan mengenai kepatuhan harus diselesaikan melalui diplomasi dan mekanisme verifikasi, bukan melalui ancaman militer.

Namun, retorika politik dari kepemimpinan Amerika terus menggambarkan Iran sebagai bahaya nuklir yang akan segera terjadi. Narasi ini semakin intensif di tengah tekanan strategis dari aktor regional, khususnya Israel, yang memandang Iran sebagai saingan geopolitik utama.

Kontradiksi menjadi sangat jelas ketika mengkaji kemampuan nuklir Israel.

Banyak lembaga penelitian internasional, pengungkapan intelijen, dan analisis para ahli telah mengkonfirmasi bahwa Israel memiliki senjata nuklir. Menurut Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI), Israel diperkirakan memiliki sekitar 80 hingga 90 hulu ledak nuklir, dengan kemampuan untuk memproduksi lebih banyak lagi.

Federasi Ilmuwan Amerika juga menilai bahwa Israel mempertahankan persenjataan nuklir canggih yang dapat dikirimkan melalui pesawat terbang, rudal balistik, dan sistem berbasis kapal selam.

Program nuklir Israel, yang dikembangkan terutama di fasilitas nuklir Dimona di gurun Negev, tidak pernah dideklarasikan secara resmi. Israel bukanlah penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir dan karena itu beroperasi di luar rezim inspeksi internasional yang berlaku untuk Iran dan negara-negara lain.

Salah satu konfirmasi paling signifikan mengenai kemampuan nuklir Israel datang dari Mordechai Vanunu, seorang mantan teknisi di fasilitas Dimona, yang pada tahun 1986 memberikan informasi rinci dan foto-foto kepada The Sunday Times of London.

Para ahli nuklir independen menyimpulkan dari materi-materi ini bahwa Israel telah mengembangkan program senjata nuklir canggih, termasuk kemampuan termonuklir.

Dokumentasi lebih lanjut telah muncul selama beberapa dekade dari penilaian intelijen yang telah dideklasifikasi, termasuk laporan yang dirujuk oleh Badan Intelijen Pertahanan Amerika Serikat, yang menunjukkan kepemilikan kemampuan senjata nuklir Israel sejak akhir abad kedua puluh.

Meskipun realitas yang diakui secara luas ini, tekanan internasional terhadap Israel sangat minim jika dibandingkan dengan rezim sanksi yang ekstensif, isolasi diplomatik, dan ancaman militer yang diarahkan pada Iran.

Asimetri ini menimbulkan kekhawatiran mendalam tentang kredibilitas dan keadilan rezim non-proliferasi global.

Penegakan hukum yang selektif melemahkan hukum internasional. Ketika satu negara dituduh dan diancam sementara negara lain yang memiliki senjata nuklir aktual tetap terlindungi dari pengawasan, otoritas moral lembaga-lembaga global menjadi lemah.

Implikasi geopolitiknya sangat serius. Penyelarasan strategis antara Amerika Serikat dan Israel secara historis telah mempengaruhi keputusan kebijakan di Asia Barat.

Para analis semakin memperingatkan bahwa pengambilan keputusan Amerika berisiko dibentuk oleh tekanan aliansi daripada penilaian keamanan yang objektif.

Eskalasi menuju konfrontasi militer dengan Iran akan membawa konsekuensi yang dahsyat. Iran menempati posisi strategis di dekat jalur energi global yang kritis termasuk Selat Hormuz, yang dilalui oleh sebagian besar pasokan minyak dunia. Konflik kemungkinan akan memicu guncangan ekonomi yang parah, mengganggu perdagangan global, dan menghasilkan ketidakstabilan luas yang melibatkan banyak aktor regional.

Sejarah memberikan pelajaran yang menyedihkan. Intervensi militer yang dibenarkan oleh narasi keamanan di Irak dan Libya menghasilkan ketidakstabilan berkepanjangan, krisis kemanusiaan, dan fragmentasi regional tanpa mencapai perdamaian yang berkelanjutan. Mengulangi pendekatan serupa berisiko menyebabkan siklus konflik destruktif lainnya.

Jalan ke depan yang bertanggung jawab membutuhkan konsistensi dan kredibilitas. Standar non-proliferasi nuklir harus berlaku sama untuk semua negara tanpa bias politik. Keterlibatan diplomatik harus menggantikan ancaman koersif. Kerangka keamanan regional harus mencakup semua aktor, bukan menargetkan negara tertentu secara selektif.

Masyarakat internasional harus menolak narasi yang menormalisasi perang sebagai instrumen kebijakan. Stabilitas di Asia Barat bergantung pada dialog, saling menghormati, dan kepatuhan terhadap hukum internasional.

Dunia berada di persimpangan jalan yang berbahaya. Eskalasi menuju konflik dengan Iran tidak hanya akan mengancam perdamaian regional tetapi juga semakin mengikis kredibilitas tatanan internasional itu sendiri.

*Diterjemahkan dari teks berbahasa Inggris berjudul "Nuclear Hypocrisy and Strategic Manipulation:The Dangerous Push Toward Conflict with Iran" yang publikasikan penulis di grup WA Iran and South East Asia.