Iran Aktualita 23 Februari 2019
https://parstoday.ir/id/news/other-i67775-iran_aktualita_23_februari_2019
Dinamika Iran pekan lalu diwarnai sejumlah isu penting di antaranya: Rahbar: AS Semakin Lemah, Pemerintah Waspadai Tipu Daya Eropa, AL Iran Lakukan Latihan Militer Besar-besaran, Iran Siap Perluas Hubungan dengan Cina, dan Komandan Divisi al-Quds Peringatkan Pakistan.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 23, 2019 13:16 Asia/Jakarta
  • Pertemuan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dengan warga Provinsi Azerbaijan Timur di Tehran.
    Pertemuan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dengan warga Provinsi Azerbaijan Timur di Tehran.

Dinamika Iran pekan lalu diwarnai sejumlah isu penting di antaranya: Rahbar: AS Semakin Lemah, Pemerintah Waspadai Tipu Daya Eropa, AL Iran Lakukan Latihan Militer Besar-besaran, Iran Siap Perluas Hubungan dengan Cina, dan Komandan Divisi al-Quds Peringatkan Pakistan.

Rahbar: AS Semakin Lemah, Pemerintah Waspadai Tipu Daya Eropa

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei menilai pemerintahan Republik Islam berada dalam posisi terbaik, dan front imperialis di bawah pimpinan Amerika Serikat sedang berada dalam kondisi yang semakin melemah.

Rahbar dalam pertemuan dengan ribuan warga Provinsi Azerbaijan Timur, barat laut Iran pada hari Senin (18/2/2019) menyinggung semakin melemahnya posisi musuh yaitu kubu imperialis terutama Amerika. "Kita tidak ingin bersikap naif dan lalai dari musuh, tapi realitas membuktikan bahwa musuh terperangkap isu-isu domestik dan luar negeri."

Ayatullah Khamenei menyebut masalah domestik Amerika sebagian di antaranya adalah isu sosial seperti depresi dan frustrasi para pemuda, meningkatnya angka bunuh diri dan kejahatan, menyebarnya kecanduan narkotika, konflik di antara pejabat, dan utang luar negeri yang luar biasa besar.

Ia menambahkan, semua masalah ini diambil dari data dan laporan resmi Amerika sendiri dan karena persoalan dan kesulitan ini, Amerika mengalami nasib seperti sekarang ini di Suriah, Irak dan Afghanistan, dan negara itu juga begitu marah.

Mengenai kegagalan konferensi Warsawa, Rahbar menuturkan, para politisi dungu Amerika mengundang sejumlah negara sekutu, negara lemah dan negara yang diintimidasi ke Warsawa dan mengambil keputusan anti-Iran, akan tetapi konferensi ini tidak membuahkan hasil apapun dan semuanya menunjukkan kelemahan, dan saat lemah musuh akan marah, lalu mulai menciptakan kontroversi dan mencaci maki.

Menurut Ayatullah Khamenei, konferensi Warsawa dan kerja sama negara-negara yang secara lahir Muslim, dengan rezim Zionis Israel dan bersekutu dengan Amerika, telah menghilangkan kehormatan mereka sendiri. "Orang-orang ini sama sekali tidak punya harga diri di hadapan rakyatnya," tegasnya.

Rahbar juga menasihati para pejabat pemerintah Iran bahwa perilaku dan langkah Barat nyata-nyata adalah tipu daya. "Nasib Amerika sudah jelas, karena sudah menyarungkan kembali pedangnya, namun kita harus mewaspadai negara-negara Eropa, pasalnya mereka juga menipu," ujarnya.

Ia menegaskan, di masa ketika revolusi masih berupa tunas yang lemah, semua musuh bersatu, namun tidak bisa melakukan apapun, oleh karena itu sekarang ketika tunas itu sudah berubah menjadi pohon yang kokoh, mereka sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.

Latihan Angkatan Laut Militer Iran dengan sandi Velayat-97.

AL Iran Lakukan Latihan Militer Besar-besaran

Komandan Angkatan Laut Militer Iran, Laksamana Hossein Khanzadi mengatakan, latihan besar-besaran Velayat-97 pasukan angkatan laut militer Iran akan dimulai pada hari Jumat (22/2/2019).

"Ini bertujuan untuk melawan segala jenis ancaman dan pengumuman kesiapan kepada negara-negara tetangga untuk mencapai keamanan kolektif," tambahnya dalam konferensi pers di Bandar Abba, selatan Iran, seperti dikutip kantor berita IRIB, Kamis.

"Latihan Velayat-97 akan digelar selama tiga hari dan di zona seluas sekitar dua juta kilometer mulai dari wilayah Selat Hormuz, Pantai Makran, Laut Oman sampai utara Samudera Hindia. Kegiatan ini akan dimulai dengan parade maritim di pantai kota Jask, Provinsi Hormozgan," jelas Laksamana Khanzadi.

Kegiatan ini, lanjutnya, akan diselenggarakan dalam empat tahap dan seluruh peralatan utama senjata akan dilibatkan. "Di antara tujuan latihan ini adalah mengatasi ancaman, uji coba berbagai jenis senjata, evaluasi kesiapan peralatan, peningkatan skill personel, evaluasi tanggung jawab personel dalam menjamin keamanan wilayah maritim, serta pengumuman kesiapan kepada tetangga untuk mencapai keamanan kolektif," ungkapnya.

Laksamana Khanzadi menuturkan bahwa operasi pendaratan dan lepas landas helikopter anti-kapal selam juga dilakukan dari geladak kapal perang Sahand selama kegiatan berlangsung. "Kapal selam Fateh untuk pertama kalinya akan dilibatkan dalam latihan Velayat-97," pungkasnya.

Kapal Selam Fateh buatan dalam negeri resmi bergabung dengan Armada Angkatan Laut Militer Republik Islam Iran, yang menandai peringatan Kemenangan Revolusi Islam ke-40.

Presiden Hassan Rouhani, Menteri Pertahanan Brigadir Jenderal Amir Hatami dan Panglima AL Militer Laksamana Hossein Khanzadi menghadiri peluncuran Fateh di selatan pelabuhan Bandar Lengeh pada 17 Februari 2019.

Fateh adalah kapal selam pertama semi berat Iran yang dilengkapi dengan sistem sonar, penggerak listrik, manajemen pertempuran gabungan, rudal permukaan ke permukaan, torpedo, peperangan elektronika dan telekomunikasi dengan sistem telekomunikasi yang aman dan terintegrasi, serta lusinan sistem modern yang canggih.

Ketua Parlemen Iran, Ali Larijani juga bertemu Presiden Cina Xi Jinping selama kunjungannya ke Beijing.

Iran Siap Perluas Hubungan dengan Cina

Ketua Parlemen Iran, Ali Larijani menekankan bahwa Republik Islam siap untuk memperkuat hubungan dengan Cina di berbagai bidang. Dia menyampaikan hal itu dalam pertemuan dengan Ketua Kongres Rakyat Cina, Li Zhanshu di Beijing pada hari Selasa (19/2/2019).

Larijani mencatat bahwa hubungan kedua negara dan bangsa Iran-Cina selalu dilandasi oleh persahabatan. "Kunjungan ini bertujuan untuk memperluas kerja sama kedua negara dan Iran siap untuk memperkuat hubungan di berbagai bidang dengan Cina," ujarnya.

Sementara itu, ketua Kongres Rakyat Cina mengatakan hubungan antara Cina dan Iran telah terjalin sejak lebih dari 2.000 tahun yang lalu, dan tidak pernah ada konflik dalam sejarah hubungan mereka.

Li menuturkan bahwa kunjungan presiden Cina ke Iran merupakan titik balik dalam hubungan bilateral dan bukti atas tekad kedua pihak untuk membangun kerja sama jangka panjang. Menurutnya, kunjungan ketua parlemen Iran membawa pesan yang jelas untuk kerja sama jangka panjang.

Mayor Jenderal Qassem Soleimani.

Komandan Divisi al-Quds Peringatkan Pakistan

Komandan Divisi Quds Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Mayor Jenderal Qassem Soleimani memperingatkan Pakistan terhadap niat sebenarnya di balik penggelontoran miliaran dolar dari Arab Saudi ke dalam perekonomiannya yang bermasalah, dan mengatakan, rezim Riyadh setelah memecah belah negara-negara Asia dengan cara mengadu domba, kini menarget negara-negara tetangganya.

Hal itu disampaikan Soleimani dalam pernyataannya pada hari Kamis (21/2/2019). Dia menegaskan, Iran akan membalas darah para syuhada IRGC yang gugur dalam serangan berdarah pekan lalu oleh kelompok teroris yang berbasis di Pakistan.

Soleimani menambahkan, ini mengkhawatirkan Iran bahwa negara dan pemerintah Pakistan membiarkan uang Arab Saudi mengalir ke tangan kelompok-kelompok teroris Takfiri. "Kelompok teroris yang disponsori Arab Saudi di Pakistan menyebabkan masalah bagi semua negara tetangganya, dan Islamabad sepenuhnya harus menyadari masalah ini," ujarnya.

Komandan al-Quds menuturkan, "Kami telah menyampaikan kepada para pejabat Islamabad bahwa mereka seharusnya tidak mengizinkan Arab Saudi menghancurkan negara mereka sendiri dengan uangnya dan Pakistan tidak boleh berubah menjadi basis untuk mengganggu negara-negara kawasan seperti Iran, India, dan Afghanistan."

"Republik Islam Iran tidak ingin belasungkawa belaka, tetapi juga tindakan konkret dari negara tetangga Pakistan. Tidak bisakah Anda, sebagai negara bersenjata nuklir, berurusan dengan ratusan kelompok teroris kuat di wilayah itu?" sindirnya. (RM)