AS Tinjauan dari Dalam, 26 Oktober 2019
https://parstoday.ir/id/news/other-i75052-as_tinjauan_dari_dalam_26_oktober_2019
Transformasi Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya, lawatan mendadak menteri pertahanan AS ke Afghanistan.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Okt 26, 2019 06:43 Asia/Jakarta
  • Ilustrasi tentara Amerika di Afghanistan.
    Ilustrasi tentara Amerika di Afghanistan.

Transformasi Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya, lawatan mendadak menteri pertahanan AS ke Afghanistan.

Selain itu, ada isu lainnya seperti, AS menekan Twitter untuk menghapus akun Hizbullah dan Hamas, AS menggelar manuver militer multinasional di Teluk Persia, dan terakhir AS masih menempatkan sejumlah tentaranya di Suriah Utara.

Lawatan Mendadak Menhan AS ke Afghanistan

Presiden AS Donald Trump telah berjanji selama kampanye pemilunya untuk menarik pasukan AS dari Afghanistan, tetapi prosesnya terhambat dan ia gagal memenuhi janjinya. Masalah ini ditindaklanjuti dengan lawatan terbaru pejabat tinggi militer AS ke Afghanistan.

Menteri Pertahanan AS Mark Esper setibanya di Kabul, Minggu (20/10/2019) mengatakan, "Tujuan lawatan ini untuk mencapai kesepakatan damai, karena kesepakatan politik sebagai cara terbaik untuk melangkah maju."

Esper mengungkapkan bahwa AS bisa mengurangi jumlah pasukannya di Afghanistan menjadi 8600 tanpa mempengaruhi misi perang melawan terorisme di negara itu. Namun,  penarikan pasukan AS ini hanya akan terjadi jika tercapai kesepakatan dengan Taliban yang menjadi bagian dari perjanjian dengan milisi Afghanistan ini. Tetapi Taliban selalu bersikeras mengenai penarikan total pasukan asing dari negaranya. AS saat ini menempatkan 14.000 tentaranya di Afghanistan.

Beberapa pekan lalu, Menhan AS juga mengklaim upaya mencapai kesepakatan politik dengan Taliban tidak berarti AS akan menerima segala bentuk perjanjian dengan Taliban. Esper menegaskan, "Kami ingin memastikan bisa meraih kesepakatan yang ideal."

Rangkaian kegagalan AS di Afghanistan menyebabkan pemerintahan Trump selama beberapa tahun terakhir berupaya mengadakan pembicaraan langsung dengan Taliban di Qatar untuk membahas pembagian kekuasaan di Afghanistan dan pengurangan jumlah pasukan AS di negara Asia selatan ini.

Pernyataan menhan AS tentang pengurangan pasukannya di Afghanistan jika terjadi kesepakatan dengan Taliban, hal ini tidak berarti penarikan penuh tentara militer AS. Sebab, Trump mengatakan bahwa kehadiran pasukan AS di Afghanistan tidak akan berakhir, bahkan jika tercapai kesepakatan dengan Taliban.

AS Tekan Twitter untuk Hapus Akun Hizbullah dan Hamas

AS kembali melancarkan perang psikologis terhadap kelompok perlawanan di Lebanon dan Palestina, dan kali ini menekan Twitter untuk menghapus akun milik Hizbullah dan Hamas.

Seperti dilaporkan media al-Ahed Lebanon, Kamis (24/10/2019), para anggota legislatif dari Demokrat dan Republik di Washington meminta Twitter untuk menghapus seluruh informasi yang berhubungan dengan Hizbullah Lebanon dan Gerakan Hamas Palestina.

Twitter sebelum ini juga telah menghapus akun milik media al-Ahed Lebanon.

Mereka memberikan waktu kepada Direktur Eksekutif Twitter Jack Dorsey sampai 1 November untuk menghapus semua informasi yang berhubungan dengan Hizbullah dan Hamas.

Bulan lalu, tiga anggota legislatif AS juga mengirim surat kepada CEO Google, Twitter dan Facebook untuk meminta mereka menyetujui pembatasan terhadap akun organisasi-organisasi yang diklaim sebagai kelompok teroris.

Twitter dan Facebook baru-baru ini dilaporkan menjalin kerja sama dengan Dinas Intelijen Pusat AS (CIA).

AS Gelar Manuver Militer Multinasional di Teluk Persia

Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat di Asia Barat mengabarkan penyelenggaraan manuver militer besar yang diikuti sejumlah negara di Teluk Persia, Laut Oman, Laut Merah dan Teluk Aden.

Laman Fars News (22/10/2019) melaporkan, latihan militer maritim Amerika, International Maritime Exercise 2019 (IMX 19) yang diikuti oleh 50 negara dan tujuh organisasi internasional itu dimulai hari Senin (21/10/2019).

Sebagaimana dilaporkan United Press International (UPI), manuver militer semacam ini sudah keenam kalinya digelar sejak tahun 2017. Sebelumnya, AL Amerika juga menggelar latihan militer maritim bersama dengan Inggris dan Perancis di pesisir pantai Bahrain.

Juru bicara Armada Kelima AL Amerika mengatakan, manuver militer maritim 2019 digelar untuk menjalankan operasi penjinakan ranjau demi menjamin keamanan pelayaran kapal-kapal di Teluk Persia.

Latihan militer yang dipusatkan di Teluk Persia, Laut Oman, Teluk Aden dan Laut Merah itu meliputi operasi udara, laut, latihan mengatasi ranjau di permukaan laut dan latihan melindungi pelabuhan dengan kapal selam tanpa awak. Manuver militer ini rencananya akan ditutup pada 12 November 2019 mendatang.

Tentara Amerika di Suriah.

AS Masih Menempatkan Sejumlah Tentaranya di Suriah Utara

Meski ada berita penarikan pasukan Amerika dari wilayah Suriah Utara, Menteri Pertahanan AS Mark Esper membenarkan jika sejumlah tentara berpotensi untuk tetap ditempatkan di wilayah itu.

Menurut laporan Reuters, Mark Esper Senin (21/10/2019) mengklaim bahwa tujuan dari mempertahankan 200 pasukan Amerika di sebagian wilayah Suriah Utara di dekat ladang minyak yang dikuasai Pasukan Demokratik Suriah (SDF) adalah untuk menjamin ladang minyak ini tidak jatuh ke tangan Daesh atau kelompok teroris lainnya.

"Namun begitu penarikan pasukan Amerika dari Suriah akan tetap dilanjutkan," papar Esper.

Selama beberapa hari terakhir banyak desas-desus beredar mengenai dimulainya proses penarikan pasukan Amerika dari Suriah dan relokasi mereka ke negara seperti Irak dan Yordania.

Di sisi lain, Lindsey Graham, senator Republik yang memiliki hubungan dekat dengan Donald Trump, mengkonfirmasi kesepakatan rahasia Washington dengan milisi Kurdi untuk menguasai ladang minyak Suriah.

Ketika Trump selama dua pekan lalu mengatakan akan menarik total pasukan Amerika dari Suriah Utara, koran The New York Times mengutip sumber terpercaya melaporkan bahwa Washington kini memutushkan untuk tetap menempatkan 500 tentaranya di wilayah tersebut.

Trump mengindikasikan keinginannya untuk “melindungi” ladang minyak itu. “Kami tidak akan pernah membiarkan Daesh menguasai bidang-bidang itu," katanya. (RM)