Dinamika Asia Tenggara, 28 Desember 2019
-
PM Malaysia, Mahathir Mohamad
Dinamika Asia Tenggara sepekan terakhir menyoroti sejumlah isu di antaranya mengenai prakarsa emas dijadikan sebagai alat tukar dunia Islam yang disampaikan Perdana Menteri Malaysia.
Selain itu, mengenai isu Muslim Uighur, penyelamatan WNI yang disandera Abu Sayyaf terus berlanjut, selama setahun terjadi 30 kasus pembajakan di Selat Singapura, dan badai topan menghantam Filipina tengah.
Mahathir: Negara Muslim Bisa Jadikan Emas Sebagai Alat Tukar
Sejumlah negara Muslim seperti Iran, Malaysia, Turki dan Qatar sedang mempertimbangkan untuk membuka jalur perdagangan sendiri menggunakan emas.
Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, menjelaskan bahwa perdagangan akan menggunakan skema barter sebagai salah satu langkah lindung nilai atau hedging.
Mahathir mengungkapkan hal ini perlu dilakukan karena negara-negara Muslim harus mandiri dalam menghadapi ancaman perekonomian di masa depan.
"Kita melihat negara-negara yang membuat keputusan sendiri untuk hukuman seperti itu (tarif). Malaysia dan negara lain juga harus selalu ingat, hal itu bisa terjadi pada kita," kata Mahatir seperti dilansir laman Detiknews, Senin (23/12/2019).
Sekadar informasi, negara-negara Arab yang bersekutu dengan Amerika Serikat (AS) yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir melakukan pemutusan hubungan diplomatik dan hubungan dagang dengan Qatar sejak dua tahun lalu. Qatar dituduh mendukung kegiatan terorisme.
Kemudian Iran menjadi negara berikutnya yang diberikan sanksi oleh AS.
"Saya menyarankan agar kita menimbang kembali perdagangan menggunakan dinar emas dan barter di antara kita," ujar Mahathir.
Dia mengaku serius untuk menjalankan misi perdagangan ini dan bisa segera menemukan mekanisme untuk menerapkan dalam waktu cepat.
PM Malaysia: Pengungsi Uighur Tidak akan Diekstradisi
Perdana Menteri Malaysia mengaku tidak akan mengeluarkan para pengungsi Uighur dari negaranya, meski ia menegaskan tak akan mencampuri urusan dalam negeri Cina soal Uighur.
Kantor berita Anadolu, Turki (27/12/2019) melaporkan, Mahathir Mohamad, Jumat (27/12) saat ditanya tentang masalah Muslim Uighur yang tinggal di wilayah otonomi Xinjiang, Cina mengatakan, jika Uighur melarikan diri ke Malaysia untuk mencari suaka, Malaysia tidak akan mengekstradisi mereka bahkan jika ada pengajuan dari Cina.
PM Malaysia menegaskan sikap negaranya untuk tidak mencampuri urusan internal Cina dan menuturkan, ada penindasan terhadap umat Islam di seluruh dunia, dan hal ini harus diakui semua pihak.
Mahathir Mohamad menambahkan, Malaysia akan menerima Muslim Uighur atau mengirim mereka ke negara ketiga. Pada saat yang sama ia menjelaskan bahwa kebijakan luar negeri Malaysia tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain.
Penyelamatan WNI Sandera Abu Sayyaf Berlanjut
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia Mahfud MD mengatakan operasi penyelamatan masih berlanjut untuk menyelamatkan satu warga negara Indonesia (WNI) yang masih disandera oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina.
Seorang pejabat militer Filipina mengungkapkan bahwa serangan ke markas militan selama 30 menit di pegunungan Panamao di Pulau Selatan Jolo itu menewaskan dua orang, yaitu tentara dan anggota kelompok tersebut.
Selama baku tembak, kedua korban (Indonesia) berhasil melarikan diri dan kami bisa menyelamatkan mereka," kata Komandan Militer Letnan Jenderal Cirilito Sobejana kepada AFP.
Sobejana mengatakan bahwa operasi militer masih berlangsung untuk menyelamatkan tawanan Indonesia lainnya.
"Dia bisa saja melarikan atau masih ditahan oleh kelompok tersebut, jadi kami akan melakukan operasi militer lagi," katanya.
Sebanyak tiga pelaut Indonesia, yakni Saimun, Maharuddin, dan Farhan, diculik oleh Abu Sayyaf pada September di perairan Malaysia di dekat ujung selatan Mindanao, Filipina. Dua pelaut sudah dibebaskan Pasukan Filipina pada Minggu (22/12).
Operasi penyelamatan ini terjadi sebulan setelah seorang pria Inggris dan istrinya dibebaskan oleh pasukan Filipina. Mereka sempat diancam akan dipancung oleh kelompok tersebut jika tak diberi uang tebusan.
Sebelumnya, pada Mei lalu, pengamat burung Belanda Ewold Horn dibunuh oleh para penculiknya ketika dia mencoba melarikan diri selama operasi penyelamatan. Sebelumnya dia sempat ditahan selama tujuh tahun.
Setahun, Terjadi 30 Kasus Pembajakan di Selat Singapura
Aksi perompak yang gagal kemarin menambah jumlah insiden pembajakan kapal laut di selat Singapura menjadi 30 kasus dalam setahun terakhir.
Sebanyak enam perompak gagal melakukan aksinya yang menyusup ke sebuah kapal tanker berlayar di Selat Singapura pada Rabu (25/12).
Mereka dilaporkan bersembunyi di ruang mesin kapal tanker yang tengah menuju pelabuhan Singapura, tapi kepala divisi mesin kapal melihat para perompak dan langsung memberi tahu kapten dan sistem peringatan kapalpun diaktifkan.
Kapten kapal melaporkan kejadian itu melalui Sistem Informasi Lalu Lintas Kapal Singapura. Sesampainya kapal tanker itu di Singapura, petugas kepolisian langsung menaiki kapal.
Sebelumnya, The Straits Times melaporkan terjadi serangan pada Senin (23/12/2019). Dua kapal pengangkut dan tanker yang tengah melintas Selat Singapura diserang perompak tengah malam.
Pada 20 Desember 2019 lalu, juga terjadi tiga serangan terpisah di Selat Singapura.
"Dari tiga kapal yang sempat ditumpangi perompak, dua kapal pengangkut dan satu tanker. Karena kedekatan insiden itu, diduga pelakunya dari kelompok perompak yang juga beraksi pada 20 Desember," kata Pusat Informasi ReCAAP.
Media Singapura melaporkan, kelima serangan dilancarkan oleh kelompok yang sama. ReCAAP mengimbau para penanggung jawab kapal untuk meningkatkan kesiagaan dan berlatih menghadapi situasi semacam ini.
Kejadian terbaru hari Rabu menjadikan total insiden pembajakan sepanjang 2019 di Selat Singapura menjadi 30 kasus.
Dari total insiden tersebut, 15 kejadian melibatkan kapal di jalur barat Selat Singapura, dan sisanya di jalur timur Selat Singapura.
Badai Topan Hantam Filipina Tengah
Badai topan kembali menerjang Filipina sejak kemarin di tengah suasana perayaan masa liburan Natal hingga pergantian tahun.
Topan Phanfone pertama kali menerjang Pulau Samar pada Selasa sore waktu setempat dengan kecepatan 150 kilometer per jam kemudian menyasar berbagai daerah di wilayah tengah Filipina. Akibatnya sejumlah pohon tumbang dan memutus kabel listrik serta merusak menara pancar sinyal seluler.
Sekitar 1,700 penduduk yang bermukim di wilayah pesisir dan kawasan yang terancam banjir dan tanah longsor dievakuasi. Namun, sejumlah keluarga memutuskan tetap tinggal untuk bisa merayakan Natal di rumah mereka.
Pada pekan awal Desember, topan Kammuri menghantam Filipina, yang menyebabkan sekitar 200.000 orang dievakuasi dan bandara internasional Ninoy Aquino sempat ditutup selama beberapa jam.
Dihantam oleh sekitar 20 topan setiap tahun menjadikan Filipina termasuk salah satu negara paling rawan bencana. (PH)