Mengapa Rezim Zionis Menyerang Wilayah Selatan Lebanon ?
Media Palestina pada Kamis pagi melaporkan jet-jet tempur Israel menyerang sejumlah wilayah di perbatasan Lebanon.
Rezim Zionis saat ini berada di ambang kejahatan baru yang dimulai sejak April lalu terhadap Palestina. Sejak April, kekejaman rezim terhadap warga Palestina telah meningkat dalam bentuk penyitaan tanah dan rumah di wilayah Al Quds dan Tepi Barat, yang memuncak pada perang 12 hari di bulan Mei. Terlepas dari jumlah korban jiwa dan kerusakan material di Jalur Gaza, perang ini menyebabkan kegagalan bagi Israel.
Di akhir perang, Netanyahu yang menjabat sebagai perdana menteri rezim Zionis selama 12 tahun, akhirnya diganti oleh Naftali Bennett dan Yair Lapid. Meskipun demikian, periode ini tampaknya merupakan kelanjutan dari kebijakan luar negeri Netanyahu. Indikasinya terlihat dari eskalasi kekerasan terhadap Palestina, perang psikologis dan verbal terhadap Republik Islam Iran, dan Hizbullah di Lebanon.
Kini, dalam langkah barunya, rezim Israel menyerang wilayah selatan Lebanon. Menanggapi serangan itu, Presiden Lebanon Michel Aoun mengatakan Israel telah menggunakan serangan udara terhadap desa-desa Lebanon untuk pertama kalinya sejak 2006. Lalu, apa penyebab serangan ini?
Israel mengklaim serangan tersebut sebagai tanggapan terhadap penembakkan roket dari arah Lebanon. Juru bicara militer rezim Zionis mengkonfirmasi serangan itu dengan mengatakan bahwa angkatan udara Israel membalas serangan roket dengan menyerang sejumlah posisi di selatan Lebanon.
Tampaknya, motif utama Israel dalam serangan ini untuk memanfaatkan kerentanan di dalam negeri Lebanon demi memukul Hizbullah. Pada Kamis pagi, terjadi serangan jet tempur Israel terhadap daerah-daerah di wilayah selatan Lebanon. Serangan ini pertama kali terjadi sejak peristiwa ledakan besar 4 Agustus 2020 di pelabuhan Beirut. Ketika terjadi ledakan di pelabuhan Beirut tahun lalu, media Saudi dan Israel langsung menuding Hizbullah dan mencoba memprovokasi berbagai arus domestik Lebanon supaya menyingkirkan Hizbullah dari arena politik negara Arab ini.
Israel berupaya mengail di air keruh politik Lebanon pada peringatan setahun ledakan besar Beirut dengan menebar sentimen miring terhadap Hizbullah dan Sayid Hassan Nasrullah serta Republik Islam Iran.
Rezim Zionis memandang saat ini sebagai momentum yang tepat untuk menyerang wilayah selatan Lebanon. Analis militer Israel Tal Lev Ram mengatakan, "Dinas keamanan Israel percaya bahwa Hizbullah tidak ada hubungannya dengan penembakkan roket dari Lebanon ke utara Israel, dan tidak memberikan lampu hijau kepada kelompok lain untuk melakukannya. Oleh karena itu, Hizbullah tidak menjadi sasaran. Serangan Israel hanyalah pesan peringatan, dan target yang mereka bidik tidak ada nilainya,".
Selain itu, penyerangan yang dilancarkan jet tempur rezim Zionis ke daerah pedesaan di selatan Lebanon jelas melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB no.1701 tahun 2006, yang menyerukan diakhirinya semua serangan di Lebanon.
Lebanon juga menyampaikan protes kepada Dewan Keamanan PBB mengenai serangan terbaru Israel. Bahkan, Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab telah mengeluarkan pernyataan yang menekankan bahwa agresi baru dan berbahaya ini merupakan ancaman besar bagi perdamaian di perbatasan selatan Lebanon. Selain melakukan serangkaian agresi terhadap Lebanon yang mengancam kedaulatan nasional negara ini, Israel juga menggunakan wilayah udara Lebanon untuk menyerang Suriah.
Sikap pasif PBB yang terus berlanjut atas kejahatan Israel terhadap Lebanon akan memiliki konsekuensi berbahaya bagi kawasan Asia Barat dan menciptakan babak baru perang dan kekerasan di kawasan tersebut.(PH)