Militer Israel Lakukan Kekerasan Seksual terhadap Aktivis Sumud
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i189656-militer_israel_lakukan_kekerasan_seksual_terhadap_aktivis_sumud
Pars Today - Di tengah berlanjutnya ketegangan seputar blokade Gaza dan kampanye internasional untuk menembusnya, Armada Global Al-Sumud merilis kesaksian dari para aktivis yang telah dibebaskan, menuduh angkatan bersenjata rezim Zionis melakukan kekerasan fisik dan seksual terorganisir terhadap peserta konvoi ini. Tuduhan yang menurut konvoi tersebut merupakan bagian dari kebijakan intimidasi dan penghinaan terhadap para pendukung Palestina.
(last modified 2026-05-08T07:55:06+00:00 )
May 08, 2026 14:53 Asia/Jakarta
  • Armada Global Sumud
    Armada Global Sumud

Pars Today - Di tengah berlanjutnya ketegangan seputar blokade Gaza dan kampanye internasional untuk menembusnya, Armada Global Al-Sumud merilis kesaksian dari para aktivis yang telah dibebaskan, menuduh angkatan bersenjata rezim Zionis melakukan kekerasan fisik dan seksual terorganisir terhadap peserta konvoi ini. Tuduhan yang menurut konvoi tersebut merupakan bagian dari kebijakan intimidasi dan penghinaan terhadap para pendukung Palestina.

Dilansir IRNA Jumat mengutip situs Russia Today, 8 Mei 2026, Armada Global Al-Sumud mengumumkan bahwa pasukan rezim Zionis telah melakukan "serangan dan pelecehan seksual" terhadap sejumlah aktivis dalam konvoi ini, usai menahan konvoi tersebut di perairan internasional saat sedang menjalankan misi pengiriman bantuan ke Gaza.

Dalam pernyataannya, konvoi ini mengungkapkan telah menerima "kesaksian awal dan langsung" yang menurut mereka menunjukkan "pola sistematis kekerasan fisik, seksual, dan penghinaan yang disengaja" terhadap para peserta.

Berdasarkan pernyataan tersebut, kesaksian-kesaksian ini dikumpulkan setelah 179 anggota konvoi dibebaskan dan diserahkan kepada otoritas Yunani.

Menurut laporan ini, kesaksian tersebut mengindikasikan bahwa kekerasan fisik dan seksual digunakan sebagai "alat terorganisir untuk intimidasi dan kontrol".

Pernyataan konvoi menyebutkan bahwa para aktivis yang dibebaskan menuturkan adanya "sistem perampasan yang diperhitungkan" untuk mematahkan semangat para tahanan.

Menurut mereka, tindakan-tindakan ini dilaksanakan dalam tiga poros utama: pertama, membanjiri bagian luar kontainer tempat para tahanan ditahan, sehingga mereka yang terpaksa tidur di area terbuka mengalami tekanan fisik berat. Kedua, penyitaan sengaja terhadap pakaian hangat, sepatu, kaus kaki, serta pembatasan akses terhadap makanan, air, dan perlengkapan tidur. Ketiga, "kelalaian medis" yang menurut Armada Sumud menyebabkan sejumlah peserta mengalami heatstroke atau penurunan suhu tubuh drastis.

Pernyataan ini melanjutkan bahwa para aktivis juga melaporkan adanya "pemeriksaan yang merendahkan dan agresif" serta "serangan dan kekerasan fisik serta seksual" terhadap perempuan maupun laki-laki.

Menurut laporan ini, setidaknya empat peserta menjadi target kekerasan seksual oleh tentara Israel.

Armada Global Sumud menegaskan bahwa kasus-kasus ini bukan "insiden individu yang tersebar", melainkan bagian dari "pola sistematis dehumanisasi terhadap aktivis pendukung rakyat Palestina".

Konvoi ini juga menyatakan bahwa laporan-laporan terkait pelanggaran ini mencerminkan realitas yang lebih luas dan terdokumentasi mengenai perlakuan terhadap tahanan dalam kerangka sistem hukum dan militer rezim Zionis saat ini.

Dalam bagian lain pernyataan tersebut, disebutkan bahwa "Abu Kiszk" dan "Afila", dua aktivis armada, masih ditahan dan terus melakukan mogok makan sebagai protes atas penahanan serta perlakuan yang mereka alami.

Berdasarkan informasi dari otoritas Armada Global Sumud, kapal-kapal ini membawa 345 peserta dari 39 negara.

Otoritas ini menambahkan bahwa angkatan bersenjata rezim Israel menahan 21 kapal dalam serangan ini, sementara 17 kapal berhasil memasuki perairan teritorial Yunani, dan 14 kapal lainnya melanjutkan perjalanan menuju perairan tersebut.

Ini merupakan inisiatif kedua Armada Global Sumud setelah upaya September 2025 yang berakhir dengan serangan rezim Zionis terhadap kapal-kapal tersebut di perairan internasional pada Oktober tahun yang sama, saat konvoi sedang dalam perjalanan. Ratusan aktivis internasional dalam konvoi ini ditangkap sebelum akhirnya dideportasi.

Rezim Zionis telah memblokade Jalur Gaza sejak 2007. Sekitar 1,5 juta warga Palestina dari total populasi 2,4 juta telah mengungsi pasca-perang dua tahun yang dimulai pada 7 Oktober 2023. Perang ini menghancurkan rumah-rumah mereka dan mengakibatkan lebih dari 72 ribu syahid serta lebih dari 172 ribu luka-luka.(Sail)